Sepuluh tahun setelah pernikahan kontrak, Maya berumur tiga puluh lima.
Sasi berumur sembilan. Punya adik laki-laki bernama Bayu yang berumur empat tahun. Bayu lahir tiga tahun setelah Sasi—kelahiran yang Maya pikir tidak akan terjadi, karena dokter bilang tubuh-nya butuh waktu pulih lebih lama setelah persalinan pertama yang berat.
Mansion Cipete sekarang dipakai untuk kantor kawanan. Damar dan Maya tinggal di Sukabumi, kecuali waktu rapat besar atau acara formal kawanan—yang biasanya dua kali setahun.
Pratama—saudara tiri Damar—menikah dua tahun lalu dengan perempuan dari kawanan kecil di Bali, punya anak laki-laki sekarang umur satu tahun. Kawanan Wijayakusuma dan Pradipta sekarang sekutu permanen, dengan perjanjian formal yang Pratama dan Damar tanda tangan di hadapan tetua-tetua semua kawanan Indonesia.
Bibi Suti meninggal lima tahun lalu, di umur tujuh puluh delapan, tenang di rumahnya di Antapani Bandung. Maya menerima warisan: rumah herbal Bibi Suti, dengan janji untuk menjaganya. Maya pindah-tinggal di sana sebulan setiap tahun, untuk merawat tanaman Bibi Suti dan mengingat.
Sasi mulai menunjukkan tanda-tanda kawanan. Mata kuningnya muncul lebih sering—kalau dia marah, kalau dia takut, kalau dia berlari terlalu cepat. Dia bisa mendengar percakapan dari jarak yang jauh, yang membuat Damar harus hati-hati saat bicara di telepon kantor. Dia tidak suka makan ayam—refleks predator yang aneh, kata Dewangga, "anak kawanan biasanya begitu di umur sembilan, akan hilang di tujuh belas."
Bayu lebih ke manusia. Mata coklat tua biasa. Tidak ada tanda-tanda kawanan. Damar tidak khawatir—beberapa anak kawanan memang manifest lambat, atau tidak sama sekali. "Anak kau, anak kau," dia bilang ke Maya. "Mereka pilih sendiri jalan mereka."
***
Suatu malam, saat Sasi dan Bayu sudah tidur, Maya duduk di teras dengan Damar. Bintang banyak—malam Sukabumi yang tidak pernah benar-benar bersih dari bintang.
"Damar."
"Iya."
"Saya menulis novel."
"Saya tahu. Saya baca draf-mu di laptop kau minggu lalu."
"Damar! Kau—"
"Maaf. Saya tidak bisa menahan. Saya istri penulis—maksud saya, suami penulis. Saya boleh dong mengintip."
Maya tertawa, tapi pipinya panas.
"Selesai. Bukan draf lagi."
Damar menoleh. Wajahnya serius sekarang.
"Yang tentang... kita?"
"Iya. Tapi disebut fiksi. Saya tidak menggunakan nama asli kita. Pasangan utamanya 'Maya Hartono' dan 'Damar Wibawa'—nama yang saya pinjam dari teman SMA."
"Maya. Itu—"
"Saya tahu. Beresiko. Kalau ada orang dari kawanan yang baca dan kenali setting, bisa bahaya. Tapi saya merasa—saya harus tulis. Selama ini saya menulis novel komersial yang aman. Yang ini saya menulis dari hati."
Damar diam sebentar.
"Maya. OK. Tulis. Saya percaya kau. Kalau ada yang kenal—kita hadapi bareng."
***
Maya kirim naskah ke beberapa penerbit. Dua menolak (alasan: "konsep paranormal terlalu spesifik, sulit dijual ke target market wanita"). Satu—penerbit independen kecil di Yogya bernama Dewi Rerimbun—menerima.
Buku itu rilis setahun kemudian. Judul: "Mate". Sederhana. Sampul gelap dengan satu bulan purnama.
Cetakan pertama habis dalam tiga minggu—pertanda yang Maya tidak siap. Cetakan kedua dalam dua bulan. Cetakan ketiga dalam empat bulan.
Setahun setelah rilis, "Mate" jadi salah satu novel paranormal romance terlaris di Indonesia. Pembaca bertanya di forum-forum: apakah ini berdasarkan kisah nyata? Maya tidak pernah konfirmasi. Damar tertawa setiap kali ada wawancara penerbit yang menanyakan itu lewat email.
"Saya tidak pernah mengira saya menikahi penulis terkenal," Damar berkata suatu pagi, membaca review baru di koran Kompas yang dikirim ke rumah Sukabumi tiap pagi.
"Saya tidak pernah mengira saya menikahi alpha kawanan," Maya menjawab dari dapur, sambil menyajikan pancake untuk Sasi yang baru bangun.
"Touché."
***
Mereka sarapan bersama. Sasi dan Bayu di sebelah Damar, sibuk dengan oat dan berebut buah strawberry yang Maya iris di tengah meja.
Maya menatap keluarganya. Pria yang dulu adalah orang asing yang dia tanda tangan kontrak nikah dengan tanpa pernah ketemu. Dua anak yang dia tidak pernah membayangkan ada—yang sekarang berebut strawberry seperti dua anak normal manapun.
Rumah di gunung yang aroma kopi-nya selalu sama setiap pagi. Yuni dan Bagas yang masih di paviliun belakang, sekarang punya dua anak juga. Pratama yang datang setiap bulan untuk rapat sekutu kawanan.
Empat ratus tiga puluh dua hari kontrak—sudah lewat sepuluh tahun yang lalu.
Mate bond di tubuhnya—masih hidup, masih kuat, masih satu-satunya hal yang Maya percaya tanpa pertanyaan.
"Bunda," Sasi berkata sambil mengunyah pancake. "Bunda kapan tulis cerita Sasi?"
Maya tersenyum.
"Kapan-kapan, sayang. Kalau Sasi sudah cukup besar untuk Bunda cerita semua kebenaran tentang keluarga kita."
"Janji?"
"Janji."