Suatu pagi, dua puluh tahun setelah pernikahan kontrak pertama mereka, Damar dan Maya pergi ke pemakaman.
Pemakaman ibu Maya—yang tidak pernah Damar kunjungi sebelumnya. Maya selalu ingin sendirian saat ke sana, sekali setahun di hari kematian ibunya, sebagai ritual pribadi yang Damar hormati.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini mereka pergi bersama. Hari ini ada hal yang Maya pikir ibu-nya berhak dengar dari mereka berdua.
Damar membawa karangan bunga melati—bunga favorit ibu Maya, dari cerita Maya. Maya membawa surat yang dia tulis tujuh hari yang lalu, di malam yang dia tidak bisa tidur karena memikirkan ini.
Mereka berdiri di pusara yang sederhana. Marmer abu-abu. Tertulis: *"Sri Hartati. Ibu yang baik. 1968-2019."*
Damar meletakkan bunga di kepala pusara. Pelan, dengan sopan—seperti dia memberi salam pada ibu mertuanya secara langsung.
Maya membuka surat.
"Ibu."
Suara Maya pecah di kata pertama.
"Ibu. Saya tahu kenapa Ibu menulis surat wasiat itu. Saya tahu kenapa Ibu memilih Damar. Saya tahu Ibu setengah serigala—Bibi Suti cerita semuanya sebelum dia meninggal lima tahun lalu. Dan saya... saya tidak marah. Sudah lama tidak marah."
Maya menarik napas.
"Awalnya saya marah. Saya pikir Ibu menjual hidup saya untuk menyelamatkan martabat keluarga. Saya pikir Ibu tidak peduli dengan apa yang saya mau. Saya pikir Ibu egois—mengatur hidup saya bahkan dari kuburan. Tapi sekarang... saya umur empat puluh lima. Saya ibu dari dua anak. Suami saya alpha kawanan yang saya cinta dengan setiap atom di tubuh saya. Rumah kami di Sukabumi adalah hal paling murni yang pernah saya punya."
"Ibu. Terima kasih."
Maya menangis. Damar berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, memberi Maya ruang.
"Ibu memberi saya bukan cuma warisan. Ibu memberi saya keluarga. Ibu memberi saya tempat di dunia yang saya tidak pernah tahu ada untuk saya."
"Saya cinta Ibu. Selalu. Walaupun kita pernah berantem soal pilihan hidup. Walaupun Ibu tidak pernah cerita banyak tentang siapa Ibu sebenarnya. Walaupun Ibu pergi terlalu cepat."
Maya melipat suratnya. Memasukkan ke amplop yang dia bawa. Meletakkannya di pusara—di antara bunga melati.
Damar memeluk Maya dari belakang. Dagunya di bahu Maya.
"Maya. Ibu kau orang yang luar biasa."
"Iya."
"Saya akan bawa Sasi dan Bayu ke sini suatu hari. Cerita tentang nenek mereka. Tentang dari mana darah Tirtonegoro berasal."
"Iya. Mereka akan suka."
***
Mereka berdiri di pemakaman cukup lama. Matahari mulai turun. Pemakaman itu sepi—pemakaman keluarga di pinggir Bandung yang tidak banyak dikunjungi orang luar.
Sebelum mereka pulang, Maya membisikkan satu hal terakhir ke pusara ibunya, terlalu pelan untuk Damar dengar:
"Ibu. Damar baik. Lebih baik dari yang Ibu bayangkan saat Ibu memilih dia delapan belas tahun lalu."
Angin lewat. Bunga melati di pusara bergoyang pelan.
Maya menggenggam tangan Damar.
"Pulang yuk, Mas."
"Yuk, Sayang."
***
Mereka pulang ke Sukabumi malam itu. Sasi dan Bayu sudah menunggu di teras dengan masakan Sasi—telur dadar yang sebagian gosong tapi disayangkan, dengan saus tomat yang Sasi banggakan sebagai "bumbu rahasia."
"Bunda! Papa! Saya bikin makan malam!"
"Sasi, kau—"
"Saya panggil Bunda dan Papa Bunda kemarin. Tante Yuni bantu nyicipin bumbu."
Maya tertawa. Damar mengangkat Bayu yang berlari ke arahnya.
Mereka makan bersama. Bertawa. Saling menggoda tentang seberapa gosong telur dadar Sasi.
Empat puluh lima tahun. Maya pikir hidupnya berakhir saat ibunya meninggal di umur delapan belas.
Ternyata baru mulai.