Dua tahun kemudian...
02.34
Observatorium Mauna Kea, Hawaii,
Dering telepon yang berada di samping ranjang membangunkan orang yang tidur diatasnya. Paul Gilbert, kepala observatorium berusia 46 tahun mengangkat telepon dengan setengah hati.
“Jika yang menelpon bukan wanita cantik atau tidak membawa berita bagus, kau akan kukutuk menjadi seorang insomnia!” gerutu Paul sebelum menempelkan telepon di telinganya.
“Pak! Anda harus cepat kemari! Ada sesuatu yang harus anda lihat!”
“Ada apa!?”
“Tidak bisa kujelaskan di telpon. Anda harus kemari! Ini penting!”
“Baiklah! Kemana aku harus pergi?”
“Keck, Pak!”
Beberapa menit kemudian Paul telah berada di dalam Twin United States Keck Telescope, teleskop terbesar yang berada di komplek observatorium Mauna Kea.
“Sebaiknya ini bagus!” ucap Paul.
Dia hanya memakai kaos dan celana lusuh yang telah dipakainya selama dua hari ini. Rambutnya juga masih acak-acakan.
Di dalam ruang teleskop ada dua orang yang penampilannya tidak jauh beda dengan Paul. Salah seorang diantaranya yang sedang menghadapi sebuah teleskop berukuran sangat besar. Kemuadian, pria berkulit hitam dan berusia sekitar 30 tahunan memberikan lima lembar foto berukuran 10R. Paul melihat lima lembar foto itu dengan seksama. Itu adalah foto sebuah bintang yang dipotret dari dalam observatorium dalam beberapa hari ini.
“Ini foto dari Bintang Alpha Veta. Kami mengambil gambarnya dalam dua hari terakhir ini.” Orang berkulit hitam yang bernama Tracy Rustin menjelaskan. Dia yang bertanggung jawab atas bangunnya Paul malam ini.
“Semakin lama, cahaya bintang itu semakin terang. Apa anda tahu tentang itu Pak?”
Paul tidak langsung menjawab pertanyaan Tracy. Dia mengamati lembar demi lembar foto dihadapannya. Foto terakhir diambil pukul 00:15.
“Bagaimana sekarang?” tanya Paul.
“Sebaiknya anda lihat sendiri.” Paul mengambil alih lensa teleskop dari tangan teman Tracy yang bernama Burt Mayweather.
Beberapa saat kemudian,
“Tidak mungkin! Kita harus menghubungi NASA! Mereka pasti telah mengetahui hal ini!”
03.12 WIT, Jayapura - Papua
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an berkumandang memecah pagi yang dingin dari sebuah rumah sederhana yang berada di daerah Dok 5, sebelah barat kota Jayapura, Papua. Suara yang merdu itu berasal dari mulut seorang remaja putri berusia sekitar 15 tahun di dalam sebuah kamarnya.
Pintu kamar terbuka ketika gadis itu menyudahi bacaannya.
“Ridha, sahur dulu... makanan sudah siap...”
Ridha menoleh kearah ibunya yang berdiri di balik pintu.
“Sebentar lagi Bu...”
“Jangan terlalu lama, nanti keburu Imsak..”
10 menit kemudian Ridha bersama ayah ibunya telah berada di meja makan. Bersiap-siap untuk sahur, sebagai bagian dari ibadah puasa di bulan Ramadhan.
“Oya Bu, tadi malam Priska nelepon. Mungkin lebaran nanti dia tidak bisa pulang. Sibuk katanya. Sebagai orang baru dia banyak dapat tugas saat ini. Lagipula hari-hari menjelang lebaran, semua pesawat dan kapal laut telah penuh. Dia titip salam saja buat Ibu dan Ridha. Tadinya Priska mau bicara pada ibu. Tapi karena Ayah lihat Ibu sudah tidur, dan tidurnya pulas sekali, Ayah tidak tega membangunkan. Kata Priska, dia akan berusaha menelepon kesini pas lebaran...” kata Ayah Ridha sebelum mereka mulai makan.
“Ini pertama kalinya kita berlebaran tanpa Mbak Priska ya Bu.” ujar Ridha.
“Yahhh... apa mau dikata. Mbakmu telah tau resiko saat menerima pekerjaannya. Dan bukankah itu semua cita-cita Priska sejak lama? Kita hanya bisa mendukung dan berdoa semoga dia bisa berhasil... bukan begitu Bu?” ayah Ridha melirik kearah istrinya yang hanya diam. Pikiran wanita setengah baya itu sedang tertuju pada anaknya yang berada di seberang lautan, nun jauh disana.
06.10 WIB , Bandung-Jawa Barat
“...Pemirsa, pada H minus dua menjelang hari raya Idul Fitri ini kepadatan kendaraan yang melewati tanjakan Nagrek sudah mulai ada peningkatan, walau belum menimbulkan kemacetan berarti. Arus kendaraan diperkirakan akan mencapai puncaknya besok, pada H minus satu. Saya Priska Chindyana melaporkan untuk VanTV langsung dari tanjakan Nagrek, Bandung.”
Priska Chindyana, lalu menyerahkan mic yang tadi dipegangnya selama kurang lebih 15 menit pada salah seorang kru TV yang ada di dekatnya.
“Bagus Ka...sekarang kamu siap-siap kembali ke Jakarta. Indra akan menggantikan kamu disini.” Kata seorang pria yang sedari tadi berdiri di dekat juru kamera. Dia adalah Budi Haryono, salah seorang kru VanTV.
“Kamu ke Jakarta naik kereta yaa? Soalnya semua mobil masih dipake di Bandung, dan semua travel udah penuh. Ini tiket kereta kamu, dua jam lagi. Nanti kamu akan diantar ke hotel lalu langsung ke stasiun. Kamu sudah berkemas kan?” lanjut Budi.
Priska hanya mengangguk mengiyakan sambil mengibaskan rambutnya yang panjangnya sebahu.
Dua jam kemudian, Priska berada dalam kereta api Argo Parahyangan yang akan membawanya ke Jakarta. AC pada kereta membantu menghilangkan keringat yang sedari tadi menempel pada bajunya. Aneh! Pikir Priska. Baru jam setengah sembilan pagi, tapi udara Bandung sudah terasa panas.
Dulu ketika Priska masih kuliah di Bandung, hawa kota yang sering dijuluki “Paris Van Java” belum sepanas ini. Bahkan jam segini biasanya dia masih tidur di kamar kostnya dengan memakai selimut tebal. Priska tadi telah mandi di hotel, tapi semua itu sia-sia ketika keringatnya kembali muncul. Bahkan menurut dia, Jakarta pun tidak sepanas ini. Mungkin karena adanya perubahan iklim akibat rusaknya alam oleh manusia, sehingga iklim makin terasa tidak menentu dan makin menyiksa. Bagi Priska yang sedang berpuasa, udara panas sedikit menghambatnya. Keinginan untuk minum kadang muncul di kepalanya, walau selama ini dia masih bisa menahannya.
Tempat duduk disebelah Priska masih kosong. Mungkin nanti ada seseorang yang akan duduk, karena tiket kereta api ini telah habis terjual. Dan siapapun orang itu, Priska berharap dia adalah orang yang menyenangkan, syukur-syukur bisa diajak ngobrol. Atau paling tidak orang itu tidak akan membuatnya terganggu selama perjalanan dan punya keinginan untuk meloncat dari kereta yang sedang berjalan.
Lima menit sebelum kereta berangkat, sesosok tubuh berdiri di samping kursi yang kosong. Priska memandang kearah seorang pemuda yang sedang menaruh tasnya di atas kursi. Wajahnya tertutup topi yang dipakainya sehingga tidak bisa terlihat jelas. Tanpa basa-basi pemuda tersebut duduk disamping Priska. Saat itulah Priska dapat melihat jelas dari arah samping, dan dia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.
“Arya?” panggil Priska lirih, hampir tidak terdengar karena dia takut salah orang. Tapi suaranya itu sudah cukup membuat pemuda disampingnya menoleh.
“Kamu Arya?” ulang Priska. Kali ini sedikit lebih keras. Pemuda itu mengamati wajah Priska sejenak.
“Priska?”
“Ya Tuhan! Lo bener-bener Arya yach!?” tanpa sadar Priska setengah berteriak sehingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menoleh kearah mereka.
“Sssttt...” Pemuda bernama Arya itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengingatkan Priska. Priska jadi malu sendiri.
“Nggak nyangka bisa ketemu lo lagi disini.” Kata Priska
“Sama. Apa kabar?” tanya Arya.
“Baik. lo?”
“Baik juga.”
Suara peluit kereta menandakan kereta akan segera berangkat. Priska merasa perjalanan kali akan menyenangkan. Bertemu dengan teman lama yang dikenalnya semasa kuliah. Mereka pun berbincang-bincang akrab mengenai keadaan masing-masing sepanjang perjalanan.
“Oya, bagaimana kabar Putri? Kalian masih pacaran kan?” pertanyaan Priska membuat raut wajah Arya tiba-tiba berubah. Sejenak pemuda tersebut terdiam. Dari raut wajah Arya, Priska telah dapat menduga apa yang terjadi. Pasti bukan sesuatu yang menggembirakan.
“Kami telah putus. Nggak lama setelah Putri lulus.” Jawab Arya.
“Putus. Kenapa?”
“Lo sudah bisa tebak. Masalah lama..”
“Karena kalian beda agama?”
Arya mengangguk pelan.
“Apa yang gue khawatirkan sejak awal terjadi juga. Setelah lulus, orangtua Putri mulai mengungkit hubungan kami. Mereka nggak setuju Putri terus berhubungan denganku, karena kami berbeda agama. Rupanya Putri nggak tahan dengan tekanan terus menerus dari orangtuanya. Kami jadi sering ribut. Apalagi sejak Putri pulang ke rumah orangtuanya di Sumedang, hubungan kami semakin renggang. Komunikasi semakin jarang. Sampai akhirnya Putri nelpon gue, mutusin hubungan kami tanpa mau bilang alasannya. Gue baru tahu alasannya sebulan kemudian saat ketemu adiknya Putri di Bandung. Dia bilang kakaknya udah married dengan pria pilihan orangtuanya yang sekarang kerja di Batam. Putri sekarang ikut dengan suaminya.”
Priska menghela nafasnya. dia melihat ada raut kesedihan dalam wajah Arya saat menceritakan kisahnya
Ingatan Priska kembali pada masa ketika dia masih kuliah. Dia mengenal Arya karena sama-sama tinggal di lingkungan kost mahasiswa di Bandung, walau berbeda rumah kost. Mereka sering makan ditempat yang sama, dan sering berangkat kuliah bareng walau kuliah di tempat yang berbeda. Tanpa terasa hubungan Arya dan Priska sangat dekat. Walau begitu mereka hanya bersahabat tanpa ada niat untuk pacaran. Sifat Priska yang cenderung tomboi dan senang bicara ceplas-ceplos, apa adanya membuat Arya senang bersahabat dengan gadis itu. Arya sering curhat pada Priska, demikian pula sebaliknya. Dari Priska pulalah Arya kenal Putri yang satu kost dengan Priska. Berbeda dengan Priska, sifat Putri sedikit pendiam, lembut dan yang penting….selalu memakai rok! Mungkin itulah yang membuat Arya jatuh hati kepada Putri, dan akhirnya mereka pacaran. Walau tidak keberatan, tapi diam-diam Priska merasa cemas dengan hubungan mereka, terutama untuk jangka panjang. Apalagi kalau dia melihat Arya ternyata serius dengan Putri, juga sebaliknya. Sebabnya karena perbedaan agama dan keyakinan. Arya beragama Katolik, sedangkan Putri beragama Islam. Apalagi Priska tahu kalau Putri berasal dari keluarga yang sangat ketat dalam urusan agama, bahkan cenderung ortodok. Ayahnya adalah seorang pemuka agama yang sangat dihormati di daerahnya. Hubungan mereka akan sulit jika ingin berlanjut ke jenjang selanjutnya, seperti pernikahan, walau mereka berdua benar-benar saling mencintai. Priska pernah mengutarakan hal ini baik pada Arya dan Putri. Tapi keduanya hanya tertawa mendengarnya. Jawaban mereka hampir sama saat itu. Hal itu masih jauh, dan mereka belum memikirkan hal itu.
Dan sekarang kekuatiran Priska terbukti. Hubungan Arya dan Putri tidak berlanjut. Di Indonesia memang masih sulit melaksanakan pernikahan beda agama. Selain masalah kultur sosial, masalah hukum juga ikut menyulitkan hal itu. Hukum di Indonesia tidak mengenal adanya pernikahan lintas agama.
“Maaf kalau gue nyinggung soal itu.” Ujar Priska lagi.
“Nggak papa. Itu kan udah lama. Gue aja udah hampir ngelupain soal itu.” Jawab Arya, membuat Priska sedikit terbebas dari rasa bersalahnya.
“Lo nggak pernah contat dengan Putri?” tanya Arya.
Priska menggelengkan kepalanya. Sejak dia lulus kuliah, setahun lebih cepat dari Putri, Priska pulang dulu ke rumah orangtuanya di Jayapura, sebelum dia datang ke Jakarta mencari pekerjaan. Dan sejak itu mereka mulai jarang berkomunikasi. Saat itu Priska maklum karena Putri sedang sibuk dengan skripsinya. Terhadap Arya pun demikian. Terus terang, sejak Arya resmi pacaran dengan Putri, hubungan dirinya dan pemuda itu tidak seakrab dulu. Selain karena Arya lebih sering bersama Putri, Priska pun menjaga jarak. Dia tidak ingin Putri berprasangka buruk padanya. Pernah Putri marah padanya karena melihat dia makan berdua dengan Arya di kafe, sambil bercanda dengan akrabnya, seolah-olah tidak ada batas. Padahal, bagi Priska dan Arya itu adalah hal yang biasa karena mereka sering melakukannya sejak lama, jauh sebelum Arya kenal dan pacaran dengan Putri. Tapi bagi Putri, hal itu menimbulkan rasa cemburu di hatinya. Karena itulah Priska berusaha tidak terlalu dekat lagi dengan Arya. Bahkan saat Arya lulus dan kembali ke Jakarta, Priska tidak berusaha menghubungi Arya. Dia juga mengganti nomer HP-nya supaya Arya tidak bisa menghubunginya. Semakin lama Priska jadi semakin kehilangan kontak dengan Arya dan Putri, hingga sekarang.
Arya membuka kantong plastik yang dibawanya. Ternyata kantong plastik itu berisi sepotong roti kecil dan sebotol kecil air putih.
“Mau?” tawarnya pada Priska.
Priska hanya menatap pada Arya. Seketika itu juga Arya menepuk keningnya.
“Oh My God! Sorry gue lupa! Lo pasti lagi puasa.” Priska hanya tersenyum.
“Kok nggak jadi makan?” tanya Priska melihat Arya menyimpan roti dan minumnya kembali.
“Nggak ah! Ntar aja.”
“Kenapa? Nggak enak ama gue? Basi lo....”
“Lo kan lagi puasa?”
“Emang kenapa? Kalau gue puasa berarti lo juga ikut puasa? Lo kayak baru kenal gue aja. Gue tau lo pasti belum sarapan kan? Makanya bawa roti. Daripada kelaparan, mending lo makan aja. Gue nggak merasa terganggu kok! Bukannya dulu lo juga cuek aja makan di depan gue pas gue lagi puasa? Malah lo sengaja godain gue biar batal” sahut Priska.
“Lo masih inget juga soal itu..” ujar Arya sambil tersenyum.
Setelah menimbang-nimbang, Arya akhirnya menuruti ucapan Priska. Benar kata Priska. Dia memang sedari pagi belum sarapan. Selain terburu-buru, di bulan puasa ini hampir tidak ada tempat makan yang buka pagi-pagi. Roti inipun dibelinya tadi malam. Sekilas mata Arya memperhatikan sekeliling tempat duduknya. Ternyata selain dia, ada beberapa penumpang lain yang juga sedang makan dan minum. Layanan restorasi kereta juga masih hilir mudik disini.
“Lo tetep puasa diantara orang-orang dan makanan yang hilir mudik ini?” tanya Arya
“So? Bagi gue semua sama aja. Justru menurut gue, ibadah puasa akan semakin berarti jika godaannya banyak. Semakin banyak godaan disekeliling kita, semakin diuji kadar keimanan kita. Dan semakin kita kuat menahan godaan, makna puasa bagi kita akan semakin terasa.” Jawab Priska.
“Lo emang begitu. Selalu aja cuek ama keadaan.” ujar Arya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.