Pengambilan arsip induk itu berjalan di siang biasa, dengan kunci salinan dari Yopi di tangan dan tiga orang yang masuk ke rumah duka Kasih Abadi dengan cara yang paling tidak mencurigakan di dunia: sebagai petugas pemakaman.
Baringin yang merancangnya dengan disiplin yang sudah menjadi cara mereka bekerja sejak malam dua titik itu: bukan dengan geledah — geledah berarti lonceng berbunyi, dan lonceng yang berbunyi berarti Sutedja membaca sebelum gudang itu dibuka — melainkan dengan satu surat inspeksi sanitasi yang berdiri di atas kaki yang benar, dengan dua petugas berpakaian petugas pemakaman yang datang untuk memeriksa tempat penyiapan jenazah di jam kerja yang biasa, dan satu Mursid di antara mereka dengan kunci salinan di sakunya dan dengan mata yang sudah lama membaca bangunan itu dari pembacaan Yopi.
Rumah duka Kasih Abadi berdiri dengan sopan seperti selalu di siang itu, dengan Pak Hartono yang kurus berkacamata di mejanya dan buku tamu yang berdiri di atasnya dengan nama-nama yang sebatang kara. Dan petugas inspeksi sanitasi itu berdiri di depannya dengan surat yang berdiri di atas kaki yang benar dan dengan kamera kecil yang sudah menjadi cara mereka mendokumentasikan sejak malam rantai penuh: setiap halaman, setiap tanda tangan, dengan tanggal yang tidak bisa dibantah.
Dan inspeksi itu berjalan di lantai satu lebih dulu, dengan cara yang sudah dilatih dua petugas itu semalam di kantor Baringin: kamera kecil yang bekerja, kertas catatan yang diisi, pertanyaan-pertanyaan yang berdiri di atas kaki yang benar tentang ventilasi dan pembuangan dan kamar penyiapan jenazah yang berdiri di belakang dengan bau formalin yang tidak pernah benar-benar hilang dari dindingnya.
Pak Hartono mengantar mereka dengan sopan yang sudah menjadi pekerjaannya, dengan langkah yang tidak pernah lebih cepat dari langkah tamunya, dengan jawaban-jawaban yang sudah disiapkannya untuk inspeksi-inspeksi yang biasa.
"Berapa jenazah yang disiapkan di sini tiap bulan, Pak?" tanya satu petugas, dengan pena yang bekerja.
"Tergantung bulannya, Pak. Kadang sepuluh, kadang lebih. Kami tidak pernah menolak yang datang." Pak Hartono menjawabnya dengan senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun. "Rumah duka yang baik tidak pernah bertanya terlalu banyak kepada yang datang. Itu cara kami bekerja."
Dan Mursid membacanya dari belakang dua petugas itu dengan kunci salinan di sakunya yang beratnya lebih berat dari berat kunci mana pun yang pernah dibawanya: rumah duka yang tidak pernah bertanya terlalu banyak kepada yang datang — dan di bawah lantainya, pembukuan yang tidak pernah bertanya terlalu banyak juga, dengan nama-nama yang datang dan tidak pernah pergi lagi.
Dan tangga ke bawah itu dibuka dengan kunci salinan yang tidak berbunyi di tangan Mursid, di jam istirahat yang sudah dibaca dari pembacaan Yopi, dengan dua petugas berdiri di atasnya dengan Pak Hartono yang tidak membaca apa-apa dari mejanya.
Dan gudang bawah tanah itu membuka dirinya seperti yang dibacanya dari pembacaan Yopi: rak-rak di tiga dinding dengan buku-buku besar yang berdiri dengan hormat yang salah, lampu yang tidak pernah dimatikan sepenuhnya, satu meja kecil di tengah untuk membaca — dan buku-buku besar induk itu berdiri berbaris di rak-raknya dengan sampul-sampul yang sudah aus dan halaman-halaman yang penuh bertahun-tahun, dengan pembukuan mesin itu yang merawat dirinya dengan cara yang lebih rapi dari pembukuan kantor resmi mana pun.
Dan Mursid berdiri di tengah gudang bawah tanah itu dengan kamera kecil di tangannya dan dengan satu perasaan yang tidak pernah ia baca dari tempat mana pun dalam dua puluh tahun kerjanya: bukan kemenangan — hormat yang salah untuk pembukuan yang salah, yang dirawat dengan tangan-tangan yang merawatnya dengan hormat yang salah juga. Buku-buku besar itu berdiri dengan tanggal-tanggal dari tahun-tahun pertama, dengan nama-nama yang berbaris dari tahun-tahun pertama, dengan kolom-kolom yang dibacanya dari halaman pertama yang dibukanya dengan tangan yang tidak berhenti bergerak: nama, tanggal, jenis, dan harga — harga per nama, per paket, per identitas yang dijual dari orang-orang yang tidak dicari kepada orang-orang yang membayar lima belas juta untuk menghilang.
Dua puluh tahun pembukuan, berdiri di rak-rak di tiga dinding, dengan hormat yang salah, dengan kunci yang disalin Yopi dengan tangan yang gemetar dua minggu sebelumnya — dan tidak ada satu pun dari pembukuan itu yang bisa dibantah dengan cara mesin menghapus, karena pembukuan itu ditulis oleh mesin itu sendiri dengan tangannya sendiri, dengan hormat yang salah, dengan tangan-tangan yang merawatnya seperti merawat karya yang tidak pernah dibayangkan akan dibaca dari dalamnya oleh orang yang datang dengan kunci yang benar.
Dan dua petugas itu mulai memotret dengan kamera-kamera kecil mereka dari sudut-sudut yang sudah dihitung, dan Mursid berdiri di meja kecil di tengah gudang itu dengan satu buku besar terbuka di depannya dan dengan halaman-halaman yang berjalan di bawah jarinya dengan nama-nama dari tahun-tahun yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: ribuan nama, dari tahun-tahun pertama, dengan harga-harga yang berdiri di sampingnya dengan cara yang lebih bersih dari pembukuan dagang mana pun.
Mesin itu tidak pernah sekecil yang dibayangkannya. Mesin itu sudah berdiri lebih lama dari yang dibayangkannya, dengan pembukuan yang lebih besar dari yang dibayangkannya, dengan hormat yang salah yang lebih dalam dari yang dibayangkannya — dan pembukuannya berdiri di rak-rak di tiga dinding gudang bawah tanah itu, dengan lampu yang tidak pernah dimatikan sepenuhnya, dengan satu peti kosong di sudutnya yang menunggu nama berikutnya dari mesin yang bekerja dengan kecepatan yang lebih cepat dari kecepatan mereka bekerja melawannya.
Dan peti kosong itu berdiri di sudutnya dengan papan kecil di atasnya, dan nama untuk korban berikutnya sudah tercetak di papan kecil itu dengan huruf yang rapi, dan Mursid membacanya dengan tangan yang berhenti di atas halaman buku besar itu: nama yang tidak dikenalinya, dari orang yang tidak dicarinya, yang akan dihapus dalam minggu-minggu ini dengan peti yang enteng dan tanah di TPU Pasir yang menimbunnya dengan sopan.
Dan peti itu tidak akan pernah terisi — itu satu-satunya janji yang bisa diberikannya kepada nama yang tidak dikenalinya di papan kecil itu, dan janji itu berdiri di atas kamera-kamera kecil yang bergerak di sudut-sudut gudang itu, dengan surat inspeksi yang berdiri di atasnya dengan kaki yang benar, dengan kunci yang disalin Yopi dengan tangan yang gemetar dua minggu sebelumnya.