Kekuranganku terlalu banyak. Dan aku tak pernah tau darimana kau memandangku hingga bisa mencintaiku dengan begitu dalam - Alkena Seara Athena
Dengan akal yang masih tersisa, gadis itu memutuskan untuk bersembunyi di balik bangku koridor. Ia menahan napasnya seraya berharap jika gerombolan itu tak menyadari kehadirannya. Ketika gerombolan itu berjalan melewati bangku koridor tempatnya bersembunyi, Kena berkomat-kamit mengucapkan doa. Dan-
tara.....
Argon melewatinya tanpa melirik sedikitpun. Kena menghembuskan napas lega. Sepertinya ucapan Alkan di lorong tadi hanya bercanda atau sekedar prank sebab kini cowok itu tampak tak peduli.
Untung aja gue selamet. Moga-moga yang diomongin Alkan tadi ngelantur biar hidup gue bisa tenang, batin Kena seraya keluar dari tempatnya bersembunyi.
"Astaganaga!! Kesamber gledek mbah kliwon pas malem rabu legi!!" Ucap Kena memegangi dadanya yang bergemuruh karena terkejut dengan kehadiran seseorang dibelakangnya. Kena mendongak lalu menunduk kembali.
Mati gue
"Ngapain lo disitu?" Tanya Alkan dengan intonasi yang penuh kedataran.
"Eh, it-itu tadi lagi-" Kena mencari-cari alasan di dalam kepalanya. "Tadi lagi cari- semut! Iya, semut!"
Alkan mengangkat sebelah alisnya. "Semut? Lo pikir gue percaya?" Kena bungkam. Tak tau harus mencari alasan apalagi. Ia semakin menunduk.
"Lo belum pulang?"
Kena mengangguk.
"Abis piket kelas?"
Kena menggeleng.
"Ada tugas?"
Kena mengangguk lagi.
"Gue ngomong sama lo bukan sama tembok!" Teriakan Alkan membuat gadis itu berjengit.
Spontan ia mengangkat wajahnya. "I-iya, kak"
"Pulang sama gue"
"Hah?!" Sepertinya Kena salah mendengar.
"Ck. Pulang sama gue"
"Gak usah kak. Saya bisa pulang sendiri kok" elak Kena cepat. Tak ingin merepotkan orang lain. “Kakak pasti sibuk. Kakak gak usah anter saya, saya udah biasa sendirian”
"Siapa bilang gue yang anter?"
Perkataan Alkan sontak membuat pipi gadis itu memerah malu. Gadis itu kira Alkan-lah yang akan mengantarnya pulang.
"Gue sibuk. Lo pulang sama temen gue"
"Gak usah kak. Saya naik angkot aja"
"Gue cowok lo dan gue bebas mengatur lo" tegas Alkan final. Kena menghembuskan napas pasrah mengikuti langkah Alkan. Ternyata cowok itu tak main-main dengan perkataannya.
Alkan menghampiri geng motor Argon yang sedang menunggunya di lapangan parkir.
"Darimana aja lo? Lama banget. Keburu jadi mermaid kali gue disini" kata Yoga sembari membenarkan letak bendera Argon di bahunya.Alkan mengacuhkan Yoga, terus berjalan menuju Dimas yang berdiri di depan kap mobilnya.
"Disini gak ada aer, Ga. Mana bisa jadi mermaid. b**o dipelihara, pinter dibuang. Dasar" caci Xenon yang duduk di depan Yoga di atas motor.
Sontak Yoga menoyor kepala Xenon. "Eh, kutu. b**o teriak b**o, b**o!"
"Dih, siapa yang teriak orang gue ngomong gitu, b**o" balas Xenon.
"Lah, lo tuh yang b**o" jawab Yoga tak mau kalah.
"Lo!"
"Lo!"
"Awas lo ya. Gak gue izinin megang, kelitikin, ngasih makan, sama ngegendong si Anisa" ancam Xenon menunjuk wajah Yoga.
Yoga mengernyit. "Anisa siapa lagi? Gue aja gak kenal"
"Itu hamster gue yang baru. Namanya kan Anisa"
Kriikkk.... kriiikkk...
"Udahlah, udahan. Gue udahan mainnya. Lo aja yang jaga. Gue mah gak bisa ngomong sama garpu somay" kata Yoga mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Mengundang gelak tawa anak Argon yang lain.
Dimas yang awalnya fokus pada Yoga dan Xenon kini beralih ketika Alkan berdiri di depannya. "Ada apaan?"
"Anter pacar gue pulang"
Satu kalimat itu menghentikkan tawa anak Argon yang mengudara. Spontan semuanya melihat ke Alkan dan Dimas.
"Lo punya pacar?" Tanya Dimas penuh selidik. Setaunya, Alkan tak pernah suka pada perempuan apalagi punya pacar. Sungguh kemustahilan.
"Tuh" Alkan menunjuk dengan dagunya. Otomatis pandangan anak Argon teralih menuju gadis yang sekarang sedang menunduk takut.
Itu- cewek yang tadi pagi nabrak Moly. Pantes aja dilepas, pacar. kata Dimas dalam hati "Oke, gue sanggupin"
Alkan mengangguk. Merasa Dimas bisa diandalkan. Xenon berjalan mendekati gadis itu lalu mendorong bahunya.
"Oh, jadi elo yang PHO-in hubungan gue sama yayang Alkan. Berani juga lo" celetuk cowok itu tiba-tiba lalu menunjuk wajah Alkan yang datar. "Al, yang kamu lakuin ke aku tuh- Jahat" lanjutnya dengan wajah yang dibuat sedramatis mungkin.
Pletak...
"Aduh, sakit Yoga. Kok lo gitu sih ke temen? Kalo gue kena gegar otak, gimana?" Xenon mengusap-usap kepalanya yang dijitak oleh Yoga.
"Emang kita temen?" Ucap Yoga menusuk lantas tersenyum pada Kena. "Maaf ya. Nih bocah emang rada-rada. Maklum belom dikasih minum minyak tanah"
"Dimas... Yoga KDRT tuh sama aku. Masa kepala aku dijitak" Xenon berlari ke arah Dimas dan Alkan.
Alkan menghampiri Kena. "Lo pulang sama Dimas naik mobil. Gak usah nyamperin, biar Dimas yang bawa mobilnya kesini"
Kena mengangguk. Menatap Alkan yang sedang bersiap pergi dengan motor ninja besar warna navy nya.
"Nama lo siapa?"
Gadis itu mengalihkan pandangannya menuju asal suara dan menemukan Dimas yang tengah membukakan pintu mobil untuknya. Bagi Alkena, semua yang terjadi di hidupnya saat ini terlalu tiba - tiba.
"Kena, Alkena" ucapnya seraya masuk ke dalam mobil. Matanya tak lepas menatap tubuh bagian belakang Alkan yang nampak sangat tangguh.
"Sisanya anak Argon, ikut gue balik ke markas!" Titah Alkan lalu melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah diikuti puluhan motor yang sejenis dengannya dibarengi suara klakson yang memekakkan telinga. Menganggu siapapun yang mendengarnya.
Satu menit kemudian, suara kebisingan itu sudah menghilang. Sekarang giliran Dimas yang memacu mobilnya mengantar Kena pulang ke rumah.
Tak ada yang memulai pembicaraan diantara Kena atau Dimas. Keduanya sama-sama terdiam. Dimas fokus dengan jalanan dan Kena fokus dengan pikirannya. Tak pernah terpikir bagi Kena untuk menjadi kekasih dari seorang ketua geng berandal di sekolahnya. Dulu, untuk berada didekat Argon saja dia tak ingin. Tapi sekarang dia justru satu mobil dengan wakil ketua dari geng tersebut.
Dimas melirik perempuan yang duduk disebelahnya. Memang tdiak secantik Moly, namun ia seperti memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang betah untuk melihatnya lama-lama. Karisma dan aura kecantikan yag dipancarkan gadis ini tidak dapat diremehkan. "Lo sejak kapan pacaran sama Alkan?"
Kena menoleh kaget. Ia memilin jarinya gugup. "Tadi, abis istirahat pertama"
"Baru?"
Kena mengangguk. Ia canggung berada satu mobil dengan wakil ketua Argon itu.
"Rumah lo dimana?" Tanya Dimas memutar stirnya di tinkungan depan.
"Setelah belokan ini, kakak bisa turunin saya di jalan depan. Mobil gak bisa masuk ke dalam gangnya" Ujar Kena menunjukkan jalan.
Dimas hanya mengangguk patuh. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan. Kena mengucapkan terima kasih lalu keluar dari mobil. Tanpa basa basi, Dimas melajukan mobilnya kembali setelah sebelumnya mengirim pesan pada Alkan.
Ini kacau
Dan detik ini Kena mulai menyesali kemalangan-kemalangan yang menimpanya. Gadis itu benar-benar merasa seperti menjadi gadis sial sekarang.