Momen yang dinanti Rino datang dalam bentuk gangguan kecil yang menumpuk menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan.
Mulanya sepele. Rapat reformasi Sasi di markas Jakarta terganggu—lampu padam tiba-tiba, proyektor mati, dokumen yang tersebar di meja tertukar dengan kertas kosong. Sasi mengira itu kelalaian teknis. Tika, betanya yang teliti, curiga lebih dalam.
"Ini bukan kebetulan," kata Tika malam itu, sambil memeriksa kabel yang terputus rapi. "Seseorang memotong ini dengan sengaja. Dan dia tahu jadwal rapat persis."
Lalu meme-meme itu mulai muncul. Di grup-grup tertutup kawanan—saluran yang seharusnya hanya berisi koordinasi internal—beredar gambar-gambar sindiran. Sasi digambarkan sebagai alpha yang memakai jas kantor alih-alih kulit serigala, duduk di balik meja birokrasi, dengan tulisan: "Alpha Komite." Yang lain lebih kejam: serigala betina yang dirantai oleh manusia.
Sasi melihatnya di ponsel Tika dan rahangnya mengeras. "Mereka pikir aku tidak akan tahu siapa di balik ini?"
Yang ketiga, dan paling serius: dokumen menghilang dari kantor operasional. Bukan sembarang dokumen—catatan tentang lokasi markas kawanan di tiga kota, daftar anggota, jadwal patroli. Informasi yang, jika jatuh ke tangan salah, bisa membahayakan seluruh kawanan.
Sasi mengumpulkan lingkaran intinya. Tika, Dewangga sang tetua, dan dua kepala divisi yang dia percaya.
"Aku tahu siapa," kata Sasi pelan. "Rino. Aku mendengar laporan tentang pertemuan-pertemuannya. Kawanan muda yang tidak puas. Dia mengorganisir mereka."
"Kalau begitu kita tangkap dia," kata Dewangga, suaranya keras seperti zaman dulu. "Insubordinasi terhadap alpha dihukum dengan keras dalam tradisi. Kau punya hak penuh, Sasi. Cabik kredibilitasnya di depan kawanan."
Sasi menggeleng lambat. "Dan membuat dia martir? Memberi alasan pada lima puluh kawanan muda lain untuk bilang aku tirani? Itu persis yang Rino inginkan, Dewangga. Dia memprovokasi agar aku bertindak keras, supaya dia bisa berkata: lihat, alpha perempuan ini menindas kita."
Dewangga mengerutkan kening. "Lalu kau biarkan dia mencuri dari kita? Menghina kau di depan seluruh kawanan?"
"Tidak," kata Sasi. "Aku akan menangani ini tanpa memicu perang internal. Kita amankan dokumen yang tersisa. Kita perketat akses. Dan aku akan bicara dengannya—bukan sebagai alpha yang menghukum, tapi sebagai alpha yang mendengar." Dia menatap mereka satu per satu. "Kekuatan sejati bukan menghancurkan oposisi. Itu mengubahnya."
Tika menggenggam tangan istrinya di bawah meja, sebuah dukungan diam. Tapi dia melihat sesuatu di mata Sasi yang membuatnya khawatir—beban yang semakin berat, malam yang semakin tidak nyenyak.
Di luar, hujan Jakarta turun deras, membasuh jalan tapi tidak membasuh ketegangan yang kini merayap di setiap sudut markas. Insubordinasi pertama telah terjadi. Dan Sasi tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa ini baru permulaan.
(bersambung...)