Bel istrahat telah berbunyi 5 menit yang lalu. Dan seperti biasa, Siswa-siswi Tunas Bangsa akan terlihat berhamburan di seluruh penjuru sekolah. Dan bisa dipastikan kondisi sekolah akan padat dan sangat berisik oleh suara-suara Siswa yang teriak sana-sini.
Ada banyak tempat di sekolah yang menjadi favorit anak Tunas Bangsa. Tapi Aska dan juga Rea memilih kantin sebagai tempat mereka. Selain tempat umum, di kantin juga Rea bisa minta makanan apapun yang ia mau dengan memgandalkan Sahabat tercintanya Alaska.
Saat ini Alaska dan Rea memang sedang berada di kantin kelas 2 untuk makan siang. Dan tepat saat itu kantin lagi sepi hanya mereka berdua yang mengisi. Bertiga sama penjaga kantin.
Rea baru saja menghabiskan nasi goreng dari kotak bekal yang diberikan Aska tadi pagi. Di tutupnya kotak bekal itu dengan rapi, kemudian meraih es jeruk yang langsung disedot hingga habis.
"Aska," panggil Rea Di depannya.
"Apa?" sahut Aska terdengar malas, cowok itu sibuk mengaduk es jeruknya dengan sedotan.
"Ihh Aska liat gue!". paksa Rea menarik lengan baju Aska membuat Aska menggerutu.
"Iya! Apa?" ketus Aska sambil menatap Rea.
Rea menyipitkan mata sambil memperhatikan Aska, "Lo marah ya sama gue?" tanya Rea dan Aska hanya menggeleng. Rea kenal Aska yang kalau sedang marah pasti diam dengan mulut terkunci bahkan melihat muka orang pun malas.
"Enggak," sambil mengaduk-aduk es jeruknya. "Biasa aja." lanjutnya kembali diam.
"Boong, " kata Rea curiga, "Pasti marahkan, karena tadi gue lebih pilih Mario kerjain soal fisika dari pak Deo ?" tuding Rea ke Aska.
Aska hanya membalas dengan muka datar, sementara Rea mulai cemberut lagi karena merasa di cuekin Aska dari tadi.
"Gue bukannya gak milih lu Ka' gue takut aja lo salah ngerjain makanya gue minta Mario yang ngerjain. Secara Mario lebih hebat fisikanya. Kan pak Deo minta gue bener semua. Nanti kalo misalnya lo yang kerjain__"
Bibir Rea terkatup, saat melihat tatapan Aska yang berkilat marah. "Lain kali kalau ada PR fisika suruh Mario yang ngerjain." decak Aska kesal.
"Yah Ka', bukan gitu maksud gue. " Rayu Rea memelas.
"Mario lebih hebatkan fisikanya." potong aska sambil menyedot es jeruknya, "Jadi suruh dia aja." sindir Aska memainkan sedotan dalam gelas.
"Gak! lo lebih jago."
Aska langsung menatap Rea. "Siapa bilang?"
"Gue." tunjuk Rea pada dirinya.
"Gak konsisten."
Dengan muka judesnya, Rea mengulurkan tangan ke aska. "Ya udah deh, gue minta maaf."
Aska menatap Rea, "Bagus lah, Kalau akhirnya minta maaf." kata Aska sepertinya tidak peduli dengan uluran tangan Rea. "Lain kali di ulangin yah Rea." sindir Aska.
"Ya.ya. ya. Lain kali." ulang Rea dengan muka mengejek.
"What?" Aska langsung mendelik. "Masih mau di ulangin?" tanya Aska dengan penekanan di akhir kata. Ia menatap Rea tidak percaya.
"Kan barusan bilang. " jawab Rea santai.
"Rrreaaa!!!" geram Aska seolah ingin menelan Rea hidup-hidup.
Berlagak tidak peduli Rea mendorong kotak bekal tadi ke Aska. "Bilang ke Mama lo. makasih, " Rea tersenyum kecil. "Nasi gorengnya enak banget."
Aska yang awalnya terlihat kesal, langsung tertgun melihat Rea tiba-tiba tersenyum. "Dasar bunglon."
"Eh, kok ngatain?" kaget Rea.
Aska mendengus. "Tadi marah, bete, jutek, sekarang tiba-tiba senyum. Lo sehat kan?"
Rea menaikan sebelah alisnya. "Sehat kok. Lo aja yang banyak komentar. Giliran gue senyum, lo ngatain gue bunglon. Ngeselin banget si lo. " ucapnya tandas.
Aska melepas sedotan di bibirnya. "Kan emang kayak bunglon. Berubah-ubah. " ledeknya.
"Terserah!"
Rea malas meladeni Aska, bisa-bisa ia kehilangan kontrol dan memukul Aska di sini. Suasana Hening kembali saat mereka berdua memutuskan utuk tidak saling berdekatan. Rea langsung pindah tempat duduk, bergabung dengan teman-teman kelasnya. Sedang Aska masih kukuh di tempatnya dengan seorang cewek yang tiba-tiba datang lalu duduk manis di sampingnya.
"Eya, besok ada pameran lukisan di kantor kakak gue, mau ikutan liat gak?" ajak Mahyani cewek yang mencepol rambutnya. "Ada lomba lukisnya juga."
"Beneran Mah?" girang Rea sampai menepuk meja, "Wah asik! Gue ikut deh. " sahut Rea antusias. Rea sangat suka hal-hal yang berbau seni. Apalagi seni lukis Rea pasti paling excited.
"Lo harus ikut. Siapa tau lukisan lo bisa juara. Hadiahnya juga lumayan Ya', " ujar Mahyani sambil mengaduk kuah mienya.
Rea mengaguk riang, cewek yang rambutnya pendek sebahu itu, langsung menoleh kebelakang mencari Aska. Namun ketika matanya menangkap sosok Aska yang duduk bersama cewek Rea langsung kecewa.
"Gue kayaknya gak bisa ikut deh Mah. " lirih Rea dengan muka lesu. Rea jadi tidak semangat lagi ke pameran.
"Kenaoopa?" tanya Mahyani kesulitan bicara karena mulutnya penuh dengan mie.
"Ya gak bisa aja." jawab Rea tidak jelas.
"Loh, bukannya lo tadi kepengen banget. Kenapa sekarang jadi gak bisa?" tanya Mahyani sambil menyeruput mienya pake sumpit. Tinggal satu suapan lagi dan mie di mangkok mahyani habis.
"Gue lupa ada tugas ngerjain fisika di rumah Aska." jawab Rea sangat malas.
Mahyani memutar bola matanya tidak percaya, " Hellow.. Rea. Hari gini masih aja ada kelas tambahan. " Sembari menggeleng. "Gak banget."
"Ya gue harus gimana dong? Aska gak bakal biarin gue kemana-mana kalau nilai fisika gue tahun ini gak naik jadi 60." gerutu Rea.
"Kan pamerannya cuma sehari doang Rea. Lo bisa nambah privat time lo ke dia. " ujar Mahyani.
Rea menggembungkan pipi lantas meniup poninya. "Semoga aja Aska mau." katanya dengan harapan tinggi.
Saat mereka lanjut mbicarakan tentang pameran Mahyani tidak sengaja melihat sepasang cewek sama cowok jauh di seberang tempat mereka duduk sekarang.
"Aska lagi dekat sama Gauri?" tanya Mahyani masih melihat ke arah pasangan yang lagi kasmaran di seberang sana, "Kan baru putus sama Dea, kok langsung dekat gitu sama Gauri?". Rea langsung menolehkan kepala kebelakang ia melihat Aska sama Gauri lagi ketawa-ketiwi.
Rea menatap ke Aska. "Playboy emang gitu mah. Gak cukup sama satu lauk." ucap Rea penuh tekanan di akahir katanya.
Dan bukan Mahyani kalau gak lagi senyum-senyum lihat adegan romantis di sana. Saat Aska mulai berani cubit-cubit pipi Gauri. Sedang Rea mungkin saja butuh kantong plastik sekarang.
"Alay banget sih!" bentak Rea masih menonton mereka.
"Romantis banget sihhh, " celetuk Mahyani malah jadi baper. "Bisa ganteng gitu ya si Aska. Hmm bule. Bule. " ucap Mahyani manis sambil geleng-geleng.
"Mah, kasih gue sendok, " minta Rea mulai beraksi.
Dan seolah tidak sadar Mahyani langsung memberikan sendok yang di mangkoknya. Rea melihat sendok di tanganya lantas meniup sendok tersebut sebagai jampi-jampi sebelum akhirnya melempar sendok tersebut ke sasarannya.
Sementara Mahyani Saking bahagianya mengagumi Aska dari jauh, tidak sadar kalau ternyata sendok itu sudah melayang kearah Aska dan Gauri. Sampai sendok itu sedikit lagi menimpuk kepala Aska jika saja cowok itu tidak merunduk mengambil ponsel Gauri yang terjatuh. Sendok yang melayang itu meleset nyaris kena ujung rambut Aska dan akhirnya berakhir menimpuk belakang kepala seseorang.
"Kambing!" umpat orang itu berbalik mencari pelaku kriminal yang sudah menimpuk kepalanya. "Siapa yang nimpuk gue?!" teriak orang itu adalah Sean. Kakak kelas paling songong Se-Tunas Bangsa.
"Rea, itukan Sean. Bisa di bikin dendeng kita." ucap Mahyani panik melihat Sean yang lagi berdiri sambil mencari sang pelaku.
Melihat itu Rea langsung menarik tangan Mahyani keluar dari kantin. "Mah. Cabut! "
"Elo ya, nimpuk kepala gue pake sendok." Tuding Sean pada Aska. Karena orang paling dekat dengan tempat duduknya hanya Aska dan Gauri.
Merasa tidak terima di tuduh, Aska langsung berdiri dari tempat duduknya, Gauri yang tidak tau apa-apa juga langsung berdiri.
"Kenapa tiba-tiba lo nuduh gue?" tanya Aska dengan tatapan dingin.
Sean salah tuh sepertinya, harusnya ia memilih orang yang tepat dan orang itu bukan Aska.
"Yang duduk di belakamg gue cuma elo berdua!" tunjuk Sean dengan muka marah.
"Lo kalo dendam sama gue. Gak gini caranya!" balas Aska tak kalah keras.
Gauri yang mulai takut mereka berantem, langsung mendekati Aska, memegang tangan kanan cowok itu. Seolah menenangkan Aska.
Sean berdecih dengan kilatan mata tajam. "Cih. Dari dulu masih aja jadi pecundang."
"b*****t!" bentak Aska emosi menarik kerah baju Sean.
"Aska! Udah." Gauri menarik lengan Aska hingga terlepas dari Sean.
"Cih. Hanya segitu kemampuan lo sekarang? Kalau lo berani gue tunggu di tempat gue besok." Sean lalu melihat Gauri yang ketakutan menatapnya, "Bawa cewek ini sekalian. "
Lalu dengan tatapan remehnya cowok itu berbalik meninggalkan Aska yang berusaha menahan amarahnya. Hingga sampai di pintu kantin cowok yang penampilannya urak-urakan itu berhenti sambil tersenyum remeh pada Aska yang menatapnya Tajam.
"Sampai ketemu Pecundang. " Gumam Sean sebelum benar-benar menghilang dari kantin.
Aska sudah ingin berlari menerjang Sean dengan pukulan menggebu-gebu tapi niatnya itu hanya berakhir di puncak kepala. Gauri menahan lengannya, Emosinya benar-benar ia tahan terlebih ketika murid-murid Tunas bangsa tanpa di duga berhamburan memasuki kantin. Detik berikutnya Aska buru-buru memakai tas, sebelum itu ia memasukkan kotak bekal Rea. dengan sisa Amarahnya Aska langsung pergi membuat Gauri merasa tidak dipedulikan dan terpaksa mengikuti kemana Aska akan pergi.
"Aska!" panggil gauri setelah mereka menuruni tangga lantai 2.
Aska sadar jika gauri mengikutinya sedari tadi, ia langsung berbalik menghampiri Gauri, "Maaf gue gak bisa nganter kamu ke kelas. Gue mau cari Rea dulu, "
Gauri menatap mata Aska dalam jarak dekat, Gauri seakan membaca Aska yang sedang mengkhawatirkan seseorang.
"Oke." ucap Gauri tersenyum paksa.
Aska memegang pipi Gauri yang bulat, sembari membalas senyum pacar barunya itu. "Dan sebagai gantinya, gue anterin pulang." kata Aska memutuskan jarak. Lalu berlari meninggalkan Gauri sendiri mematung .
Karena pada dasarnya kamu lebih penting dari segala sesuatu yang aku anggap special
Aska.