Damar memanggil mereka satu per satu ke kamarnya. Bukan untuk membagi harta—rumah dan tabungan sudah lama diatur dalam surat wasiat. Yang ia bagi hari ini adalah sesuatu yang tak bisa ditulis di atas kertas.
Sasi masuk pertama.
Ayahnya menepuk tepi ranjang, dan ia duduk. "Kau ingat," kata Damar, "saat kau kecil, kau bertanya mengapa aku selalu terlihat lelah. Aku tak pernah menjawab jujur." Ia menarik napas. "Kawanan adalah tanggung jawab, Sasi. Beban yang tak pernah turun dari pundak. Tapi—dan ini yang lupa kukatakan padamu—kawanan juga berkah. Setiap nyawa yang kau lindungi, setiap anak kawanan yang tumbuh karena keputusanmu, setiap malam purnama saat seluruh kawanan berlari bersama di bawah cahaya bulan... itu berkah. Jangan pernah lupakan itu. Jangan biarkan beban menutupi berkahnya."
Sasi mengangguk, menyimpan kata-kata itu seperti permata. "Aku tidak akan lupa, Ayah."
Lalu Bayu masuk.
Damar memandang putranya lama. "Anakku. Kau membawa kegelapan dalam dirimu. Aku tahu. Aku tahu sejak kau kembali dari Belanda dengan mata yang tak bisa menatapku langsung." Bayu menunduk. Damar mengangkat dagunya. "Apa pun yang kau lakukan dulu, apa pun rahasia yang kau pikul—maafkan dirimu sendiri. Kesalahan masa muda bukan hukuman seumur hidup. Dan Aria—" suaranya menghangat, "—Aria adalah hadiah, Bayu. Bukan hukuman. Berhentilah memandangnya seolah ia bukti dosamu. Ia bukti bahwa bahkan dari kegelapan, sesuatu yang indah bisa lahir."
Air mata mengalir di pipi Bayu. "Aku tidak tahu bagaimana, Ayah."
"Mulailah dengan memaafkan. Sisanya akan menyusul."
Terakhir, Aria masuk—gadis remaja yang gugup di hadapan kakek yang sekarat dan nyaris asing baginya.
Damar tersenyum lemah. "Kemari, cucu. Biar kulihat wajahmu." Aria mendekat. Damar mengangkat tangan ringkihnya dan menyentuh pipi gadis itu. "Kau tahu, kau punya sesuatu yang aku tidak punya. Sesuatu yang bahkan nenekmu tidak punya."
"Apa itu, Opa?"
"Pilihan." Mata tua itu berkilau. "Aku lahir sebagai serigala dan tak punya pilihan selain memimpin. Nenekmu lahir sebagai manusia dan tak punya pilihan selain mencintai seekor serigala dan menerima dunia yang asing. Tapi kau—kau lahir di antara dua dunia, di zaman baru yang dibangun bibimu Sasi. Kau bisa memilih. Kawanan atau manusia, atau keduanya, atau jalan yang belum ada namanya." Ia menggenggam tangan kecil itu. "Pilih dengan hati, Aria. Bukan dengan ketakutan. Bukan dengan apa yang orang harapkan. Dengan hatimu sendiri. Berjanjilah."
Aria, yang belum sepenuhnya mengerti tapi merasakan beratnya momen, mengangguk. "Aku berjanji, Opa."
Damar menyandarkan kepala ke bantal, lelah tapi puas. Ia telah membagi warisannya. Bukan emas, bukan tanah. Kebijaksanaan. Pengampunan. Kebebasan.
Malam itu, Maya bertanya, "Kau sudah selesai?"
Damar tersenyum, menggenggam tangan istrinya. "Hampir, sayang. Hampir." Di luar, bulan tinggal selapis tipis dari purnama penuh.
(bersambung...)