"PERJODOHAN?!" teriak Algher, cowok berpakaian formal dan berperawakan paling muda diantara seluruh penghuni meja makan.
Nama lengkapnya Algherno Piston, anak dari Albaran Piston. Seorang dosen bergelar profesor disebuah universitas ternama di Australia. Algher sendiri berkerja diperusahaan kakeknya, Colanel Piston. Sekarang, dia menjabat sebagai CEO di perusahaan Pistones Gruop itu. Cukup sukses diusia 25 tahun. Setelah tamat SMA, Algher tidak kuliah. Dia memilih mempelajari dunia bisnis seperti permintaan sang kakek.
Colan yang duduk disamping Jeni hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Albar menatap Algher tajam. "Jangan teriak-teriak, Al! Nanti jantung kakek kamu copot gimana?!"
Colan merasa terhina. Albar meragukan kekokohan dan kekuatan jantungnya. Kakek berusia 70 tahun itu melempar Albar dengan kulit pisang, tepat mengenai wajah sang putra. "Jangan ngehina kamu, Al. Belum tentu jantung orang tua itu lemah. Malahan lebih banyak anak muda yang terkena serangan jantung."
"Ya, mana tau. Kan udah lansia," bisik Albar.
"Heh?! Apa kamu bilang?!"
Algher memutar bola mata malas. Anak dan bapak sama saja. "Al gak mau dijodohin, pa."
Albar menatap Algher, putra semata wayangnya yang bandelnya minta ampun. Albar tidak menyangka, anak badung langganan guru BK sewaktu SMA dulu bisa sesukses sekarang. Walau jiwa-jiwa bandel dan badboy itu masih ada, sedikit. "Papa gak nerima penolakan, Al. Umur kamu tuh udah pas untuk membangun rumah tangga. Apalagi dengan calon pilihan papa."
"Ya, Al bakal cari sendiri calonnya. Ini udah 2021,gak jaman nikah dijodoh-jodohin." Algher masih kuat menolak.
Albar menatap Algher sinis. Anak yang sangat keras kepala. "Papa gak mau tau, Al. Kamu harus menikah dengan calon pilihan papa."
Mata Algher membulat sempurna. Ayah yang sangat keras kepala. "Gak bisa gitu dong. Menikah itu gak bisa dipaksain. Kalau Al gak mau, gimana?"
"Kalau kamu gak mau. Gak masalah," jawab Albar santai. Senyum sumringah menghiasi wajah Algher. Albar meraih gelas kopi diatas meja lalu meneguknya hingga menyisakan setengah. Setelahnya, Albar kembali berucap. "Setelahnya cari KK baru."
Algher menatap papanya tak terima. "Gak asik, main ngancem."
"Terserah papa. Yang nikahin kan papa, bukan kamu."
"Yang ngejalaninnya aku, bukan papa."
Colan menatap putra dan cucunya sembari geleng-geleng kepala. Al kecil dan Al besar. Gelar itu memang pantas disematkan pada dua laki-laki itu. "Anak sama bapak sama aja," ujarnya pelan.
Jeni yang duduk disebelah Colan memberikan senyuman. "Ya gitu, pa. Kalau Kak Albar udah pulang dari Australia, Algher bukannya melepas rindu malah melepas bacotannya. Prinsip mereka itu, gak debat gak asik."
Colan tertawa. Dia bersyukur, di usia yang tak lagi muda ini, dia masih bisa melihat keharmonisan keluarga ini. Hidup dirumah megahnya sendirian terkadang membosankan, membuatnya memilih tinggal disini, bersama putra, cucu dan menantunya.
"Paa," panggil Algher. Dia merasa putus asa. "Al, gak mau nikah sama calon pilihan papa."
"Gak masalah, Al. Kamu nolak, kamu juga tetep nikah."
"Paa,"
Albar bangkit dari duduknya. Dia menatap Jeni, istri tercinta dan satu-satunya. Sebenarnya Albar ingin dua, tapi Jeni menolak dan mengancam akan membakar Albar kalau ketahuan poligami. Jeni itu galak, tapi cantik. "Ma, ayo ke kamar."
Jeni mengangguk lalu bangkit. Setelah berpamitan dengan Colan, Jeni menghampiri Albar yang sudah berdiri di ujung tangga. Kamar mereka berada dilantai dua, sedangkan kamar Algher berada dilantai tiga. Terkadang Algher lebih memilh tidur di rumahnya sendiri dari pada disini. Sementara lantai bawah diisi dua kamar tamu, dua kamar pembantu, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu dapur, satu ruang makan, satu ruang gym dan selebihnya kalian pikirkan sendiri.
"Al gak setuju pa!"
Albar pura-pura tuli. Dia menatap Jeni yang sudah berdiri disebelahnya. "Sunna--" ucapan Albar terhenti karena pelototan Jeni.
Jeni tau ujung kalimat yang akan diucapkan suaminya itu. Dia menatap Albar tajam, lalu menggeleng.
Pria berumur 42 tahun itu terkekeh lalu merangkul Jeni. "Ini malam Jum'at, ma. Sunnah, pahala."
"Inget umur, Pa," balas Jeni.
"PA! AL GAK SETUJU!!" teriak Algher, kekeh menolak.
"Papa gak peduli, Al. Mau setuju atau tidak, pernikahannya tetap berlangsung besok!" setelah mengatakan itu, Albar membawa Jeni menaiki tangga. Meninggalkan Algher yang mengumpatinya. Dan Colan yang hanya diam memperhatikan.
"Besok?! Gila tuh pak tua!"
"Pak Tua itu papa kamu, Al," tegur Colan.
Algher menoleh, menatap Colan. Dia tidak menyadari keberadaan sepuhnya itu disini. "Kakek, gak pulang? Ini udah malem loh, kek. Ntar kalau pulangnya kemaleman--"
"Kamu ngusir kakek, Al?!" potong Colan.
"Enggak. Kakek ge'er," balas Algher. Dia beranjak dari kursinya, menyambar jas yang menggantung di kursi kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.
"Bisa kena stroke saya kalau kelamaan tinggal disini," bisik Colan sembari mengelus d**a.
***
Algher mengandarai mobilnya, menyusuri jalanan malam yang entah kenapa sunyi dan sepi. Biasanya, jalan menuju komplek rumahnya selalu ramai oleh lalu lalang kendaraan. Namun, untuk malam ini hanya ada satu kendaraan yang melintas dan satu orang perempuan, pejalan kaki yang dengan bodohnya menyebrang tanpa melihat kanan kiri. Alhasil, Algher menabrak perempuan itu.
Dari dalam mobil, Algher dapat melihat perempuan itu memegangi pergelangan kakinya. Kemudian, dengan kaki pincang perempuan itu berjalan ke arah mobilnya. Cukup berani dan kuat. Algher pikir dia akan diam sambil menangis, menunggu Algher turun lalu menggendongnya ala brydal style. Cih! Mereka terlalu halu!
"Keluar lo! Tanggung jawab lo!" teriak perempuan itu memukul-mukul kaca mobil disebelah Algher.
Algher menoleh, menatap perempuan itu tak minat dari balik kaca. Sementara diluar, perempuan itu masih berteriak.
"Woi! Jadi cowok tuh gentle dikit! Ganteng doang, giliran nabrak gak mau tanggung jawab!" teriak perempuan itu emosi.
Algher mendekatkan telinganya ke kaca, dengan alis terangkat dan tampang wajah seolah tak mendengar ucapan perempuan itu. "Hah? Lo ngomong apa?"
"Gue do'ain b***k beneran lo!" murka perempuan itu.
"Amin!"
Perempuan itu semakin murka. Dia beranjak pergi, menyusuri sudut jalanan, mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicari, dia kembali mendekati mobil Algher. "Lo keluar atau gue ancurin ini mobil?"
"Siapa lo bisa nyuruh-nyuruh gue?"
Perempuan itu tak mengubris pertanyaan Algher. Benda mati sekeras kepala Algher yang baru saja dia ambil di sudut jalan menghantam kening Algher. Niatnya, perempuan itu ingin memecahkan kaca mobil Algher. Namun, Algher malah menurunkan kacanya. Alhasil, dahi laki-laki itu berdarah akibat hantaman batu salah sasaran.
Algher meringis, perempuan itu melotot. "Ngajak berantem rupanya"
Algher membuka pintu mobilnya, menatap perempuan itu dengan tatapan berapi-api. "Gantian, lo yang harus tanggung jawab!"
Perempuan itu nampak panik. Dia menoleh, kekanan kiri, tidak menemukan apapun kecuali jalanan sepi. Dia kembali menatap Algher. "So-sorry, gue gak ada niat buat ngelukain lo. Gue cuma mau lo tanggung jawab sama kaki gue" Dia menunjuk pergelangan kakinya.
Algher berdecih. "Jangan-jangan lo begal ya? Pura-pura ketabrak supaya gue turun dan nyelametin lo, terus temen-temen lo keluar dari persembunyiannya. Masuk ke mobil gue dan bawa mobil gue kabur."
"Fitnah lo! Gue gak ada niatan buat begal orang kayak lo!" teriak perempuan itu tidak terima dituduh begal. Memang ada ya, begal pakai baju kemeja sama celana levis? Bawa tas sama laptop lagi.
"Kalau begal ngaku, penjara udah penuh kali," sindirnya.
Tin...tin...
Keduanya kompak menoleh, mendapati dua orang berbadan besar telah berhasil masuk ke dalam mobil Algher.
"Terima kasih bantuannya nona. Berkat anda, pekerjaan kami lebih mudah," ujar Pria yang duduk di kursi kemudi.
"Kalau nona bersedia, kami membuka lowongan untuk para begal sejati seperti nona," timpal yang satu lagi.
"Gue bukan begal an***g!" umpat perempuan itu.
Kedua pria itu tertawa. "Selamat malam. " pria yang duduk dikursi kemudi menginjak gas, membawa mobil itu melaju bersama dengan u*****n Algher.
"b*****t!"
Algher menatap perempuan itu. "Ini semua gara-gara lo!"
"Loh?! Kok lo nyalahin gue?!" protes perempuan itu.
"Terus? Gue mau nyalahin siapa? Gak mungkin juga gue nyalahin diri gue sendiri," balas Algher. Sebenarnya dia tidak perlu marah karena mobilnya dibegal. Toh, dompetnya tebal, bisa membeli mobil lagi bahkan lebih bagus dari itu. Hanya saja, dia ingin marah tanpa alasan yang jelas.
"Idih. Salah lo, kenapa gak lo kunci mobilnya. Dibegal kan"
"Bacot lo! Coba aja lo gak mecahin kaca mobil, gue gak bakal keluar!"
Perempuan itu memutar bola matanya, tak ingin menanggapi ucapan Algher. Dengan langkah pincang, dia berjalan mendekati tasnya yang jatuh dijalan. Untung begal itu tidak melihat laptopnya. Kalau iya, habis nyawanya. Itu bukan laptopnya tapi punya tetangga yang nitip belikan laptop padanya.
"Mau kemana lo?! Woi!" teriak Algher saat perempuan itu berjalan menjauh.
"Pulang!"
"Gak bisa gitu, woi! Tanggung jawab lo!"
"Bacot!" perempun itu mengacungkan jari tengahnya tanpa berhenti melangkah.
Jalanan sepi dan penghuni tak kasat mata jalanan itu menjadi saksi bisu perdebatan dua manusia yang tak saling mengenal itu. Seandainya tak punya hati, para makhluk tak kasat mata itu ingin sekali muncul dan menegur dua manusia itu karena telah mengganggu waktu istirahat mereka. Tapi apalah daya, mereka sadar diri. Mereka tak mau manusia itu pingsan karena niat hati ingin menegur demi kepentingan dan ketenangan pribadi. Mereka tidak ingin jadi setan yang egois.
Akhirnya, Algher dengan segala kekuasaanya menelvon anak buahnya. Menyuruh mereka menjemputnya.
To be next>>