Malam biasa itu datang di akhir minggu pertama kantor kecil di atas warung Bu Tarmi itu, dan datangnya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari malam-malam yang tidak biasa sejak malam Mursid menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah.
Mursid menutup kantor kecilnya di jam yang biasa, dengan buku tulis keduanya yang berdiri dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap, dengan satu order pertama yang dicatatnya dengan tangan yang lebih mantap juga — dengan satu ibu yang mencari anaknya yang hilang setelah ditipu penyalur kerja palsu, dengan satu kalimat yang menjadi tanda tangannya sejak malam pertama itu: kita cari sampai ketemu, Bu.
Dan ia membeli rokok untuk narasumber esok dengan uang tunai dari kantong yang sudah lama tidak setipis sejak malam ia menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dan memeriksa bensin motor bebeknya yang berdiri di garis E dengan cara yang sudah lama tidak berubah sejak malam-malam pertama itu, dan merasakan pinggangnya yang linu dengan cara yang sudah lama tidak berubah juga — dan menyadari bahwa linu itu sudah menjadi bagian dari dirinya yang ia terima, seperti semua bekas perang yang lain yang sudah lama ia terima dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Penutupan kantor kecil itu dikerjakannya dengan urutan yang sudah menjadi urutannya tanpa pernah ditulisnya di mana pun: buku tulis kedua dimasukkan ke tas kainnya bersama map kecil order pertama, lampu meja dimatikan lebih dulu dari lampu ruangan, jendela kecil ke gang diperiksa kaitnya dengan tangan yang membaca bunyi kliknya dengan benar, dan tangga kayu di samping warung dituruninya pelan-pelan dengan pinggang yang linu yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya. Dan di bawah, Bu Tarmi menyodorkan kopi terakhir tanpa ditanya — gratis untuk hantu yang lunas utangnya — dan mereka berdiri sebentar di depan warung dengan gang yang mulai sepi di sekitarnya, membaca malam yang biasa dengan cara orang-orang yang sudah lama membaca malam-malam yang tidak biasa.
"Order pertamamu itu ibu yang anaknya dibawa penyalur palsu?" tanya Bu Tarmi, dengan lap di bahunya dan dengan mata yang membaca jalanan dengan cara warung membaca jalanan.
"Iya. Besok aku mulai dari terminal. Rokok sudah kusiapkan buat narasumber — dua bungkus, satu buat yang mau ngomong, satu buat yang cuma mau didengar dulu."
"Bagus. Kerja yang bener itu kerja yang pelan di awalnya." Bu Tarmi mengangguk dengan cara yang sudah lama dibacanya dari perempuan yang menjawab tidak tahu dengan cara yang benar di malam-malam yang tidak biasa dulu. "Dan besok sarapan di sini sebelum ke terminal. Orang yang nyari orang enggak boleh nyari dengan perut kosong — nanti matanya baca yang enggak ada."
Dan dari warung itu ia berjalan ke kios rokok di ujung gang dengan lampu kecilnya yang berdengung, membeli dua bungkus dengan uang tunai dari kantong yang sudah lama tidak setipis itu, dan bertukar dua-tiga kalimat dengan penjaga kiosnya tentang harga cabai dan proyek tol yang debunya mulai turun lagi kalau angin sore — kalimat-kalimat biasa yang tidak membaca apa-apa, dan justru karena itu berharga, karena dua bulan menjadi hantu mengajarinya bahwa kalimat-kalimat biasa adalah barang mewah untuk orang yang namanya pernah dihapus dari kertasnya sendiri. Dan langit di atas gang itu berdiri dengan bintang-bintang yang kalah oleh lampu-lampu kota, seperti biasa, dan debu proyek tol berdiri tipis di atas segalanya, seperti biasa, dan dari kejauhan terdengar satu mesin mengerjakan sesuatu untuk jalan yang belum selesai — bunyi-bunyi biasa dari kota yang tidak pernah selesai dibangun, yang sudah lama menjadi bunyi malamnya. Dan di depan kamar tanpa namanya ia memeriksa motor bebeknya dengan cara yang sudah lama tidak berubah: bensin di garis E, cukup untuk terminal esok pagi dan kembali, dan satu sentuhan ke joknya yang sudah membentuk dirinya bertahun-tahun — kawan kerja yang paling setia dari semua yang pernah dipunyinya, yang tidak pernah bertanya dan tidak pernah membocorkan ke mana saja ia pergi di malam-malam yang tidak biasa itu.
Pinggang yang linu itu. Motor bebek dengan bensin di garis E itu. Rokok untuk narasumber esok itu. Dan satu malam biasa dengan kantor kecil yang berdiri di atas warung Bu Tarmi dengan satu papan kecil dengan huruf yang tidak terlalu rapi — dan malam biasa itu adalah malam yang sudah lama tidak ia bayangkan sejak malam ia menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dan malam biasa itu adalah malam yang tidak akan pernah ia tukar dengan malam-malam yang tidak biasa dari mesin-mesin yang dijatuhkannya dengan orang-orang yang berdiri bersamanya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis ulang perhitungan mana pun.
Dan ia menuliskannya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: malam biasa dengan kantor kecil yang berdiri di atas warung Bu Tarmi, dengan rokok untuk narasumber esok dan bensin di garis E dan pinggang yang linu yang sudah menjadi bagian dari diriku yang kuterima dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan malam biasa itu adalah malam yang tidak akan pernah kutukar dengan malam-malam yang tidak biasa dari mesin-mesin yang sudah kujatuhkan dengan orang-orang yang berdiri bersamaku — dan malam biasa itu adalah malam yang kubeli dengan dua bulan menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dengan satu mesin yang kujatuhkan dengan dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya, dengan satu buku tulis anak sekolah yang penuh dengan daftar orang yang dihapus yang berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar.