Ratna menerima namanya kembali secara resmi di kantor dukcapil di sore yang dipilihnya dengan hati-hati, dan menerimanya dengan dua tangan yang memegang KTP barunya seperti memegang dirinya sendiri yang hilang bertahun-tahun — dan menangis di kantor itu dengan cara yang tidak berusaha ia sembunyikan, dengan Linda di sisinya yang membawanya dengan jalur administratif yang lambat dan sah, dengan petugas dukcapil yang membacanya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari saksi-saksi yang dipulihkan dengan jalur yang benar.
Dan nama itu berdiri di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar: Ratna, dengan foto yang asli di sisinya, dengan alamat yang asli di bawahnya, dengan tanggal penerbitan yang berdiri dengan kaki yang benar yang tidak bisa dihapus dengan cara yang salah lagi — dan Ratna memandanginya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuh namanya di kertas itu dengan jempolnya, dan berkata dengan suara yang lebih kecil dari bunyi kantor dukcapil yang biasa:
"Dua tahun aku menjadi orang lain, dan dua tahun itu aku menyimpan namaku di sudut kepalaku supaya aku tidak lupa siapa aku — dan setiap malam aku mengucapkannya sebelum tidur dengan doa kecil yang sama, supaya aku tidak lupa siapa aku. Dan sore ini aku memegang namaku kembali di atas kertas yang benar, dengan jalur yang benar, dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikannya tanpa dibayar untuk berdiri — dan aku tidak akan pernah lagi menjawab telepon untuk nama yang bukan namaku, dan aku tidak akan pernah lagi berdiri di kontrakan yang dibayar kurir dengan wajah yang bukan wajahku di KTP-nya. Dan aku akan memperjuangkan nama-nama lain yang masih disimpan di sudut-sudut kepalanya supaya mereka tidak lupa siapa mereka — dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dengan nama yang sudah kembali di atas kertasku sendiri, dengan jalan yang sudah kualani sendiri dari kontrakan yang dibayar kurir ke kantor dukcapil ini dengan namaku yang kembali."
Dan Mursid berdiri di belakang kantor dukcapil itu seperti berdiri di belakang setiap pemulihan yang dihadirinya — bukan di depan, karena pemulihan bukan panggung untuk orang yang mencari — dengan jaket lamanya dan dengan buku tulis di sakunya dan dengan mata yang membaca sore itu dengan cara yang tidak pernah dibacanya dari sore-sore lain dalam dua puluh tahun kerjanya.
Ia membaca antrean orang-orang biasa di bangku-bangku plastiknya, dengan berkas-berkas di pangkuan mereka dan wajah-wajah yang menunggu nomor dipanggil; ia membaca loket-loketnya dengan petugas-petugas yang bekerja dengan cara yang lambat dan sah; dan ia membaca Ratna di depan sana dengan KTP baru di dua tangannya — dan membandingkannya dengan perempuan yang pertama kali ditemuinya di kontrakan yang dibayar kurir, dengan nama orang lain di kertasnya dan mata yang sudah lama berhenti berharap pada kertas mana pun.
Ratna datang kepadanya sebelum pulang, dengan Linda di sisinya, dan mengulurkan KTP barunya untuk dibaca — bukan untuk diperiksa, untuk disaksikan.
"Baca, Bang. Baca pelan-pelan. Namaku, di atas kertas yang benar." Suaranya masih kecil, tapi tangannya tidak gemetar. "Dua tahun aku menjawab kalau dipanggil nama orang lain. Dua tahun aku ngetik namaku sendiri di kepala tiap malam supaya enggak lupa. Sekarang orang lain yang harus baca namaku dari kertas ini — dan kertas ini enggak bisa dihapus lagi, kan, Bang?"
"Enggak bisa," jawab Mursid. "Kertas yang berdiri dengan jalur yang benar enggak bisa dihapus dengan cara yang salah lagi. Itu satu-satunya hal yang kupelajari dari dua puluh tahun kerjaku dan dua bulan jadi hantu: kertas yang benar lebih kuat dari mesin mana pun — asal ada orang yang berdiri menjaganya."
Ratna mengangguk, dan menyimpan KTP barunya di dompetnya dengan dua tangan seperti menyimpan sesuatu yang pernah hilang dan tidak akan pernah dibiarkan hilang lagi, dan berkata satu hal terakhir sebelum berjalan ke pintu dengan Linda di sisinya:
"Besok aku mulai nyari yang lain, Bang. Yang masih nyimpen namanya di sudut kepalanya. Aku tahu rasanya — dan orang yang tahu rasanya enggak bisa diam saja."
Dan Linda berdiri di sisinya dengan air matanya sendiri yang tidak ia sembunyikan, dan berkata dengan suara yang lebih berat dari suaranya yang biasa:
"Dan kau akan membawa mereka pulang satu per satu dengan jalan yang sama dengan jalan yang membawamu pulang, dan kau akan menemui mereka dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya — dan mereka akan membaca darimu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari siapa pun yang tidak pernah menjadi orang lain di dalamnya: bahwa nama mereka masih berdiri di sudut kepalanya supaya mereka tidak lupa siapa mereka, dan jalan pulang itu berdiri dengan kaki yang benar, dan kaki yang benar itu berdiri dengan orang-orang yang memilih berdiri untuk mengembalikan nama-nama mereka tanpa dibayar untuk berdiri."
Dan Ratna mengangguk dengan KTP barunya di dua tangannya dan dengan mata yang sudah menjadi mata orang yang bekerja dan bukan mata korban yang diselamatkan — dan berdiri dari kantor dukcapil itu dengan namanya yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar, dengan Linda di sisinya yang membawanya dengan jalur administratif yang lambat dan sah, dengan satu sore yang dipilihnya dengan hati-hati dan dengan satu halaman yang akan ditulis Mursid di buku tulisnya dengan tangan yang hangat:
Nama untuk Ratna diterbitkan dengan kaki yang benar di kantor dukcapil sore ini, dan Ratna memegangnya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuh namanya di kertas itu dengan jempolnya — dan nama itu berdiri dengan cara yang tidak bisa dihapus dengan cara yang salah lagi, dengan jalur yang benar, dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikannya tanpa dibayar untuk berdiri. Dan satu orang lagi berdiri dengan namanya kembali di garis ini, dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dengan jalan yang sudah dilaluinya sendiri dari kontrakan yang dibayar kurir ke kantor dukcapil sore ini — dan jalan itu akan membawa mereka pulang satu per satu, dengan nama-nama mereka yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri, dengan cara yang tidak bisa dihapus dengan cara yang salah lagi.