Damar tidak menjawab pertanyaan Maya malam itu. Hanya keluar dari kamar Maya, menutup pintu pelan, dan menghilang ke sayap kiri mansion.
Pagi berikutnya, Maya menemukannya di teras belakang. Sedang minum kopi. Sendirian. Matahari pagi sudah masuk dari celah pohon-pohon, membentuk garis-garis cahaya di lantai keramik teras. Ada dua cangkir di meja—cangkir Damar yang sudah setengah kosong, dan satu lagi yang masih penuh, mengepul, menunggu.
Maya duduk di kursi seberangnya. Tidak basa-basi.
"Kemarin malam, saya melihat mata kau berubah."
Damar menatap kopi di tangannya. Tidak terkejut—seolah dia sudah menyiapkan jawaban sejak semalam.
"Saya juga melihat, tiga jam sebelum makan malam, di taman, ada—bukan anjing. Sesuatu yang lebih besar. Berdiri tegak. Mata mereka kuning."
Damar masih tidak menjawab.
"Damar, saya tidak gila. Dan kalau kau tidak jujur sama saya, saya pulang sekarang. Persetan dengan warisan ibu. Saya bisa cari kerja lain. Saya punya skill."
Damar akhirnya menatap Maya. Lama. Lalu menarik napas panjang.
"Duduk."
"Saya sudah duduk."
"Maya. Yang kau lihat kemarin... benar."
"Apa yang benar?"
Damar meletakkan cangkirnya. Duduk lebih tegak. Pose seseorang yang akhirnya akan mengakui sesuatu yang sudah lama dia simpan.
"Saya bukan manusia, sepenuhnya. Saya alpha kawanan."
"Kawanan apa."
"Kawanan serigala."
Maya menatap Damar. Menunggu dia tertawa. Menunggu dia bilang ini lelucon—mungkin lelucon ujian, mungkin prank reality show yang aneh.
Damar tidak tertawa.
"Damar, kau sadar yang kau bilang—"
"Edan, ya. Saya tahu. Tapi kau lihat mata saya kemarin malam. Kau lihat mereka di taman. Kau tahu yang kau lihat bukan halusinasi."
Maya menelan ludah. Karena memang... dia tahu. Otak rasionalnya berusaha menjelaskan—mungkin migrain, mungkin jet lag pindahan, mungkin imajinasi karena baca novel terlalu banyak—tapi hatinya, di tempat di bawah otak rasional, sudah tahu sejak melihat tiga sosok di taman.
"Berapa banyak kalian?"
"Di mansion ini, dua belas. Di Indonesia, ada empat kawanan utama. Pradipta—kawanan saya, basis Jakarta. Wijayakusuma—Surabaya. Tirtonegoro—Yogyakarta, dulu, sekarang sebagian besar sudah berasimilasi dengan manusia. Kusumawardhana—Medan."
"Yuni?"
"Beta. Tangan kanan saya di operasional rumah."
"Pegawai-pegawai—"
"Semuanya kawanan. Mansion ini bukan rumah biasa, Maya. Ini base kawanan Pradipta. Saya alpha—pemimpin. Yang lain melayani."
Maya memejamkan mata. Membuka. Memejamkan lagi. Damar masih duduk di sana. Masih bicara dengan suara tenang seperti membahas laporan kuartalan kepada dewan komisaris.
"Pernikahan ini," Maya berkata pelan, suaranya nyaris berbisik. "Bukan cuma utang ibu kau, kan?"
Damar mengangguk pelan.
"Sebenarnya bukan itu sama sekali. Utang itu real—ibu saya memang dibantu oleh ibu kau. Tapi alasan utama, kenapa saya menerima kontrak ini, bukan itu."
"Lalu apa?"
"Maya. Saya butuh menikahi seseorang dari... lingkar manusia, atau setidaknya yang muncul sebagai manusia di publik. Untuk memperkuat posisi kawanan. Hukum kawanan: alpha yang belum punya pasangan resmi sebelum umur tiga puluh satu, bisa ditantang oleh kawanan rival untuk posisi alpha-nya."
"Ditantang."
"Untuk pertarungan sampai mati."
Maya mencengkram tepi meja. Tehnya yang masih penuh sekarang dingin, tidak diminum.
"Jadi saya... topeng. Kau pakai saya supaya kau tidak ditantang."
Damar mengangguk. Wajahnya, untuk pertama kali pagi itu, kelihatan tidak nyaman—seperti pria yang tahu dia pantas dimaki tapi tidak akan menghindari makian.
"Iya."
Maya tertawa. Kering. Pahit.
"Bagus. Bagus banget. Jadi saya bukan istri. Saya... apa, perisai politik kawanan?"
"Maya—"
"Jangan panggil nama saya seakan kita kenal. Kau bahkan tidak ngasih tahu bahwa saya pindah ke rumah serigala."
Damar diam.
Maya menatap pohon-pohon di taman. Mengingat tiga ekor anjing besar—bukan anjing—yang berdiri di antara mereka kemarin. Sekarang dia tahu siapa mereka. Anggota kawanan. Patroli rumah.
"Kenapa ibu setuju ini? Ibu saya. Ibu kau juga. Mereka berdua tidak protes saat ibu saya bilang anaknya akan dititipkan ke alpha kawanan?"
"Karena ibu saya yakinkan ibu kau bahwa ini cara paling aman untuk kau."
"Aman dari apa? Dari kawanan rival? Saya bukan kawanan. Saya manusia biasa. Kenapa saya jadi target?"
Damar menatap Maya. Dengan tatapan yang berbeda sekarang. Tatapan yang... khawatir. Tatapan yang Maya tidak pernah lihat di pria seperti ini.
"Maya. Kau tidak pernah tahu siapa ibu kau sebenarnya. Atau siapa kau."
"Apa maksud kau?"
Damar mau menjawab, tapi suara langkah dari dalam mansion memotong kalimatnya. Yuni muncul di pintu teras dengan ekspresi yang Maya tidak pernah lihat di perempuan tenang itu sebelumnya—wajah pucat, tangan mengepal di samping tubuh.
"Damar. Mereka di gerbang."
Damar berdiri. Wajahnya berubah seketika—dari pria yang sedang berusaha menjelaskan ke istrinya, menjadi alpha yang sedang dalam mode siaga.
"Berapa?"
"Lima. Kawanan Wijayakusuma."
Damar menatap Maya.
"Masuk sekarang. Ke kamar saya. Bukan kamar kau—kamar saya lebih aman. Jangan keluar sampai saya panggil."
"Damar—"
"Maya. Sekarang. Tolong percaya saya satu kali."