Ratna pulang ke kampungnya dengan nama dan cerita yang bisa diceritakannya dengan cara yang utuh, dan pulangnya adalah pulang yang sudah lama dibayarnya dengan dua tahun menjadi orang lain dengan nama yang bukan namanya di kontrakan yang dibayar kurir — dan ibunya memeluknya di pintu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Dan cerita yang bisa diceritakannya dengan cara yang utuh itu diceritakannya kepada ibunya di rumah kecil di kampungnya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun juga: dua tahun menjadi orang lain dengan nama yang bukan namanya, dengan doa kecil sebelum tidur supaya ia tidak lupa siapa dia, dan satu malam ia keluar dari mesin itu dengan namanya yang kembali dengan jalur yang benar dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikan namanya tanpa dibayar untuk berdiri. Dan ibunya mendengarnya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh wajahnya seperti memastikan ia benar-benar ada di sana, dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah dua tahun ia sembunyikannya dari tetangga-tetangganya yang menanyakan anaknya yang bekerja di luar negeri dengan kabar yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Kampung itu membacanya pulang dengan cara kampung membaca orang yang pulang: dengan tetangga-tetangga yang menanyakannya di jalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dua tahun disiapkan ibunya jawaban-jawaban yang salah untuknya — dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun menjadi orang lain dengan nama yang bukan namanya, Ratna menjawabnya dengan jawaban yang benar dengan kakinya sendiri:
"Aku pulang, Bu. Aku kerja di kota, dan sekarang aku pulang. Tidak ke mana-mana lagi."
Dan jawaban yang benar itu berjalan dari mulut ke mulut di kampung itu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun — lebih cepat dari kabar mana pun yang berjalan dengan kaki yang salah, dan lebih hangat. Dan ibunya berjalan di sisinya ke pasar di pagi-pagi berikutnya dengan satu tangan yang tidak pernah lepas dari lengannya, seperti orang yang memastikan kembali setiap lima langkah bahwa anaknya benar-benar ada di sana dengan napas yang benar dan bukan dengan kertas yang salah.
Di pasar itu ibunya memperkenalkannya kembali — kepada penjual sayur yang sudah berdiri di sudut yang sama bertahun-tahun, kepada penjahit yang dulu membuatkan baju seragam sekolahnya, kepada ibu-ibu yang memandanginya dengan mata yang membaca dua tahun yang hilang tanpa menanyakannya dengan cara yang salah:
"Ini anakku. Namanya Ratna. Dia sudah pulang."
Dan nama itu diucapkannya dengan cara yang sakral di pasar yang berisik itu — nama yang sudah dua tahun disimpan anaknya di sudut kepalanya dengan doa kecil sebelum tidur supaya ia tidak lupa siapa dia, diucapkan ibunya di ruang terang dengan cara yang benar, dengan kaki yang benar, tanpa ada yang bisa menghapusnya lagi dari kertas mana pun.
Dan di malam-malam pertama kepulangannya, di rumah kecil dengan lampu yang tidak pernah berubah sejak ia pergi dengan koper yang dibayar kontrak yang salah, Ratna dan ibunya duduk di lantai dengan kain-kain yang dijahit ibunya selama dua tahun untuk hari yang tidak pernah berani disebutkannya keras-keras — dan ibunya menceritakannya dengan suara yang lebih pelan dari suara malam di kampung itu:
"Dua tahun aku menjahit kain-kain ini untukmu, Nak. Setiap ada yang bilang anakku sudah tidak akan pulang, aku menjahit satu kain lagi. Aku tidak pernah pandai berdoa dengan kata-kata yang benar — jadi aku berdoa dengan jarum, supaya kau tidak lupa jalan pulang ke pintu ini."
"Dan aku tidak lupa, Bu," jawab Ratna, dengan dua tangan yang menyentuh kain-kain itu seperti menyentuh dua tahun yang dijahit ibunya dengan doa yang tidak bersuara. "Setiap malam aku menyebut namaku sendiri di dalam kepala sebelum tidur, supaya aku tidak lupa siapa aku. Dan ternyata di sini ada yang menjahit supaya aku tidak lupa jalan pulang. Kita berdua tidak lupa dengan cara kita masing-masing."
Dan ibunya memeluknya lagi dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun — dan di luar, kampung itu turun ke malamnya dengan lampu-lampu kecil yang menyala satu per satu, dengan satu nama yang sudah berdiri lagi di pintu rumah kecil itu dengan cara yang benar.
Dan Ratna kembali bekerja — di kantor Mursid, dua hari seminggu, dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dengan satu pekerjaan yang dipilihnya sendiri dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun juga: membaca orang-orang yang masih menjadi orang lain di dalamnya, dan menemui mereka dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dan memberi tahu mereka bahwa nama mereka masih berdiri di sudut kepalanya supaya mereka tidak lupa siapa mereka — dan bahwa jalan pulang itu berdiri dengan kaki yang benar, dengan orang-orang yang memilih berdiri untuk mengembalikan nama-nama mereka tanpa dibayar untuk berdiri.
Dan Mursid membacanya dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi dengan Ratna yang berdiri di meja kecil di sebelahnya dua hari seminggu dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat: Ratna pulang ke kampungnya dengan nama dan cerita yang bisa diceritakannya dengan cara yang utuh, dan ibunya memeluknya di pintu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan Ratna kembali bekerja di kantor kecil itu dua hari seminggu dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya — dan dia membaca orang-orang yang masih menjadi orang lain di dalamnya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari siapa pun yang tidak pernah menjadi orang lain di dalamnya, dan jalan pulang itu berdiri dengan kaki yang benar, dan jalan itu berdiri dengan orang-orang yang memilih berdiri untuk mengembalikan nama-nama mereka tanpa dibayar untuk berdiri.