Sutedja datang sendiri untuk membakar arsipnya, dan kedatangannya dibaca Mursid dari satu perubahan kecil yang berdiri di atas semua yang sudah dibacanya sejak gudang bawah tanah itu dibuka dengan kunci yang benar: lampu di gudang itu menyala lebih terang dari biasanya di malam yang tidak biasa, dan satu mobil yang dikenalinya dari sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu berdiri di belakang rumah duka dengan sopir yang tidak turun.
Sutedja Kusuma turun ke gudang bawah tanahnya dengan tangan yang membawa sesuatu yang tidak pernah dibawanya ke sana sebelumnya: botol kecil dengan cairan yang tidak pernah dibaca Mursid dari bentuknya, dan dengan satu cara berdiri yang dibacanya dari pembacaan-pembacaan insinyur yang sudah dibacanya dari bahan Linda — cara berdiri orang yang datang untuk memotong satu barang yang tidak bisa dipotongnya dari luar, dengan tangan yang membawa api untuk pembukuan yang dibangunnya dengan hormat yang salah selama dua puluh tahun.
Dan Mursid sudah berada di dalamnya sejak sore, dengan dua petugas Baringin di dua sudut yang tidak terbaca dari tangga, dengan kamera-kamera kecil yang masih berdiri di rak-rak dari sore pengambilan arsip dengan surat inspeksi — dan mereka membaca Sutedja turun ke gudang bawah tanahnya dengan botol kecil di tangannya dan dengan mata yang membaca rak-raknya dengan cara yang tidak pernah dibacanya sebelumnya: dengan mata orang yang datang untuk membakar karyanya sendiri supaya tidak dibaca orang lain.
Penantian sejak sore itu adalah penantian yang dibaca Mursid dari suara-suara di atasnya: langkah Pak Hartono yang pulang di jam yang biasa dengan pintu depan yang dikuncinya dari luar, lampu lantai satu yang mati satu per satu dengan suara saklar yang kecil dan pasti, dan keheningan rumah duka di malam hari yang berdiri lebih dalam dari keheningan tempat mana pun yang pernah ditungguinya — keheningan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak bertanya.
Dua petugas Baringin berdiri di dua sudutnya tanpa suara, dengan kesabaran yang sudah menjadi cara mereka sejak malam dua titik itu, dan Mursid berdiri di samping meja kecil di tengah gudang itu dengan rokok di sakunya yang tidak pernah dikeluarkannya — merokok di gudang bawah tanah orang lain adalah jejak, dan jejak adalah cara hantu mati untuk kedua kalinya.
Lalu suara mobil itu datang dari belakang rumah duka, dan lampu gudang menyala lebih terang dari biasanya, dan tangga itu berbunyi dengan langkah yang dikenalinya dari pembacaan-pembacaannya selama dua bulan menjadi hantu: langkah yang tidak pernah tergesa, langkah insinyur yang datang untuk memeriksa karyanya sendiri.
Dan dua pembaca manusia itu bertemu untuk pertama kalinya di antara rak-rak kematian itu, di gudang bawah tanah dengan lampu yang menyala lebih terang dari biasanya, dengan botol kecil di tangan Sutedja dan kamera kecil di tangan Mursid dan dua petugas Baringin di dua sudut yang tidak terbaca dari tangga.
Dan Sutedja memandang Mursid dari tangga itu dengan mata yang tidak berubah dari mata yang dibacanya di sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu — mata yang menilai, mata yang menghitung, mata insinyur yang membaca manusia dengan cara yang sama dengan cara Mursid membaca manusia — dan tidak ada satu pun dari keterkejutan di wajahnya yang terbaca. Hanya penilaian ulang, cepat dan dingin, dengan botol kecil yang tidak turun dari tangannya.
"Jadi kamu yang hantu itu," katanya, dengan suara yang tidak pernah naik dari suara gudang bawah tanah yang biasa. "Hantu yang membaca mesinku dari bawah toko dengan jaket kuli dan cara berdiri yang terlalu tenang untuk kuli serabutan. Aku membaca keberadaanmu sejak sore kau berdiri di tokoku dengan kertas di tanganmu dan cara berdiri yang salah untuk kuli — dan aku salah membaca dari mana datangnya, dan aku salah membaca dua kali sejak itu, dan dua salah baca itu berdiri untukmu di gudang bawah tanah ini dengan arsipku yang sudah difoto dengan kamera kecilmu dan surat inspeksi yang berdiri di atasnya dengan kaki yang benar."
Dan Mursid menjawabnya dengan cara yang sama tenangnya, dengan kamera kecil di tangannya dan dengan dua petugas Baringin di dua sudut yang berdiri lebih dekat dari yang dibaca Sutedja dari tangga itu:
"Dan kau datang untuk membakar pembukuanmu sendiri dengan botol kecil di tanganmu, dengan cara insinyur memotong satu barang yang tidak bisa dipotongnya dari luar. Tapi pembukuanmu sudah difoto, Sutedja Kusuma, dan surat inspeksi sudah berdiri di atas dengan kaki yang benar, dan kamera-kamera kecil itu sudah menyimpan pembukuanmu di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus dengan botol kecilmu. Api tidak bisa membakar apa yang sudah difoto dan disalin dan disimpan di tiga tempat yang tidak berdiri di gudang bawah tanah ini. Itu pelajaran dari kamera Pak Anjani yang hilang dua puluh dua tahun — dan pelajaran itu sudah kupelajari dengan harga yang sudah kubayar penuh: bukti tidak pernah tinggal di satu tempat lagi, dan api tidak pernah bisa membakarnya lagi."
Dan dua petugas Baringin berdiri lebih dekat dari dua sudut itu, dan Sutedja memandanginya dengan mata yang membaca kekalahannya dengan cara yang sama dinginnya dengan yang dibacanya keberhasilannya selama dua puluh tahun — dan botol kecil itu turun dari tangannya, pelan, dengan cara orang yang membaca bahwa apinya tidak pernah bisa membakar apa yang sudah difoto dan disalin dan disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus.
Dan percakapan itu dimulai di antara rak-rak kematian itu, di gudang bawah tanah dengan lampu yang menyala lebih terang dari biasanya, dengan dua pembaca manusia yang membaca satu sama lain dengan cara yang sama dan dua petugas Baringin yang berdiri lebih dekat dengan surat yang berdiri di tangan mereka — dan tangan yang membakar itu turun dari botol kecilnya, dan tidak pernah menyala di gudang bawah tanah itu malam itu.