01.42 WIB
Observatorium Boscha, Lembang – Bandung..
Arya melepaskan matanya dari lensa teleskop raksasa yang sedari tadi dicengkeraminya. Pemuda berusia 23 tahun itu mendesah pelan. Tampak kelelahan terpancar dari wajahnya. Sejak tiga hari terakhir ini, dirinya bagaikan menjadi seekor kelelawar, tidak tidur setiap malam. Itu dilakukannya untuk mengejar tugas skripsinya di jurusan Astronomi ITB.
Pintu di lantai bawah ruang teleskop utama terbuka. Purwanto memasuki ruangan. Kedua tangannya memegang 2 gelas kopi panas yang baru dibuatnya. Purwanto menaiki tangga menuju kearah teleskop utama.
“Aku udah buatin kopi buat kamu,” kata Purwanto sambil meletakkan salah satu gelas yang dipegangnya diatas meja kecil dekat Arya.
“Thanks,”
“Bagaimana? Udah ketemu?” tanya Purwanto. Dan melihat ekspresi wajah Arya, pemuda itu merasa dia telah menemukan jawabannya. Arya mengambil selembar kertas dari lembar-lembar kertas yang berserakan di mejanya.
“Koordinatnya udah betul, kenapa nggak ada?” Arya seakan berkata pada dirinya sendiri.
“Kamu yakin?”
Arya menggangguk pasti.
“Mungkin yang kamu lihat bukanlah bintang. Mungkin saja itu planet atau benda angkasa lain, sehingga sekarang telah berpindah tempat.”
“Tidak! Itu adalah bintang. Percuma aku kuliah selama empat tahun kalo belum bisa membedakan bintang dengan bintang langit lainnya. Aku telah mengamatinya secara teliti, sambil mencari referensi dimana-mana. Dan aku yakin, kalau yang kulihat kemarin bukan termasuk salah satu rasi bintang yang ada.”
“Mungkin tertutup awan.” Kali ini ucapan Purwanto membuat Arya menoleh kearahnya.
“Jangan bercanda! Awan di musim panas ini?” balas Arya, membuat Purwanto diam. Dia tahu percuma berdebat dengan Arya. Walau Arya masuk kuliah satu tahun setelah dirinya, tapi dia sangat pintar dan antusias pada jurusan yang dimasukinya, yaitu astronomi. Itulah yang membuat Arya hampir menyelesaikan skripsinya lebih cepat dari teman-teman seangkatannya, bahkan melampaui dirinya yang skripsinya pun baru setengah jalan.
“Ya udah. Aku mo tidur sebentar. Kalau ada apa-apa bangunin aja...” Purwanto menepuk bahu Arya, dan berjalan menuju tangga, sementara Arya kembali meneruskan pekerjaannya.
Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, suara teriakan Arya menggema di ruangan, membuat dirinya tersentak.
“INI DIA! AKU TAHU PASTI AKAN MENEMUKANNYA!!”
Purwanto tergopoh-gopoh kembali menghampiri Arya.
“Akhirnya!” Arya menghembuskan napas leganya.
“Aku akan menyiapkan kamera untuk memotret. Silahkan kalau mau lihat, tapi hati-hati. Aku tidak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya..” ujar Arya sambil beranjak dari kursinya. Rasa pegal yang menghinggapi dirinya karena berjam-jam duduk di tempat yang sama seolah telah hilang. Purwanto menggantikan tempat Arya dibawah lensa teleskop.
Arya benar. Melalui teleskop, Purwanto melihat sebuah titik berkelap-kelip memancarkan cahaya redup di angkasa, begitu redupnya sehingga hampir-hampir tidak terlihat diantara gemerlap cahaya dari benda langit lain disekitarnya. Dan kali ini Purwanto yakin kalau titik ini belum pernah dia lihat sebelumnya. Apakah itu sebuah bintang baru?