Sementara Aria menemukan tempatnya, jauh di markas Jakarta, seseorang sedang kehilangan kesabaran.
Rino baru dua puluh lima tahun, tapi di dalam dirinya membara amarah yang jauh lebih tua dari usianya. Dia kawanan murni, tumbuh di barak markas Jakarta, dilatih keras sejak kecil oleh para senior. Dia percaya pada satu hal: kekuatan kawanan adalah segalanya. Dan menurut Rino, kawanan Pradipta sedang dibuat lemah—oleh seorang alpha perempuan yang terlalu banyak bicara tentang kompromi.
"Lihat ini," katanya pada sekelompok kawanan muda yang berkumpul di sebuah kafe tersembunyi di Jakarta Selatan. Di layar ponselnya tampil dokumen kebijakan baru Sasi. "Disclosure bertahap. Integrasi manusia. Sekolah daring untuk anak campuran. Komite etik. Komite! Sejak kapan serigala butuh komite?"
Beberapa dari mereka tertawa. Yang lain mengangguk muram.
"Kakek-kakek kita berburu di bawah bulan purnama," lanjut Rino, suaranya naik. "Mereka memimpin dengan taring dan darah. Sekarang? Sekarang alpha kita rapat dengan manusia, minta izin, bikin proposal. Kita jadi apa? Anjing peliharaan yang sopan?"
"Tapi Sasi alpha sah," kata seorang gadis ragu. "Putri Damar. Pasangan Beta Tika—"
"Pasangan!" Rino memotong tajam. "Itu masalahnya. Dua perempuan memimpin kawanan serigala. Damar terlalu tua dan terlalu sayang anaknya untuk melihat kebenaran. Tradisi kita ribuan tahun. Alpha laki-laki. Hierarki murni. Itu bukan kebetulan—itu yang membuat kita bertahan."
Tidak semua setuju. Tapi cukup banyak yang diam, dan dalam diam itu Rino mencium peluang. Dia tahu rasa tidak puas itu nyata. Banyak kawanan muda di markas Jakarta merasa terpinggirkan oleh reformasi Sasi—merasa identitas mereka direnggut atas nama modernitas yang tidak mereka minta.
Malam-malam berikutnya, Rino bergerak diam-diam. Dia membuat grup tertutup, mengundang satu per satu yang dia anggap bisa direkrut. Dia tidak berteriak revolusi—belum. Dia hanya menanam benih: pertanyaan, keraguan, kemarahan yang dia bingkai sebagai kesetiaan pada leluhur.
"Aku tidak melawan Pradipta," katanya berulang kali. "Aku menyelamatkan Pradipta. Dari dalam."
Di sebuah sudut gelap, seorang anggota baru bergabung. Wajahnya tertutup tudung, tapi suaranya perempuan, dan kemarahannya menyala sama panasnya dengan Rino. Dia belum menyebut namanya. Tapi dia mendengarkan setiap kata Rino dengan kepala mengangguk perlahan.
"Kau punya pengikut sekarang," bisik perempuan itu sebelum pergi. "Yang kau butuhkan adalah momen. Dan momen selalu datang."
Rino tersenyum dalam gelap. Di luar kafe, lampu-lampu Jakarta berkelip seperti seribu mata serigala yang menunggu. Sesuatu telah dimulai—sesuatu yang Sasi, di tengah kesibukan reformasinya, belum sadar sedang tumbuh tepat di bawah kakinya.
(bersambung...)