"Mau kemana lo? Malak pedagang pasar?" ledek Algher mendapati Vena menapaki ruang makan dengan oufit ala preman. Hoodie loreng, celana levis sobek-sobek, ditambah lagi topi yang menutupi kepala cewek itu.
Vena menatap Algher dengan alis terangkat lalu menarik kursi untuk duduk. Dia tak menanggapi ucapan atau ledekan suaminya itu.
"Ganti baju sana. Lo udah bukan anak gadis lagi, lo udah jadi istri orang. Istri pengusaha lagi. Masa iya istri seorang pengusaha celananya robek-robek kayak gitu. Malulah kalau diliat orang-orang," gerutu Algher.
"Jadi lo akuin kalau gue ini istri lo?" tanya Vena dengan nada menyindir.
"Gak juga." sahut Algher, melanjutkan makannya.
Vena memilih tak mengubris. Meraih makanan yang terhidang di atas meja dan mulai memakannya dengan tenang. Hari ini dia ada janji dengan Elvan. Laki-laki itu katanya rindu karena sudah lama tak berjumpa. Padahal cuma dua hari, laki-laki itu saja yang agak lebay.
"Enak makanannya?" tanya Algher.
"Enak. Lo yang bikin?" Vena balik bertanya tanpa menghentikan suapannya.
"Enggak. Noval yang beli." jawab Algher.
Vena hanya mengangguk sembari beroh ria. Tidak ingin menanggapi lebih lanjut. Vena pikir, Algher adalah laki-laki yang cuek, dingin, formal dan menjaga wibawa serta kejam. Tapi kenyataannya, laki-laki itu lebih suka berbicara walau terkadang terdengar menyebalkan. Bahasanya juga gaul, layaknya anak SMA. Lumayan asik. Wibawa? Tidak lagi terlihat saat laki-laki itu sudah menapaki lantai rumah. Wibawanya hanya terlihat jika Algher sedang berada di lingkup kantor dan kolega bisnis.
Algher selesai dengan sarapannya. Begitu juga dengan Vena. Mereka bangkit secara bersamaan diiringi bunyi gesekan kursi dan lantai yang berirama secara serempak.
Algher manatap Vena begitu juga sebaliknya. "Lo mau kemana?"
"Kampus."
"Lo kuliah?" tanya Algher.
"Ngelaundry!" ketus Vena tak habis fikir dengan pertanyaan yang dilontarkan Algher.
Algher terdiam sejenak, tidak tau harus merespon seperti apa. Hingga pada akhirnya tawa garing laki-laki itu meledak. "Hahahaha! Lucu!"
"Gue gak ngelawak, Al. Gue cabut sekarang. Takut telat." Vena pamit. Menyambar tasnya yang tersampir dikursi kemudian berlalu pergi.
"Kok kekampus gayanya kayak preman?" seru Algher mengikuti Vena yang telah melangkah jauh meninggalkan ruang makan.
Entah dorongan dari mana, Algher menahan gerakan Vena yang hendak membuka pintu mobil. Sontak Vena menoleh, menatap Algher datar. "Mau apa?"
"Berangkat bareng gue," ujar Algher.
"Gak! Gak! Gue mau berangkat sendiri." tolak Vena lalu menyingkirkan tangan Algher yang menghalangi pintu mobil.
"Berangkat bareng gue Hena." ujar Algher sekali lagi.
"Vena! Nama gue Vena, bukan Hena! Dan gue gak mau berangkat bareng lo!"
"Istri durhaka" gumam Algher.
DORR!
Dua ban mobil Vena kempes ditembak dua peluru yang asalnya entah dari mana. Algher yang berdiri disebelah Vena bukannya panik malah tersenyum puas dan berterima kasih dalam hati pada Noval. Laki-laki itu memang bisa diandalkan disaat waktu yang tepat.
"Lo berangkat bareng gue" Algher menyeret tangan Vena menuju mobilnya. Membawa perempuan itu masuk dan duduk di jok belakang. Di sampingnya, Algher duduk. Dan di kursi kemudi, Noval sudah terlebih dahulu medudukkan p****t berlemaknya.
"Lo jahat tau gak?" kesal Vena pada Algher.
"Seharusnya lo berterima kasih sama gue. Gue udah nolongin lo, berangkat bareng supaya gak telat. Malah dikatain jahat." Algher mendumel.
"Ya gak usah pakai nembak ban mobil gue segala. Keliatan banget modusnya." Vena masih dikusai rasa kesal. Merasa tidak terima dengan kempesnya dua ban mobil BMW nya.
"Modus sama istri salah emangnya?"
"Emang gue istri lo?"
"Gak tau." Algher mengedikkan bahunya.
"Vena tak lagi menanggapi. Dia memilih menatap keluar jendela yang bergerak meninggalkan jejeran pohon palem di pinggir rumah mewah itu.
Sementara Algher, dia memilih menatap wajah Vena dari samping. Sebenarnya bukan tanpa alasan Algher mengajak Vena berangkat bersamanya. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada perempuan itu. Semacam introgasi kecil-kecilan. Masa iya Algher tidak tau apa-apa tentang perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu? Bahkan umur dan nama panjang Vena saja Algher tidak tau. Dia tidak mau dicap sebagai suami yang payah. Apa kata Albar nanti kalau tau tentang rumah tangganya dengan Vena.
Dua ratus kilo meter sudah ditempuh, satu lampu merah telah dilewati. Namun, keluarga kecil itu masih saja diliputi keheningan. Tidak hening-hening betul karena suara bersin Noval menjadi latar musik dalam mobil.
"Hena," setelah sepersekian menit, suara Algher memecah keheningan.
"Hm," deham Vena dengan pandangan masih tertuju pada jalanan. Menatap ramainya kendaraan yang lalu lalang.
"Gue mau nanya sesuatu," ujar Algher.
"Nanya apa?" Vena masih belum merubah posisinya.
"Umur lo berapa?" Algher mulai melontarkan pertanyaan pertama.
"Gue, 21."
"Kuliah kan? Semester berapa?"
"Semester 5."
Algher mengangguk-anggukan kepalanya. "Punya pacar?"
Pertanyaan kali ini membuat kepala Vena tertarik untuk menoleh. Air muka kesalnya juga berangsur hilang. "Punya. Tapi udah putus pas sebelum pernikahan kita."
"Kenapa putus?"
"Karena udah punya suami. Mungkin." jawab Vena mengedikkan bahunya.
Algher tidak ada niat untuk melontarkan pertanyaan selanjutnya. Dia memilih diam dengan pikiran yang sudah melayang jauh dan entah akan tersangkut dimana.
"Lo sendiri? Umur berapa? Udah punya pacar?"
Pertanyaan mereka sebenarnya aneh. Entah memang tidak topik atau bagaimana, mereka malah menanyakan soal pacar. Padahal mereka sepasang suami istri.
"Gue?"
"Iya lo. Masa Noval. Gak mungkinlah." sahut Vena yang mencubit tenggorokan Noval, membuat laki-laki itu terbatuk.
"Gue 25."
"Punya pacar?"
"Gak." jawab Algher yang langsung mematikan topik pembicaraan.
Keduanya kembali dilingkupi keheningan. Vena lebih memilih memandang jalanan, sedangkan Algher masih pada pikiran yang melayang jauh.
Sebenarnya, gue punya pacar dan masih lanjut sampai sekarang ujar Algher dalam hati. Tiba-tiba saja, dia dirundung rasa bersalah. Bersalah untuk apa dan karena apa, Algher tak tahu.
Mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di kampus Vena. Perempuan itu menyadarinya, bergegas untuk membuka pintu. Namun, suara Algher mengintrupsi kakinya untuk berhenti.
"Tunggu,"
"Apa?"
"Pulang jam berapa?"
"Hm, agak sorean kayaknya. Hari ini gue banyak kelas. Emangnya kenapa?"
"Algher menggeleng. "Gak kenapa-napa. Lo masuk sana, ntar telat," suruh Algher.
Vena mengangguk lalu mendorong pintu mobil sampai terbuka. Saat kakinya hendak menapaki tanah, suara Algher kembali membuatnya menoleh.
"Gak salim dulu? Cium tangan gitu, biar kayak istri beneran," goda Algher mengulurkan tangannya dengan alis naik turun.
Vena menepis tangan Algher. "Kan gue beneran istri lo. Kita nikah sah hukum dan agama lo, Al. Jangan pikir ini cuma bercandaan."
"Iya iya. Masuk sana."
"Gue duluan. Bye!"
Saat keluar dari mobil, langkah kaki Vena sudah ditunggu kedua temannya. Dari dalam mobil Algher mengamati, bagaiman dekatnya Vena dan keduanya temannya. Yang cowok datang sambil tersenyum senang, merangkul Vena, membawa perempuan itu ke dalam gedung kampus.
Kalau saja Vena ingin pacaran, Algher tak akan mempermasalahkan. Toh dirinya saja masih menyimpan seorang wanita tanpa sepengetahuan Vena. Atau mungkin Algher yang menyimpan Vena tanpa sepengetahuan pacarnya.
"Langsung ke kantor bos?" tanya Noval.
"Oh, iya. Btw, makasih loh, Pal udah nembak ban mobil Vena. Dia bisa berangkat bareng gue deh."
Noval mengerutkan dahinya heran. Noval bukan kriminalitas yang mahir memainkan pistol. Jangankan memainkan pistol, memakai pisau saja masih tidak benar.
"Saya gak nembak ban mobilnya bos Vena tuh, bos."
"Masa sih?"
"Iya bos, suer! Tadi saya udah duduk dari jam 7 di mobil, nungguin bos sama istri bos" jujur Noval.
"Lah. Kalau bukan lo, siapa dong?" Algher ikutan heran.
"Gak tau."
"Yaudah. Kita langsung pergi. Untuk urusan ini, biar saya yang urus."
Noval mengangguk lalu menginjak gas meninggalkan area kampus. Membawa mobil itu menuju perusahan Algher.
next ajalah ya:))