Monika Wijaya berdiri dengan anggun di balik meja kerjanya yang besar, memandang kota yang sibuk melalui jendela ruang kerjanya yang luas. Wajahnya yang cantik dan sempurna, dengan bibir tipis dan mata tajam yang selalu memberi kesan dingin, membuat setiap orang yang melihatnya merasa seolah tengah berhadapan dengan seseorang yang tak terjangkau. Senyum Monika hanya akan muncul jika dia menginginkannya, dan itu pun sangat jarang. Kewibawaannya seolah menembus ruang, membuat orang di sekitarnya merasa tak berani berbicara sembarangan.
Usianya 36 tahun, tetapi kecantikannya yang anggun membuatnya tampak lebih muda, seolah dia adalah sosok yang bukan manusia biasa. Ada aura yang memancar dari dirinya, membuatnya terlihat seperti seorang bidadari yang turun dari langit—tak ada yang berani meragukannya. Dia bukan hanya wanita yang berkelas, tetapi juga wanita yang mampu mengendalikan setiap situasi.
Namun, di balik wajah dinginnya, hidup Monika tak pernah bisa dikendalikan dengan sempurna, setidaknya, tidak hingga hari ini.
Hari itu, Monika melangkah dengan tegas menuju divisi administrasi untuk melakukan inspeksi rutin. Di dalam ruang kantor yang penuh dengan karyawan sibuk, Monika hanya membutuhkan beberapa detik untuk menarik perhatian semua orang, namun hanya ada satu orang yang benar-benar membuatnya berhenti sejenak.
Dafa, pemuda berusia 22 tahun yang baru saja diterima sebagai staf junior, berdiri canggung di depan komputernya. Matanya terfokus pada layar, seolah berusaha menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Namun, tanpa sengaja, ia menjatuhkan tumpukan dokumen besar tepat di depan Monika.
"Ups..." Dafa terdengar gugup, langsung membungkuk untuk memungut dokumen-dokumen yang tercecer di lantai. Wajahnya memerah, dan tangannya tampak kaku. Monika berdiri di sana, menatap pemuda itu dengan ekspresi datar, tak memberi respons selain melihatnya dari atas ke bawah.
"Apa yang kamu lakukan?" suara Monika terdengar dingin dan penuh kewibawaan. "Harusnya lebih hati-hati."
Dafa hanya bisa menggigit bibir, kesulitan untuk menarik napas dengan lega. Kepalanya terasa berat, dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia tak merasa takut di hadapan Monika? Wanita ini, dengan segala kecantikan dan ketegasannya, membuatnya merasa seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa.
"Saya... Maaf, Bu," jawab Dafa dengan suara bergetar, berusaha menjaga dirinya tetap tenang meski hati berdebar keras.
Monika hanya mengangguk, tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Tatapan matanya yang tajam dan dingin membuat Dafa merasa seolah-olah seluruh ruangan menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dia tidak tahu nama pemuda ini, namun tidak ada yang perlu dia ketahui lebih lanjut. Yang jelas, Monika merasa ada sesuatu yang menarik dari cara Dafa bertindak, meskipun sangat polos dan ceroboh.
"Ini bukan tempat untuk bermain-main," lanjut Monika, suara datarnya hampir seperti bisikan, "Lain kali hati-hati."
Dafa hanya bisa mengangguk, lalu tersenyum canggung, meskipun senyumnya lebih kepada upaya menenangkan dirinya sendiri daripada sesuatu yang tulus. Tanpa berkata apa-apa lagi, Monika berbalik dan melangkah pergi, menyisakan rasa canggung yang berat di udara.
Dafa menghela napas panjang setelah Monika pergi, berusaha menenangkan diri. Dia bisa merasakan pandangan karyawan lain yang hampir tak terlihat, tetapi yang pasti, dirinya tak akan bisa melupakan pertemuan ini—pertemuan dengan seorang wanita yang mampu membuatnya merasa kerdil hanya dengan tatapan dinginnya.