"Algher!" teriak Albar dari luar rumah megah Algherno. Hari ini pernikahan putranya itu akan berlangsung. Sementara Algher masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Albar ingin menerobos masuk tapi pengawal no akhlak yang berdiri didepan pintu selalu saja menghalanginya. Mereka tidak tau saja kalau Albar ini adalah papa Algherno.
"Minggir kalian! Saya ingin masuk!" Albar berusaha menerobos orang berbadan tinggi itu.
"Tidak bisa tuan. Pak Algher sedang tidur. Dia sangat tidak suka kalau ada pengganggu seperti tuan bertamu pagi-pagi buta begini. Mengganggu tidurnya" ujar pria itu.
Albar melotot. Pengganggu katanya? Tinggal dimana anak buah Algher sampai tidak tahu dengan dirinya? Albaran Piston sudah terkenal. Tidak mungkin dua manusia didepan ini tidak mengenalnya. Atau mereka memang manusia dari pulau terpencil yang jarang melihat televisi dan membuka sosial media.
"Kalian minggir! Saya ingin masuk! Algher akan menikah hari ini, dia belum siap-siap dan saya harus membantunya!" Albar menerobos, namun lagi-lagi dihalangi.
"Pak Algher tidak boleh diganggu. Tuan jangan keras kepala kalau tidak mau kepala tuan saya tebas," tegas pria itu. Yang disebelahnya hanya mengangguk-angguk tidak jelas.
Dari dalam mobil, Colan dan Jeni hanya bisa tepuk jidat melihat tingkah laki-laki itu. Apasalahnya dia langsung menyebutkan namanya, pasti dua anak buah Algher tidak akan menghalangi seperti itu.
"Oo, mau tebas kepala saya? Ayo tebas sini! Tebas! Setelah itu kalian ikut enyah dari bumi ini!" Albar mendekatkan lehernya pada laki-laki itu.
Dengan gerakan kasar, laki-laki yang satunya lagi mendorong Albar agar menjauhi temannya. "Tuan tidak bisa memaksa. Sebaiknya tuan pulang."
"Tidak! Saya ingin masuk!"
"Tidak! Tuan pulang saja!"
Dari belakang, seorang ajudan kepercayaan Algher mendekat sembari membawa kresek berisi sarapan. Dia memicingkan matanya, melihat pertengkaran didepan pintu rumah majikannya. Dengan langkah terburu-buru dia mendekat, melerai bawahannya yang saling dorong dengan seorang pria.
"Heh, apa-apaan ini? Pagi-pagi sudah ribut. Kalau Pak Algher bangun gara-gara kalian gimana?" tanya Laki-laki itu. Kalau tak salah, namanya Noval.
"Ini, Bos. Bapak ini memaksa masuk ke dalam rumah. Saya sudah melarang tapi dia tetap memaksa. Sangat keras kepala." jelas pria itu.
Noval menoleh, menatap Albar. "Ada keperluan ap--eh Pak Albar?" terkejut sudah Noval saat Albar balik menatapnya.
"Iya. Ini saya. Urus anak buah kamu! Beraninya mendorong-dorong saya!" kesal Albar.
Seketika Noval menundukkan kepalanya, membuat dua pria penghalang tadi menggaruk kepala kebingungan. "Maaf, Pak. Mereka baru saya lantik kemarin, jadi maklum jika mereka tidak kenal dengan bapak."
Albar mendengus. "Masa iya tidak kenal saya. Kudet sekali."
"Bos kenal dengan tuan keras kepala ini?" tanya Bonto, pria yang adu mulut dengan Albar.
Noval melayangkan jitakannya mengenai kepala Bonto. "Keras kepala gigimu Bon! Dia ini Pak Albaran Piston, papa Pak Algher."
Langsung saja keduanya melotot. Sedangkan Albar tersenyum puas. "Minggir kalian! Saya ingin masuk!"
Keduanya menunduk memberi maaf, memberikan jalan bahkan membukakan pintu untuk Algher. Sebelum masuk, Albar menatap kedua pria itu remeh. "Saya akan menyuruh Algher memecat kalian. Setelah ini, kepala kalian akan saya tebas"
"Mampus kalian!" sembur Noval. "Lain kali liat dulu siapa tamunya."
"Kami benar-benar tidak tau bos."
"Yasudah. Ayo, kita sarapan dibelakang." ajak Noval yang diangguki kedua anak buahnya.
Sementara Albar, dia bersyukur, tidak perlu bersusah payah membangunkan Algher karena putranya sudah berdiri diruang tamu menyambut kedatangannya, dengan muka bantal dan rambut acak-acakan, tanpa baju.
"Ayo siap-siap! Pakai jas kamu! Setelah ini kita langsung ke lokasi," titah Albar.
Algher menguap. "Ngapain?"
"Hari ini kamu menikah Algherno Piston. Jangan banyak alesan! Siap-siap sana!" Albar mendorong tubuh Algher.
"Al gak mau nikah, pa. Gak mau!"
Albar tersenyum miring. "Gak mau ya?" pria itu mengeluarkan KK yang dilipat dari saku jasnya dan tipe-x dari saku celana bahannya. Dia membuka lipatan KK itu, memperlihatkannya pada Algher. Ujung tipe-x itu dia dekatkan pada baris nama Algherno Piston. "Mau dicoret?"
"Paa..."
"Nikah atau dicoret?"
"Pa..."
"Cari KK sama keluarga baru itu susah loh, Al."
"Iya, iya." Algher mengalah menghadirkan senyum sumringah di wajah Albar.
"Papa ngelakuin ini demi kebaikan kamu, Al," bisik Albar saat Algher lenyap dari pandangannya.
***
"Kamu gak keberatan kan dengan pernikahan ini?" tanya Neta pada putrinya yang sudah rapi dengan pakaian pengantin.
Terdengar helaan nafas. "Gak, ma. Kalau ini yang terbaik buat aku, aku ikhlas."
Neta memeluk putrinya, "Maaf, kalau mama terkesan memaksa kamu, Na. Ini demi masa depan kamu."
"Gak papa ma." Perempuan itu mempererat pelukannya.
"Jadi, papa gak mau bangun buat liat pernikahan aku ma?" lirihnya.
"Do'akan saja supaya papamu cepat bangun." jawab Neta. "Ayo, kita berangkat sekarang."
***
Terpaksa! Catat! Algher terpaksa menikah dengan wanita pilihan Albar. Coba saja ancamannya tidak KK, Algher pasti sudah kabur keluar negeri. Menikah dengan bule-bule cantik disana.
"Itu kepala kamu kenapa diplester, Al?" tanya Jeni, mengusap dahi Algher yang tertutupi plester.
"Oh ini" Seketika kejadian malam tadi terlintas dipikirannya. Perdebatannya dengan perempuan aneh dan mobilnya yang dibegal preman tidak bermoral. "Kebentur lemari," imbuh Algher, berbohong.
Jeni menanggapinya dengan senyuman tipis. Dia menggiring Algher duduk didepan Pak Penghulu. Dikanan kiri sudah ada saksi dan wali. Para hadirin sudah memenuhi ruangan. Hanya mempelai perempuan yang belum menampakkan batang hidungnya.
"Masih lama?" tanya Pak Penghulu yang nampak tak sabar. Dia berkali-kali melihat jam dipergelangan tangannya.
"Sabar, Pak. Mempelai wanita sedang dalam perjalanan," ujar Barto, keluarga dari pihak mempelai wanita.
Bersamaan dengan itu, seorang perempuan berpakaian pengantin memasuki ruangan didampingi oleh seorang wanita paruh baya yang diduga ibunya.
"Maaf, kami terlambat," ujar Neta.
"Kalau gak niat nikah gak usah dateng aja. Buang-buang waktu," sungut Algher. Albar menepuk kasar punggung Algher. Mulutnya itu tidak difilter. Algher mengaduh lalu melirik Albar tajam.
Mempelai wanita sudah duduk ditempatnya. Algher yang masih nampak kesal juga siap dengan lafaz ijab qabulnya. Dan Pak Penghulu sudah tak sabar untuk memulainya. Itu dapat dilihat dari tangannya yang sudah terulur, menanti jabatan dari tangan Algher.
Akad akan dimulai. Pak Penghulu sempat menawarkan Algher untuk berlatih terlebih dahulu, tapi yang namanya anak songong, Algher tidak mau latihan. Dia ingin langsung pada akad yang sesungguhnya.
Akad berlangsung aman damai. Mulut Algher begitu mulus mengucapkan ijab qabul tanpa pengulangan. Bahkan Albar dibuat terharu.
"Gak usah nangis. Cengeng banget jadi orang tua," ujar Algher yang hendak sungkem pada Albar.
"Pak Algher, acara sungkemnya nanti. Sekarang lanjut pasang cincin dulu," kata MC pada Algher yang sedikit lagi mencium punggung tangan Albar. Namun tak jadi karena ucapan MC.
Ingin mengumpat namun harus ditahan. Algher memilih kembali duduk ditempatnya. Dia meraih kotak cincin yang berisi sepasang cincin emas. Meraihnya lalu meraih tangan si mempelai wanita dan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Dan begitupula sebaliknya.
"Lo begal semalem kan?" tanya Algher membuat perempuan itu tidak jadi menyalami tangannya. Dia mendongak, terkejut untung saja tidak sampai terjungkal saat tahu siapa suaminya.
Tatapan Revena menajam, "Gue bukan begal, sat!" tekannya berbisik.
"Gii bikin bigil, sit!" ujar Algher menye-menye. "Kalau begal ngaku, penjara udah penuh kali. Btw, berapa jatah lo dapet tadi malam? Mobil gue harganya mahal loh."
"Gue gak kenal mereka anj--"
"Kalian ngomongin apa? Harmonis banget kayaknya" potong Rohan, saksi dari pihak Algher.
Algher dan Vena menatap Rohan tajam. "Kepo!" ujar keduanya serempak. Rohan langsung kicep dan memilih untuk tidak ikut campur.
"Lo, kenapa mau jadi istri gue?" tanya Algher pada Vena.
"Kepo lo!"
Algher menampilkan smirk. "Asal lo tau ya. Gue nikahin lo itu terpaksa, bukan karena cinta. Lo gak usah berharap apapun dari gue karena gue gak bakal pernah nganggep lo itu istri gue. Apalagi sampai berharap bakal dapet keturunan." bisik Algher ditelinga Vena.
Bulu kuduk Vena meremang. Suara Algher yang terkesan serak membuat jantungnya berdetak tak karuan. Vena meneguk ludahnya lalu menoleh membuat bibirnya menyentuh pipi laki-laki itu. Ya taulah, jarak mereka sangat dekat.
"Sabar atuh neng, main nyosor aja," celetuk salah seorang tamu.
Algher membulatkan matanya, mengusap pipinya yang barusan dicium Vena.
"Gue gak niat. Sumpah!" ujar Vena mengangkat dua jarinya membentuk V.
"Modus! Bilang aja lo pengen cium bibir gue tapi malah kena pipi," cibir Algher.
"Gue beneran gak sengaja. Gak minat gue sama pipi lo!"
Algher berdecih, memalingkan wajahnya dan bertemu dengan wajah Albar yang menatapnya jahil. "Habis ini kasih papa cucu, Al," goda pria tua itu sembari menaik turunkan alisnya.
"Gak akan!"
Selanjutnya mereka memasuki sesi foto bersama. Yang pertama masuk lensa adalah Algher dan Vena, berfoto sembari memperlihatkan cincin indah di jari manis keduanya.
Algher menatap Vena remeh saat perempuan itu kesulitan untuk berdiri. "Masih sakit kaki lo?"
Vena menatap tajam Algher. "Ini juga gara-gara lo!"
Algher terkekeh, "Senggaknya lo ingat sama orang yang ngelukain dahi gue." Vena hanya menanggapi dengan cengiran.
Selanjutnya, acara inti dimulai. Jatah untuk para tamu memberi selamat pada kedua pengantin baru.
To be next >>