Pukul delapan tiga puluh malam, Maya turun ke ruang makan dengan jantung yang masih belum tenang.
Dia sudah ganti baju—dress sederhana yang dia bawa dari Tebet, satu-satunya yang tidak terlalu kasual untuk ruang makan dengan meja kayu mahogani sepanjang lima meter. Dia juga sudah cuci muka tiga kali, mencoba menghilangkan kemerahan di matanya. Tapi kepalanya masih dipenuhi gambar tiga "anjing" berdiri tegak di taman.
Damar Pradipta sudah duduk di kepala meja saat Maya masuk. Dan saat Maya melihatnya untuk pertama kalinya secara langsung—bukan dari foto majalah yang sudah di-retouch—dia mengerti kenapa hampir tidak ada wartawan yang berhasil dapat wawancara dengan pria ini.
Damar mengenakan kaos hitam sederhana—bukan jas yang dia pakai di foto-foto majalah. Rambut basah, baru habis mandi, agak menggantung di dahi. Tangannya memegang gelas air mineral. Postur tubuhnya tidak menonjol, tapi Maya tetap merasakan—tanpa bisa menjelaskan kenapa—bahwa pria ini bisa membuat ruangan jadi sunyi hanya dengan masuk.
Saat Maya masuk, Damar berdiri.
"Maya."
Suaranya rendah. Tenang. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Maya tiba-tiba sadar: dia sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak biasa. Bukan tidak biasa dalam arti "selebriti"—tidak biasa dalam arti yang lebih dalam.
"Pak Damar."
"Damar saja. Kita sudah menikah secara hukum sejak kemarin. Pak terlalu formal."
Maya menelan ludah. Duduk di kursi yang Damar tarikkan untuknya—gerakan yang otomatis, sopan, tidak dibuat-buat.
Makan malam datang. Sup kepala ikan dengan kuah bening yang mengepul. Ayam panggang dengan bumbu rica yang aromanya sudah membuat perut Maya keroncong. Tumis kangkung dengan terasi. Sederhana, tapi setiap piring kelihatan dimasak dengan perhatian.
Mereka makan dalam diam. Lima menit penuh. Maya berusaha tidak menyendok terlalu cepat, tidak terlihat lapar. Padahal dia lapar—sangat. Sarapan tadi pagi cuma roti tawar dengan air putih, karena uang amplop dari notaris belum sempat dia tarik dari ATM.
Setelah lima menit, Damar memecah kesunyian.
"Saya minta maaf untuk ini semua."
Maya mendongak.
"Ini?"
"Kontrak. Pernikahan. Cara saya menjemput kau yang seperti culik. Semuanya. Saya tahu kau—"
Damar berhenti. Memperbaiki diksi.
"Saya tahu kau pasti merasa terjebak."
"Pak— Damar. Kenapa kau setuju?"
Damar menatap Maya. Lama. Mata gelapnya—yang di foto kelihatan seperti coklat tua—sekarang dari jarak dekat kelihatan punya sesuatu yang lain. Lapisan-lapisan. Coklat di luar, sesuatu yang lebih emas di tengah, dan—Maya curiga, tapi tidak yakin—berkilau saat cahaya lampu dapur menyentuhnya dari sudut tertentu.
"Karena Ibu kau pernah menyelamatkan ibu saya."
Maya hampir menjatuhkan sendoknya. Sup di sendok hampir tumpah ke meja.
"Apa?"
"Tiga puluh tahun lalu. Ibu saya hampir mati saat melahirkan saya—pendarahan hebat di rumah sakit di Bandung. Ibu kau yang waktu itu masih kuliah kedokteran tingkat akhir, sedang internship di rumah sakit yang sama, ikut menangani."
"Saya... saya tidak pernah dengar cerita itu."
"Ibu kau tidak pernah cerita?"
"Tidak."
Damar mengangguk pelan. Seperti mengonfirmasi sesuatu pada dirinya sendiri.
"Itu tipikal beliau, dari yang ibu saya cerita. Ibu kau orang yang baik. Setelah kejadian rumah sakit itu, dua keluarga kami tetap berhubungan—diam-diam, tidak banyak orang lain tahu. Ketika ibu kau divonis kanker, dia menulis surat ke ibu saya: minta tolong, kalau aku meninggal duluan, tolong pastikan Maya—anakku—punya orang yang menjaga."
"Jadi pernikahan ini—"
"Bukan pernikahan asmara. Saya tahu kau pikir mungkin itu. Bukan. Ini... kewajiban keluarga. Saya bayar utang ibu saya dengan menjaga kau setahun."
Maya menatap Damar. Pria yang bicara dengan suara yang terlalu tenang. Yang tatapan matanya berkilau aneh dalam cahaya lampu meja makan.
"Kenapa harus serumah? Kenapa tidak cukup biaya hidup saja? Saya bisa tinggal di kontrakan, kau kirim deposit bulanan, kontrak resmi tetap ada di KUA—"
Damar diam sebentar. Memilih kata.
"Karena ada orang yang mau menyakiti kau, Maya. Dan kalau kau tinggal di sini, mereka tidak bisa menyentuh kau."
"Menyakiti? Saya bukan siapa-siapa. Saya analis event organizer yang baru di-PHK. Saya tidak punya musuh. Saya bahkan belum pernah ditolak kerjasama oleh klien."
Damar menatap Maya dengan tatapan yang membuat dia tiba-tiba dingin walaupun ruang makan ber-AC sedang.
"Itu yang kau pikir."
Setelah makan, mereka berpisah ke kamar masing-masing tanpa banyak kata lagi. Maya tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi. Pikirannya mengulang kalimat-kalimat Damar—dan tiga "anjing" di taman.
Pukul tiga lima belas, dia bangun karena bunyi.
Bukan suara dari taman kali ini. Suara dari kamarnya sendiri.
Sosok berdiri di sudut kamar. Diam. Menatap.
Mata kuning emas berkilau dalam gelap.
Maya menjerit.
Lampu menyala otomatis—sensor gerak, Maya akan sadar nanti.
Sosok itu—yang ternyata Damar, dalam pakaian tidur hitam—sudah menjauh ke arah pintu. Matanya kembali normal coklat tua. Tapi terlambat. Maya sudah lihat.
"Maya, maaf. Saya patroli rutin. Saya pikir kau sudah tidur. Saya tidak masuk untuk—"
Tapi Maya melihat. Dia tahu apa yang dia lihat.
Mata kuning. Tubuh besar—tubuh Damar sekarang kelihatan lebih kecil dari yang Maya lihat sedetik lalu di sudut kamar. Bayangan yang lebih dari manusia.
"Damar," Maya berkata pelan, suaranya gemetar. "Apa yang kau sembunyikan dari saya?"
Damar berdiri di pintu. Tidak menjawab. Hanya menutup pintu pelan.
Tapi sebelum pintu menutup penuh, Maya mendengar dia berbisik—ke siapa, Maya tidak tahu, mungkin pada dirinya sendiri:
*"Besok, saya cerita."*