Suara riuh bercampur gelak tawa itu terdengar di seluruh penjuru sekolah. Tak kala dua kalimat yang di ucapkan kedua siswa-siswa itu terdengar lantang dan bergema hingga membuat semua atensi terpusat ke mereka, Aska dan Rea.
KAMI TAU DISIPLIN ITU PENTING!
KAMI TIDAK AKAN TELAT LAGI!
KAMI TAU DISIPLIN ITU PENTING!
KAMI TIDAK AKAN TELAT LAGI!
KAMI TAU DISIPLIN ITU PENTING
KAMI TIDAK AKAN TELAT LAGI!
Kejadian yang Sangat memalukan, tapi ini sudah menjadi hal biasa bagi Aska. Dan Rea? cewek itu malah sekali-kali tidak meneriakkan kalimat hukuman, hingga mau tak mau Pak Deo harus menambah hukuman mereka.
"Masih mau telat?" tanya lelaki tua memakai pakaian dinas ijo di depan Aska dan Rea.
"TIDAK PAK!" seru mereka berdua.
sayangnya suara lantang alaska mengalahkan suara datar Rea yang sibuk menutupi pipinya dengan topi.
"Yang lantang dong jawabnya!" sindir pak Deo pada Rea.
Aska menyikut lengan Rea sementara cewek itu hanya melirik sekilas dengan sebelah bibir terangkat.
"Panas pak." keluh Rea mendapat tolak pinggang pak Deo.
"Apa kamu bilang?" pak deo mendekati Rea, "Itu hukuman karena kamu, dan kamu!" pak Deo menunjuk Alaska, "Telat upacara. "
"Ya tapi_"
"Apa?"
Rea baru saja ingin membantah tapi keburu di kode pake mata sama Aska. Bisa bertambah hukuman mereka kalau Rea masih tetap bawel.
"Sekarang, jalan jongkok ke kamar mandi." perintah pak Deo dengan mata melotot. Sok kejam nih orang tua.
Rea yang mulai bete menghengtak-hentakkan kakinya karena mendapat hukuman tambahan. Mana wajahnya sudah merah karena matahari. Saat sadar Rea mulai uring-uringan Aska yang biasa-biasa aja kena hukum, jadi ikutan kesal sama pak Deo.
"Mau ngapain ke kamar mandi pak?" sahut Aska malah terlihat bego.
"Iya Ngapain? kan udah mandi pak. " tanya Rea menambahkan dengan muka judes.
"Mau suruh kalian boker!" seru pak Deo.
"Hah?" heran Rea terkejut.
"Kan belum mau eek pak."
"Hah?" seru Rea kalo ini pada Aska.
Bukannya terkejut seperti Rea Aska malah ikutin drama pak Deo lagi.
Rea menampar lengan Aska, "nagapain ngomongin eek? Mata Rea melotot. "Jorok."
Aska memutar mata. "Masa kita di suruh boker, Re'. denger gak?" bisik Aska dengan kode mata yang membuat Rea semakin diabuat pusing.
"Jijik tau." Rea bergidik mendengar Aska terus menyebut kata 'boker'
"Heh!" suara pak Deo menghentikan Aska dan Rea yang sedang berdebat di depannya.
"GAK TERIMA PAK! MASA KITA DISURUH BOKER?" seru Aska dan Rea secara bersamaan.
Kompak mereka memasang tanpang tidak terima, membuat pak Deo semakin panas kepala dan akhirnya membebaskan mereka dari hukuman. Dan memilih mencari sekumpulan anak yang melanggar aturan. Biasanya banyak tuh di belakang sekolah, karena nggak ikut upacara.
"Ya sudah." muka pak Deo tiba-tiba berubah baik, "Besok-besok kalau kalian berdua telat lagi. Bapak hukum keliling lapangan."
Rea bergidik ngeri setelah pak Deo s menghilang dari hadapannya. Sementara Aska langsung menarik Rea keluar dari lapangan. Tepat saat berjalan di koridor semua menyoraki pasangan yang baru saja di hukum itu dengan kelakar bermacam-macam.
"Adek-kakak di hukum lagi parah."
"Oii Ka' muka adek lu merah tuh."
"Kita sambut The king and The princess Telat. "
Sontak semuanya tertawa saat Rea dan aska melewati koridor. Aska bisa saja balik nonjok anak-anak yang gangguin dia tapi Rea udah duluan ternyata.
"NGOMONG SEKALI LAGI GUE GANTUNG DI POHON KETAPANG!" tujuk Rea ke salah satu dari tiga cowok yang lagi nongkrong di depan kelas. Kedua temannya pun sontak saling tatap karena heran.
Aska pasti sudah menahan tawa karena Rea baru kali ini teriak depan muka cowok apalagi sama kakak kelas.
"Lo tau kita ini siapa?" tanya cowok yang lagi megang gitar.
"Siapa?"
Ketiga cowok itu langsung bangkit dan mendekati Rea yang otomatis Rea langsung mundur. Rea meneliti satu-satu muka tiga cowok di depannya dan ketika sadar itu adalah muka Reno. Saga. April. Mulut Rea langsung berkomat kamit.
"Kenapa? Takut lo" kata saga.
"Enggak."
Rea langsung menepuk mulut. Rea jadi kehilangan kesadaran dan langsung menutup muka kemudian berlari sembunyi di belakang Aska.
"Gak usah minta bantu sama kakak lo." kata April songong,
Dan ketiga cowok itu sampai di depan Aska. Rea sudah takut, sedang Aska biasa-biasa saja.
tbc.
"Bilangin Ka', gue gak sengaja. " perintah Rea mencubit tangan Aska. Aska menoleh dengan tatapan mengejek. "Gak berani gantung?" tanya Aska sengaja.
Rea menggeleng sambil menyipitkan mata. Kepalanya menengok ke tiga cowok gangster yang lagi berkacak pinggang depan Aska.
"Sorry ya bro," Aska menepuk pundak salah satu kakak kelasnya itu. "Lagi Pms."
"Hahahahaha."
Merasa di tertawai, Rea muncul dari balik punggung Aska dengan muka merah. Amarahnya bukan pada tiga cowok pecicilan di depan mereka. Tapi Rea marah sama Aska yang ikut-ikutan menertawainya.
"Ihhh receh tau." gerutu Rea menginjak kaki Aska sangat keras. Sontak cowok itu berhenti ketawa, bersaman dengan itu ketiga cowok pecicilan Reno. Saga. April. Ikut diam.
"Pasti sakit. " bisik Saga ke April ketika melihat muka Aska yang diam dengan muka memerah.
"Ka' lo... Gak papa kan?" giliran Reno yang pura-pura khawatir.
Mata Aska melotot ke Rea tapi sakit yang ia rasakan membuat mulutnya sulit mengeluarkan umpatan yang sudah memuncak di kepalanya.
"Rasain!" gerutu Rea dengan muka tak kalah kesal setelah puas memberi pelajaran, ia lalu meninggalkan Aska dan ketiga temannya itu.
"Rea! sorry gue minta maaf." Teriak Aska melihat Rea berjalan terburu-buru.
Sadar Rea berjalan belum jauh, Aska langsung mengejar Rea. Dan begitulah Aska terpaksa lari terpincang-pincang karena kakinya sakit habis di injak.
****
Melupakan kejadian 15 menit yang lalu keduanya kembali akur dengan Aska yang sangat baik mengajak Rea ke kantin. Rea pun sangat antusias ketika Aska bilang, "Lo boleh pegang dompet gue satu hari."
Emang teman pengertian si Aska. tau aja kalau Rea lagi bokek. Aska hanya bisa berharap semoga Rea masih ada hati untuk tidak menguras dompetnya sampai habis. Tapi untunglah saat itu pergantian pelajaran ke dua jadi Rea sama Aska hanya membeli minum setelah itu Aska mengantar Rea ke kelasnya.
Karena setelah di hukum dilapangan Rea dan Aska tidak di perbolehkan mengikuti pelajaran Pak Deo. Itu sebagai ganti hukuman yang.. Di. kamar. Mandi.
Seperjalanan dari kantin Rea jadi tidak bisa diam.
Cewek itu terus bercerita dari kejadian semalam sampai kejadian tadi di lapangan. Sementara Aska, tentu saja ia menjadi pendengar setia.
"Jangankan Teriak di bawa matahari, Lari lapangan gue pasti langsung tewas." cerita Rea tidak bisa membayangkan.
"Pak Deo serem sih kalau ngasih hukuman." lanjutnya.
Kaki Rea tiba-tiba berhenti usai berbicara ketika melihat Aska tidak ada di sampingnya. Sontak cewek itu berbalik dan menggeleng melihat Aska yang sedang mengikat tali sepatunya. Cewek itu kembali melanjutkan langkahnya dengan santai.
"Gak papa kali Re, " Alaska berdiri. lalu kembali berjalan di sebelah Rea. "Kan itung-itung olah raga." sambungnya.
Menyamakan langkahnya bersama Aska, Rea memasang wajah cemberut. "Coba aja gue bisa bangun pagi."
Rea masih bercerita tentang kebiasaannya yang sulit untuk bangun pagi sedang Aska hanya mendengarkan sambil mengusap- ngusap kepalanya.
Hingga ketika sampai mengantar Rea di kelasnya, Cowok itu langsung membuka tas ransel, mengeluarkan kotak bekal berwarna biru, "Bisa kok. Lo tinggal bangun aja."
Menerima kotak bekal yang pasti itu dari Mama Aska, Rea memasang muka masam. "Yah tapi susah bangunnya,"
" Pake Alarm." saran Aska dengan muka serius.
" Udah gue coba, abis itu gue matiin karena brisik."
" Trus itu lo tidur lagi?" tebak Aska tidak percaya.
Rea mengangguk. " U'um. "
"Ginama bisa bangun kalau gitu caranya. " Aska menghela nafas sementara Rea mulai rewel manja, sambil menendang-nendang ujung sepatu Aska. Kebiasaan rea kalau sedang bete. "Coba aja mama selalu di rumah. Pasti ada yang bangunin." ujar Rea semakin cemberut.
Melihat muka super bete Rea, Aska malah senyum tipis.
Sebelah Tangan Aska kemudian mendarat pelan di atas kepala cewek manja di depannya ini. "Kan gue udah bangunin lewat telfon, lo aja yang malasan." timpal Aska menurunkan tangannya.
Rea memghela nafas sembari menatap Aska, begitupun Aska yang memberikan semangat melalu tatapan matanya yang bersinar, Seperkian detik Rea dan Aska saling berpandangan. Detik berikutnya Rea Geram sendiri.
"Pergi sana!"
Mata Aska membulat tidak percaya. Bagaimana bisa mood cewek ini berubah dalam sekejap. Salah ngomong enggak, apalagi buat masalah. Bukannya dari tadi yang minta solusi di bangunin siapa? Aska jadi Heran ada apa dengan kondisi kejiawaan Rea.
"Lo kok, sensian amat dari tadi?" tanya Aska berkacak pinggang.
Rea mencebikkan bibir, " ya abis lo juga ngeselin, " kemudian bersedekap. "Makanya jadi orang peka dong biar gue gak marah-marah terus sama lo. "
Aska membuang nafas yang sempat tertahan. " Salah lagi kan gue."
Aska menatap mata Rea. Selama beberapa detik mereka saling tatap tanpa suara. Aska yang memikirkan sebab Rea marah padanya, karena Aska yakin, ini bukan soal Rea dihukum karena Telat atau kejadian di koridor tadi, pasti ada sebab Rea sangat bete pagi ini. Sedangkan Rea sendir mulai bingung dengan perasaannya yang selalu ingin marah sama Aska.
Aska memutuskan pertama kali, tanpa dan sepatah kata Asaka memilih berbalik meunggalkan kelas Rea. Aska bukan kecewa sama sikap Rea yang tidak pernah berubah. Aska hanya keaal pada dirinya karena hingga sekarang dia belym menjadi sahabat yang bisa mendidik Rea jadi orang baik.
Di tinggal Aska di depan kelas. Rea jadi semakin malas masuk kelas. Rea memandang kotak bekal yang sedai tadi di pegangnya. Begitu Banyak orang yang peduli padanya, termasuk Aska dan keluarganya. Tapi kenapa Mama sama sekali tidak peduli sama Rea.