Halaman belakang markas Sukabumi disulap menjadi tempat yang belum pernah disaksikan kawanan Pradipta. Lampu-lampu gantung dari bambu. Meja panjang penuh hidangan. Dan yang paling mengejutkan: di antara para serigala yang merayakan, duduk pula beberapa manusia—Profesor Hartono dan dua akademisi mitra, yang diundang sebagai "sahabat yayasan."
Sasi berusia lima puluh tahun hari ini.
Ia berdiri di tengah keramaian dengan kebaya sederhana, menyambut tamu satu per satu. Tika tak pernah jauh darinya. Yuti, putri manusia Sasi, sibuk mengatur musik. Raka tertawa bersama anak-anak kawanan muda. Dan di kursi kehormatan, di bawah selimut tebal meski udara hangat, duduk Damar.
Sang alpha pensiun kini berusia delapan puluhan. Tubuhnya yang dulu sekuat baja kini ringkih, tangannya gemetar memegang cangkir teh. Tapi matanya—mata gelap yang selama lima puluh tahun selalu tenang—masih tajam, mengawasi segalanya. Di sampingnya, Maya, tujuh puluh lima tahun, penulis yang bukunya kini dibaca jutaan orang, menggenggam tangan suaminya.
"Lihat dia," bisik Damar pada Maya, memandang Sasi. "Putri kita."
Saat senja turun, kawanan berkumpul untuk ritual penghormatan ulang tahun alpha. Dalam tradisi lama, ini adalah momen ketika kawanan menundukkan kepala pada pemimpinnya. Damar mengamati dengan napas tertahan. Sepanjang tahun-tahun reformasi, ia bertanya-tanya: apakah kawanan benar-benar menerima Sasi? Ataukah mereka hanya patuh karena ia putri Damar?
Lalu ia melihatnya.
Satu per satu, anggota kawanan menundukkan kepala pada Sasi. Bukan dengan kaku, bukan dengan keterpaksaan. Mereka menunduk dengan mata yang penuh hormat tulus. Rino, sang mantan pembelot, menunduk paling dalam. Kirana, yang dulu membencinya, menunduk dengan air mata. Bahkan para tetua tua yang skeptis menundukkan kepala mereka yang beruban.
Mereka memilih Sasi. Bukan menerima. Memilih.
Damar merasakan sesuatu lepas dari dadanya, sesuatu yang ia panggul selama berbulan-bulan. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Maya menoleh, terkejut—suaminya tak pernah menangis.
"Kau kenapa?" bisik Maya.
Damar menggeleng pelan, tersenyum di balik air matanya. "Tidak apa-apa. Aku hanya... aku akhirnya bisa istirahat."
Malam itu, setelah pesta usai dan tamu pulang, Damar berbaring di kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan—sejak ia menyerahkan kawanan pada Sasi dan tak pernah berhenti mengkhawatirkannya—ia tertidur lelap. Tidur tanpa mimpi, tanpa kecemasan, tanpa beban seorang alpha yang menjaga kawanannya bahkan dari pembaringan.
Maya berbaring di sampingnya, mendengarkan napas suaminya yang teratur dan damai. Ia tersenyum dalam gelap. Lima puluh tahun lalu, ia menikahi seorang serigala yang tak pernah tidur tenang. Malam ini, akhirnya, Damar tidur seperti bayi.
Di kamar sebelah, Sasi berdiri di jendela, memandang bulan separuh di atas pegunungan. Tika memeluknya dari belakang. "Hadiah ulang tahun apa yang kau inginkan?" tanya Tika.
Sasi menyandarkan kepala ke bahu istrinya. "Aku sudah mendapatkannya," katanya lirih. "Tadi. Saat ayah menangis."
(bersambung...)