Entah bagaimana lagi aku harus berkata padamu, jika aku bukanlah gadis sempurna - Alkena Seara Athena
Kena masih menunduk walaupun Alkan sedang berdiri didepannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. "Lo gak ada mau ngomong sesuatu sama gue?"
Kena menggeleng. "Enggak kak"
Alkan berdecak. "Jangan panggil gue kakak, gue bukan kakak lo tapi pacar lo"
Kena mendongak. "Trus saya manggilnya apa?"
"Panggil gue Alkan dan jangan terlalu formal"
"Iya, kak eh maksudnya Alkan" ralat Kena. Alkan tersenyum tipis lalu berbalik dan berjalan menjauh hingga menghilang di ujung koridor.
Kena menghembuskan napas lelah dan masuk kedalam kelas. Dengan mendadak, Adenna menghadang jalan Kena. "Lo utang penjelasan sama gue!"
Gadis bermata hazel itu tau cepat atau lambat sahabatnya pasti akan mengintrogasi tentang Alkan. Kena mendorong bahu Adenna dan berjalan melewatinya. Duduk di tempat lantas menaruh wajahnya diatas lipatan tangan.
Adenna duduk disamping Kena. "Lo kenapa, Ken? Cerita sama gue" Ia menarik tubuh gadis itu hingga menghadapnya.
"Gue capek, Na. Capek dengan hidup gue yang sekarang. Lo tau kan gue takut Argon"
Ucap Kena dengan nada yang terdengar frustasi.
Adenna memeluk tubuh sahabatnya. "Tenang ya, Ken. Gue yakin Alkan mungkin gak sekejam yang kita kira"
"Tapi tetep aja persepsi gue ke dia belum berubah. Dia tuh tukang maksa"
"Alkan pasti berubah kalo dia beneran suka sama lo. Percaya sama gue, Ken" ujar Adenna mencoba menghibur. "Lagian, lo kok bisa jadian sama Alkan?"
Kena menghembuskan napas. "Dia maksa dan gue gak bisa nolak"
Adenna tersenyum. Menguatkan Kena yang nampaknya sudah sangat putus asa. "Untuk sekarang lo cuma harus nikmatin aja prosesnya. Tuhan tau kok kapan kita bahagia" Kena membalas senyum itu, merasa beruntung punya sahabat seperti Adenna.
***
Kena berjalan menuju lokernya. Ingin mengambil beberapa buku pelajarannya. Dan saat pintu loker itu terbuka, Kena terkejut mendapati setangkai mawar tanpa duri yang menyembul diantara selipan lembar buku bahasa Inggrisnya.
Kena mengambilnya lalu mengambil tangkai bunga mawar itu hingga muncul sebuah kertas kuning cantik yang menggantung disana. Gadis itu mulai membaca tulisan yang seperti ceker ayam itu.
Kamu seperti mawar. Indah namun berduri. Tapi, aku tak peduli. Yang kuingin hanyalah dapat memiliki mawar itu walau aku tau jika mungkin aku akan terkena durinya.
-Alkana Reygan
Kena mematung. Tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia menutup lokernya dan menguncinya kembali. Dengan menciumi mawar itu Kena berjalan ke kelasnya. Wangi dan Kena menyukainya.
Ia berjalan dengan tenang kembali ke kelasnya, berharap Adenna akan terkejut dengan sesuatu yang dibawanya. Yang paling Kena amati dari bunga itu adalah ia tak berduri. Seperti sengaja dipotong agar saat Kena menyentuhnya, ia tak terkena durinya.
Gadis itu tersenyum. Mungkin yang dikatakan Adenna tentang Alkan ada benarnya. Namun disisi lain Kena selalu takut jika ini hanyalah sebuah permainan Alkan, mengingat dia adalah ketua Argon.
Dan tanpa disadari Kena, sepasang mata tajam itu memperhatikannya dari jauh, tersenyum tipis saat melihat Kena sangat menerima mawar pemberiannya. Alkan tak tau dengan cara apa lagi dia harus membuat Kena tersenyum dan nyaman didekatnya namun ia akan berusaha agar cewek itu dapat menerimanya sebagai pacar.
***
Alkan berjalan memasuki kelasnya dengan wajah tanpa dosa. Melenggang lurus menuju kursinya. Yang menarik perhatian dari teman-teman kelasnya.
"Widih, bos dari mana lo?" Yogalah yang pertama kali menghampiri dan duduk di kursi yang berada didepannya.
"Dari luar" jawab Alkan singkat. "Dimas mana?" Tanya cowok itu yang tak menemukan sosok sahabatnya yang biasa duduk disebelahnya.
"Yang gak ada di cari, yang ada di cuekkin. Nyesek hati hayati diginiin bang. Nyesek" ucap Xenon mendramatisir.
Alkan merotasikan matanya. "Lebay. Dimas kemana?"
Yoga mengendikkan bahunya. "Gak tau tapi kayaknya lagi ngurusin anak Argon yang baru dah soalnya dia ngomongin itu mulu dari kemaren"
Alkan mengangguk. Lalu tiba-tiba Xenon duduk di samping Alkan dengan wajah yang di melas-melaskan. "Bang Alkan.." ucap Xenon manja.
"Najis gue liat lo kek gitu" sarkas Alkan. Xenon justru semakin memelaskan wajahnya.
"Minjem hape dong bang. Lama kok minjemnya gak akan bentar-bentar" kata Xenon.
Yoga langsung berdecak. "Duit yang kemaren gue kasih buat beli otak udah lo beliin belom, Xen?"
"Udah kok" jawab Xenon tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Alkan. "Trus kenapa belom bisa mikir? Gak dipasang otak lo?" Sambung Yoga.
Xenon mengangguk seraya memainkan ponsel Alkan yang akhirnya diberikan oleh cowok itu. "Iya, ketinggalan di rumah mantan soalnya lagi dicas. Pulang sekolah nanti baru diambil"
"g****k!" Ujar Yoga spontan mendengar jawaban Xenon. Ia memutar kursinya menghadap depan kembali. "Balik lo ke tempat!"
"Ah.... berisik lo, Ga. Jadi mati kan gue main Slither. Gegara lo nih" sungut Xenon, tak terima permainan cacingnya kalah.
Kesal dengan game nya yang kalah Xenon malah membuka aplikasi chatting dan mencari kontak seseorang. "Bang kok nomer mpo gue gak ada sih?" Cowok itu terus menggulir layar ponsel Alkan.
Yoga yang mendengar ucapan sahabatnya mengernyit lalu memutar tubuhnya kembali menghadap belakang. "Emang lo punya kakak? Seinget gue lo anak tunggal"
Xenon cengengesan. "Itu Kena Mpo gue. Kan Alkan abang gue jadi sebagai pacarnya Alkan otomatis Kena jadi Mpo gue dong. Gimana jenius kan gue?"
Dengan tepat, Yoga memukul kepala cowok itu. "Otak lo harus di bawa ke Steam Wash tuh biar bener"
Xenon mengusap-ngusap kepalanya. "Al, gue nanya serius. Kok lo gak ada kontaknya Kena?"
Lama Alkan terdiam, memikirkan perkataan Xenon yang ada benarnya. Kenapa ia tak berpikir sampai situ, tapi ia tak pernah melihat gadis itu memegang handphone.
"Lah, jadi bengong gini. Alkan!" Sentak Xenon menepuk bahu cowok itu. Alkan mendelik tajam, buru-buru Xenon menangkupkan kedua tangannya.
"Ampun baginda. Hamba mohon ampun. Hamba berjanji takkan mengulangi kesalahan ini lagi, baginda"
"Pergi lo!" Usir Alkan secara terang-terangan.
Dengan wajah nelangsa Xenon kembali ke tempat duduknya dengan Yoga namun setelah cowok itu berdiri, Alkan memanggilnya kembali.
"Xen" cowok itu menoleh. "Apa?"
"Hape gue"
Xenon berdecak lalu meletakkan handphone Alkan di meja. "Belom juga gue peringkat 1 maen slither" cowok itu lalu kembali menghadap depan dengan wajah yang ditekuk. "Kadang gue suka gereget dah sama lu bos. Mpo gue kenapa ya kayak takut sama lo, apa gara-gara lo tukang berantem?"
"Xen, otak lo yang cuma sebesar biji kacang itu jangan dibuat mikir. Kasian sumpah sama otaknya" Sahut Yoga prihatin.
"Sialan lo" Maki Xenon.
Alkan menatap ke arah depan seraya memikirkan tentang Kena. Apa mungkin gadis itu tak memiliki handphone?