Sasi menyebutnya "pertemuan keluarga." Tapi semua orang tahu apa yang sebenarnya: ini adalah perpisahan.
Ia mengirim pesan ke seluruh penjuru. Yuti dan Raka, anak-anaknya, datang dari Jakarta. Dewangga, sang penasihat tua, datang dengan tongkatnya. Dan dari Utrecht, di seberang lautan, Bayu pulang.
Kakak laki-laki Sasi itu turun dari taksi di depan rumah Sukabumi dengan koper kecil dan wajah yang sudah menua—dosen sastra berusia empat puluhan dengan kerutan kekhawatiran di dahinya. Di sampingnya berdiri seorang gadis remaja. Aria. Putri Bayu, empat belas tahun, lahir dari Larasati—anak kawanan Yogyakarta—dan berdarah Pradipta-Yogyakarta, dibesarkan di Yogyakarta sebelum dibawa pulang ke keluarga ayahnya.
Sudah beberapa waktu sejak Aria pertama dibawa pulang ke Sukabumi, tapi pertemuan keluarga di tengah Damar yang sekarat ini terasa seperti menapak rumah itu dengan makna yang baru.
"Oma," kata Aria, suaranya lembut. Ia memandang perempuan tua berambut perak yang berdiri di teras—nenek yang matanya adalah cermin matanya sendiri.
Maya, yang baru kehilangan kekuatannya merawat suami yang sekarat, merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Ia membuka tangan. "Cucuku," bisiknya. "Akhirnya. Akhirnya kau di rumah."
Aria ragu sejenak, lalu berlari ke pelukan neneknya. Maya memeluknya erat, menghirup aroma rambut cucu yang nyaris tak ia kenal, dan menangis—campuran kebahagiaan dan kesedihan yang tak terpisahkan.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam keajaiban kecil yang menyakitkan. Maya mengajak Aria berkeliling kebun, menunjukkan pohon yang ditanam Damar, menceritakan kisah-kisah yang belum pernah ditulis dalam novelnya. Aria mendengarkan dengan mata terpana. "Oma, kenapa baru sekarang aku tahu semua ini?"
Maya tersenyum sedih. "Karena ayahmu, sayang. Ada hal-hal yang ia lari darinya. Tapi sekarang ia pulang. Dan kau bersamanya."
Bayu, sementara itu, menghabiskan waktu di samping ranjang ayahnya. Hubungan mereka selalu rumit—Bayu yang memilih dunia akademik dan kabur ke Eropa, Damar yang sang alpha sejati. Tapi kini, di hadapan kematian, semua jarak runtuh. Bayu memegang tangan ayahnya berjam-jam, kadang membaca puisi keras-keras, kadang hanya diam.
"Kau masih menyimpan rahasiamu," kata Damar pelan di suatu sore, mata tertutup. "Aku bisa merasakannya. Sesuatu yang kau bawa dari Belanda. Sesuatu yang kau takutkan."
Bayu membeku. Tubuhnya menegang. "Ayah—"
"Tidak sekarang," gumam Damar. "Ceritakan pada Sasi nanti. Setelah aku pergi. Beban itu... terlalu berat untuk dipikul sendirian, anakku."
Bayu menundukkan kepala, dan untuk sekejap, bayangan kegelapan masa lalu melintas di wajahnya. Rahasia yang ia bawa dari Utrecht. Rahasia yang suatu hari akan mengguncang keluarga ini. Tapi tidak hari ini.
Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah. Maya membacakan satu bab dari novel pertamanya. Damar, di kursi rodanya, mendengarkan dengan mata setengah terpejam dan senyum di bibir. Aria duduk di lantai bersandar pada lutut neneknya. Sasi dan Tika berpegangan tangan. Yuti dan Raka saling melempar lelucon lirih.
Sebuah keluarga, utuh untuk sesaat. Manis dan menyedihkan bersamaan. Semua tahu lilin sedang padam.
(bersambung...)