Tiga hari setelah perayaan, Damar terjatuh di kamar mandi.
Maya menemukannya, dan teriakannya membangunkan seluruh rumah. Mereka membawanya ke dokter kawanan—dr. Wisnu, seorang kawanan yang telah mengabdi pada keluarga Pradipta selama tiga generasi. Pemeriksaan berlangsung lama. Saat Wisnu keluar dari kamar, wajahnya mengatakan segalanya sebelum bibirnya bergerak.
"Jantungnya," kata Wisnu pelan, kepada Sasi dan Maya di lorong. "Sudah terlalu lemah. Penyembuhan kawanan yang biasanya melindungi kita... pada usia setua Pak Damar, ia tak lagi bekerja seperti dulu. Otot jantungnya menipis. Aku bisa membuatnya nyaman. Tapi aku tidak bisa..." Ia menggantung kalimatnya.
Maya menutup mulut dengan tangan. Sasi memeluk ibunya, merasakan tubuh wanita itu gemetar.
"Berapa lama?" tanya Sasi, suaranya hampir tak terdengar.
"Minggu. Mungkin bulan. Tidak lebih."
Mereka masuk ke kamar Damar. Sang alpha tua bersandar pada bantal, wajahnya pucat tapi tenang. Anehnya, ia tersenyum saat melihat mereka. "Kalian semua membuat wajah seperti melihat hantu," katanya, suaranya serak. "Aku belum mati, kalian tahu."
"Ayah—" Sasi tak bisa melanjutkan.
Damar mengangkat tangannya yang lemah. "Maya. Sasi. Aku sudah tahu sejak lama. Tubuh ini sudah memberitahuku." Ia menatap istrinya. "Sayang, tolong tinggalkan aku berdua dengan Sasi sebentar. Ada yang harus kukatakan padanya."
Maya ragu, lalu mengangguk dan keluar, menyeka air matanya di ambang pintu.
Sasi duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan ayahnya—tangan yang dulu bisa meremukkan batu, kini serapuh ranting kering.
Damar menarik napas yang berderak di dadanya yang melemah. Mata gelap itu—yang dulu di beranda Sukabumi pernah ia pejamkan untuk bicara soal beban kepemimpinan—kini lelah, separuh tenggelam dalam kantuk obat. "Sasi," bisiknya, jemarinya yang serapuh ranting meremas tangan putrinya. "Dulu di beranda itu aku bilang pemimpin tidak pernah tidur tenang. Aku tidak berbohong. Lima puluh tahun aku memimpin tanpa sekali pun benar-benar lelap."
Sasi menggenggam tangan ayahnya, air matanya menggantung. "Lalu sekarang, Ayah?"
Damar tertawa pelan. Tertawa yang serak, hampir tak bersuara. "Sekarang, di ranjang ini, aku akhirnya bisa." Ia membuka matanya, dan ada cahaya di sana. "Sampai malam ulang tahunmu. Itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidur tanpa beban. Karena aku melihat kawanan memilihmu. Dan aku tahu—" suaranya bergetar, "—aku tahu kau sudah siap untuk berdiri sendiri tanpa saya."
"Ayah, jangan bicara begitu. Aku belum siap—"
"Tidak ada yang pernah siap, Sasi." Ia mengelus pipi putrinya. "Ayahku juga mengatakan ini padaku, di ranjang yang sama, lima puluh tahun lalu. Sekarang giliranku mengatakannya padamu. Kau lebih kuat dari yang kau kira. Kawanan ada di tangan yang benar."
Sasi menundukkan kepala ke dada ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi alpha, ia menangis seperti anak kecil. Damar mengelus rambutnya, memandang langit-langit, tenang.
Di luar jendela, bulan mulai membesar menuju purnama.
(bersambung...)