Karena bagiku tak ada tempat berpulang yang paling nyaman dan indah, selain Argon - Alkana Reygan Theodore
Bangunan besar bertingkat dua itu tampak ramai oleh anak - anak geng Argon yang baru saja sampai. Rumah dengan kepemilikan atas nama Alkan itu disulap menjadi sebuah markas yang sangat nyaman untuk Argon disaat mereka dililit oleh masalah.
Rumah raksasa itu dibuat markas dengan lantai satu yang berisi kolam renang, mini bar, mini kitchen, ruang rapat, akuarium besar, Gym, Home theater, dan ruang rehat bagi Argon. Sementara di lantai dua penuh dengan jenis permainan yang diperuntukkan untuk Argon seperti Billiard, Archery, Playstation dengan TV plasma ukuran jumbo, serta permainan mobil dan motor balap. Untuk atap mereka ubah menjadi rooftop.
Tempat yang terlalu sempurna bukan untuk menjadi sebuah basecamp dari geng berandal?
Alkan duduk di sofa panjang dan menaikkan kakinya ke atas meja diikuti anak Argon lainnya yang langsung menyebar masuk ke dalam rumah, termasuk Yoga dan Xenon.
"Papa pulang!!" Teriak Xenon menggelegar lalu berlari menuju akuarium besar yang menjadi tempat favoritnya di markas. "Ya ampun, papa kangen banget sama kalian" cowok itu menciumi kaca akuarium berkali-kali.
"Daripada lo nyiumin tuh kaca kayak orang sinting, mending kasih makan nih anak-anak lo" kata Yoga memberikan bungkus makanan ikan yang selalu berada disitu.
"Oh ya, lupa. Makacih mama Yoga udah ngingetin" Xenon mulai memberi makan ikan - ikan koinya. Alkan memang sengaja membuat akuarium itu untuk sekedar hiasan dan hburan bagi anak Argon tapi justru berakhir menjadi bulan - bulan kegilaan Xenon.
"Ngomong - ngomong, lo udah kasih nama ke anak - anak lo belom, Xen?" Tanya salah satu anak Argon asal.
"Udah, dong. Nih biar gue kenalin lo semua" Xenon berdehem. "Yang warna oranye namanya Naruto, yang biru ini Sasuke, yang matanya picek sebelah Kakashi, yang kepalanya ada tompel itemnya Orochimaru soalnya dia deket-deket si Sasuke mulu, yang putih montok ini Sakura"
"Eits, bentar dan, Xen" sela Yoga. "Mending namanya ganti jangan Sakura"
“Trus apa?"
"Tsunade aja kan lebih montok, Sakura kerempeng kayak triplek" usul Yoga.
"Oh iya! Bener - bener. Nama kamu ganti ya, jangan Sakura, Tsunade aja soalnya lebih montok!" Ujar Xenon lempeng.
Alkan mengacuhkan Yoga dan Xenon yang sibuk memberi nama ikan di akuariumnya. Tangan cowok itu fokus menggulir layar handphone. Memastikan jika ada pesan dari Dimas.
Dimas Pratama :
Cewek lo minta diturunin di jalan. Ya udah, gue turutin, orangnya maksa
Salah satu alis cowok itu terangkat. Ck, berani juga. Ternyata, tuh cewek punya rasa keberanian. Alkan tersenyum miring, mengingat gadis itu yang selalu menunduk takut.
"Eh, Al. Lo beneran pacaran sama cewek yang tadi?" Tiba-tiba Yoga duduk di sampingnya. Sepertinya cowok itu sudah selesai dengan urusan penamaan ikan hiasnya.
Alkan mengendikkan bahu.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Pasti Alkan gak mungkin ngekhianatin cinta gue. Ya kan, Al?" Ucap Xenon duduk di hadapan Yoga dengan membawa semangkuk mie instan berkuah.
"Dih, m**o lo. Jijik gue. Lagian lo kapan coba ngomongnya" kata Yoga lalu melihat mangkuk mie Xenon. "Mie ya? Mau dong, bagilah"
"Jijik tapi minta" cibir Xenon. "Enggak ah, bikin aja sono sendiri. Banyak noh mie nya di laci dapur"
"Males. Mau minta yang punya lo aja. Bagi dong. Ya Xenon anaknya pak Pradipta yang paling ganteng. Ya, ya, ya..." bujuk Yoga.
Xenon tersenyum lebar. "Iya lah paling ganteng. Kan cuma gue anaknya. Tapi, sori nih ya, ga. Lagi edisi pelit"
"Eh, kodok! Kalo pelit kuburan lo cuma sesenti. Sini bagi!" Yoga berusaha merebut mangkuk mie instan dari genggaman tangan Xenon.
"Ih..., Ga. Sumpah ya lo nikung gue mulu. Ini nih alasannya gue gak mau punya pacar. Takut direbut sama lo. Dasar celamitan!" Umpat Xenon ketika mangkuk mie nya berhasil di ambil alih oleh sahabatnya.
Yoga memeletkan lidahnya. "Bodo amat!" Lalu mulai menyuap mie ke dalam mulutnya kemudian memuntahkan mie itu kembali. Buru-buru Yoga berlari menuju tong sampah.
"Eh, kutil. Lo masak mie apa racun? Rasanya aneh amat. Lu oplas ya tuh mie"
Xenon mengambil mangkuk mie nya kembali. "Ini mie goreng tapi gue kuahin. Soalnya gue kehausan"
Pletak...
"Sodaranya cihuahua! Besok gue beliin otak deh biar bisa mikir" kata Yoga setelah ia berhasil memukul kepala Xenon akibat kebodohan cowok itu.
Alkan tersenyum tipis. Selalu seperti ini jika ia berada di tengah - tengah Argon. Selalu merasa pulang.
***
Kena merapikan barang - barang yang ingin ia bawa ke sekolah tak melupakan keranjang minipizza dagangannya yang selalu ia titipkan di kantin.
"Ayah ibu Kena pamit dulu ya. Mau sekolah, doain" pamit Kena pada sebingkai pigura besar yang berada di atas televisi. Gadis itu mengunci rumahnya dan berjalan di trotoar menuju perempatan depan dengan bersenandung.
Tiiiinnnn.... Tiiiinnn.....
Suara klakson motor mengejutkan Kena, ia menoleh dan mematung karena menemukan Alkan yang berada di atas motornya.
"Naik" Alkan menunjuk jok belakangnya.
Bagaimana bisa Alkan tau keberadaan rumahnya?
"Kakak, kok tau rum-"
"Naik!" Potong Alkan cepat. "Gak usah banyak omong"
Dengan gerakan tergesa-gesa, Kena menaiki motor Alkan setelah diberikan helm. Cowok itu lantas memacu motornya menuju sekolah.
Hening menyelimuti keduanya. Tak ada satupun yang bicara. Kena mulai memikirkan hal-hal negatif yang akan menimpanya jika murid lain tau ia berangkat sekolah dengan ketua Argon.
Bagaimana nanti di sekolah jika ada yang melihatnya seperti ini? Apa pendapat orang tentangnya? Dan bagaimana pemikiran Adenna nanti?
Lamunan gadis itu hilang saat matanya telah menangkap gerbang sekolah. Namun bukannya berhenti, Alkan justru terus melajukan motornya melewati gerbang lalu berbelok di sebuah gang kecil tak jauh dari sekolah.
Motor Alkan baru berhenti didepan sebuah warung kopi. Alkan turun dari motor diikuti Kena sambil terus membawa keranjang Minipizza nya.
"Bi Yuni!" Teriak Alkan keras lalu duduk di salah satu kursi panjang . Ia menunjuk tempat disebelahnya dengan dagunya. "Duduk"
Kena langsung mendudukkan dirinya disamping Alkan saat merasa tatapan-tatapan aneh mulai menghujaninya. Seorang wanita paruh baya datang dengan tergopoh-gopoh dengan setelan khas daster ibu-ibu. "Eh, ada den ganteng. Pesen apa, den?"
"Nasi uduknya satu, bi. Sama minumnya" kata cowok itu ramah. Kena menoleh, tak pernah tau jika Alkan ternyata bisa ramah terhadap orang. "Mana dagangan lo?"
Kena tersentak. Belum sempat ia menunjukkan keranjang dagangannya, Alkan sudah mengambil dan membawanya masuk kedalam. Dari tempatnya duduk, Kena bisa mendengar suara cowok itu.
"Woy! Lo semua ada yang mau beli dagangan pacar gue gak?" Tawarnya. Sesaat kemudian keranjang itu sudah dikerubuti oleh anak Argon.
Tak butuh waktu lama, Keranjang itu sudah kembali ke pangkuan Kena dalam leadaan kosong. Gadis itu terbelalak. Tak pernah dagangannya selaku ini, bahkan jika diletakkan didalam kantin sekalipun. Kena melongok isi keranjang yang ternyata berisi uang hasil dagangannya.
"Nih, den ganteng makanannya" bi Yuni memberikan sepiring nasi uduk dengan minuman teh hangatnya. Alkan menggeser piring dan gelasnya ke depan Kena.
"Makan, gue tau lo belom sarapan"
"Tapi, kak-"
"Makan!"
Kena mengangguk. Mulai menyuap kedalam mulutnya dibawah tatapan dingin Alkan. "Kakak juga harus makan" pintanya pelan agar tak menjadi pusat perhatian.
"Gak lo aja"
Kena menggeleng. "Pokoknya, kak Alkan juga harus sarapan" gadis itu menggembungkan pipinya.
Alkan menatap wajah kena yang menurutnya sangat menggemaskan. "Oke" Kena tersenyum, hendak menggeser piringnya.
"Suapin" lanjut Alkan. Kena tercengang. "Ta-tap-tapi-"
"Gak pake tapi-tapian, kan lo yang maksa gue buat sarapan tadi"
Kena menghela napas lalu menyuapi Alkan yang nampak puas mengerjai dirinya. Suara keributan kecil dari luar mengundang perhatian orang-orang.
"Eh, Ga. Gue bilangin ya sama lo, hamster gua si Anisa itu jenis kelaminnya laki-laki. Makanya gue kaaih nama Anisa" ucap Xenon masuk kedalam warkop.
"Woy anak ketumbar! Dimana-mana nama Anisa buat betina bukan buat jantan" ingat Yoga pada sahabatnya jika yang dilakukannya itu salah.
"Apa sih lo, ga? Udah jelas Ani-. O EM TU DE JI ada saingan pacar!" Xenon berlari ke arah Alkan dan Kena. "Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seger banget dah pagi-pagi udah liat bang Alkan ama pacar barunya lagi suap-suapan. Cocwit.... ya kan, Ga?"
"Bodo amat" sarkas Yoga dan duduk disalah satu kursi panjang.
"Lho kok jadi lo sih yang marah? Harusnya tuh gue yang marah. Masa Anisa dikira betina"
"Bodo amat, Xen. Bodo amat"
"Ih, Ga. Har-"
"Nih" Yoga memberikan selembar uang sepuluh ribu. "Buat apaan, ga?" Tanya Xenon seraya membolak-balik uang tersebut.
"Beli otak biar bisa mikir"
Xenon ber-oh ria lantas berjalan menuju pintu. Berdehem sesaat lalu. "Bi Yuni! Beli otak dong! Kata Yoga yang sepuluh ribuan aja biar bisa mikir"
Satu detik kemudian, tawa Argon pecah termasuk Kena yang tertawa karena kegilaan Xenon dan kini Alkan tampak terpesona dengan binar bercahaya di mata hazel itu.