Malam purnama tiba.
Seluruh keluarga merasakannya—pergeseran halus di udara, seperti yang selalu dirasakan kawanan saat bulan mencapai puncak. Tapi kali ini ada yang berbeda. Sebuah kesunyian. Sebuah penantian.
Damar terbangun di sore hari dengan kejernihan yang aneh. Matanya, yang berhari-hari kabur dan jauh, tiba-tiba tajam dan hadir. "Maya," panggilnya, dan suaranya lebih kuat dari yang seharusnya. "Buka tirainya. Aku ingin melihat bulan."
Maya membuka tirai. Cahaya keperakan tumpah ke dalam kamar.
Mereka semua berkumpul. Sasi berdiri di kaki ranjang dengan Tika di sampingnya. Bayu memegang bahu Aria. Dewangga, sang tetua, berdiri khidmat di sudut, kepalanya tertunduk. Yuti dan Raka berpegangan tangan. Wisnu sang dokter mundur ke belakang, tahu bahwa tugasnya telah usai dan kini saatnya keluarga.
Maya duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan suaminya. Tangan yang ia genggam selama lima puluh tahun. Tangan yang melindunginya, menggendong anak-anaknya, menulis surat-surat cinta yang masih ia simpan dalam kotak kayu.
Damar memandang istrinya. Lima puluh tahun terbentang di antara mereka dalam satu tatapan—pertemuan pertama mereka, pernikahan di bawah purnama, kelahiran Sasi dan Bayu, semua badai yang mereka lewati. Mata gelap yang dulu liar dan kuat itu kini lembut, penuh, damai.
"Maya," bisiknya.
"Ya, sayang. Aku di sini. Aku selalu di sini."
Bibir Damar bergerak. Dua kata terakhir, yang ia tabung untuk perempuan yang mengubah hidupnya, yang mengajarinya bahwa seekor serigala bisa mencintai sedalam ini.
"Terima kasih."
Lalu ia menutup matanya. Napasnya melambat. Sekali. Dua kali. Dan berhenti.
Damar Pradipta, alpha terbesar yang pernah dikenal kawanan, pergi dengan tenang—tanpa rasa sakit, tanpa ketakutan, di rumah yang ia bangun dengan tangannya sendiri, dikelilingi setiap orang yang ia cintai.
Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas.
Lalu Maya menundukkan kepala ke dada suaminya dan menangis tanpa suara, bahunya berguncang. Sasi merasakan ikatan kawanan di dadanya—benang tak kasat mata yang menghubungkannya pada ayahnya—putus dengan lembut, seperti tali yang dilepaskan, bukan disentakkan.
Dan di luar jendela, persis di saat Damar menghembuskan napas terakhir, bulan purnama terbit penuh di atas puncak-puncak pegunungan Sukabumi. Bundar, sempurna, keperakan, menerangi seluruh lembah dengan cahaya yang seolah turun khusus malam ini.
Dewangga, yang telah menyaksikan kematian banyak alpha sepanjang hidupnya yang panjang, mengangkat kepalanya dan melihat bulan itu. Air mata mengalir di wajah tuanya, tapi ada juga senyum. "Pertanda baik," gumamnya, suaranya bergetar penuh hormat. "Dalam tradisi kita, ketika seorang alpha agung pergi dan purnama terbit menyambutnya... itu artinya rohnya diterima. Diberkati. Bulan datang menjemputnya pulang."
Sasi memandang bulan, lalu memandang wajah ayahnya yang kini damai, dan untuk pertama kalinya menyadari—ayahnya akhirnya, akhirnya, tidur tenang.
(bersambung...)