Hari pertama Dafa bekerja di divisi administrasi dimulai dengan penuh semangat, meskipun canggung. Ruangan itu dipenuhi oleh suara ketikan komputer dan diskusi antarpegawai. Di tengah semua itu, Olif, supervisornya, berdiri dengan anggun sambil memantau pekerjaan Dafa. Olif adalah wanita 26 tahun yang dikenal karismatik, cerdas, dan sangat tegas. Dia tipe mentor yang tidak mentolerir kesalahan sekecil apa pun.
Namun, Dafa dengan sifatnya yang kikuk dan polos, tampaknya sudah mulai menguji kesabaran Olif.
“Dafa,” tegur Olif ketika melihatnya salah menempatkan dokumen di laci yang salah, “Apa kamu tidak membaca labelnya?”
Dafa mendongak dengan wajah pucat, lalu tersenyum canggung. “Maaf, Kak... eh, Bu Olif…”
Olif mendengus pelan. “Aku sudah bilang, jangan panggil aku ‘Kak.’ Aku ini supervisormu, cukup panggil Olif saja.”
“Iya, Kak Olif,” jawab Dafa refleks.
Olif menghela napas panjang. Meski tegas, dia tak bisa benar-benar marah pada Dafa. Entah kenapa, kepolosan dan ketulusan pemuda itu membuatnya tak tega untuk terlalu keras. “Sudah, lanjutkan saja kerjamu,” ujarnya dengan nada lebih lembut, sebelum berbalik untuk memeriksa laporan lain.
Meskipun sering ceroboh, Dafa memiliki kelebihan yang tak bisa diabaikan. Ketika duduk di depan komputer, pekerjaannya selalu sempurna. Semua dokumen rapi, laporan cepat selesai, dan ia belajar dengan kecepatan yang mengagumkan. Olif, yang awalnya skeptis, perlahan mulai mengakui bahwa meskipun Dafa adalah pemula, dia punya potensi besar.
“Kalau kamu bisa mempertahankan hasil seperti ini, aku mungkin bisa sedikit lebih santai,” komentar Olif saat memeriksa laporan Dafa.
Dafa tersenyum lebar. “Terima kasih, Kak Olif.”
Olif menggelengkan kepala, setengah kesal tapi juga geli. Lama-lama, dia terbiasa dengan panggilan itu. Dan tanpa ia sadari, ada rasa hangat yang muncul di hatinya setiap kali Dafa menyebutnya “Kak.”
Di lantai atas gedung yang sama, Monika sedang duduk di ruang kerjanya bersama Reni, asisten setianya. Setelah inspeksi ke divisi administrasi beberapa waktu lalu, pikiran Monika tak bisa lepas dari seorang staf junior baru yang ia temui—pemuda canggung yang menjatuhkan dokumen di depannya.
“Bu, kok kayaknya ibu lebih banyak senyum hari ini?” tanya Reni, memecah kesunyian.
Monika menoleh, mengangkat alis. “Senyum? Apa aku terlihat seperti itu?”
Reni mengangguk sambil tersenyum jahil. “Jarang-jarang lihat ibu tersenyum sendiri seperti itu. Ada apa, ya?”
Monika tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang ke sebulan yang lalu, ketika ia sedang terburu-buru menuju rapat direksi. Saat itu, pandangannya sempat tertumbuk pada seorang pelamar kerja di lobby. Pemuda itu menarik perhatiannya bukan karena penampilannya, melainkan karena sikapnya.
Monika masih mengingat jelas bagaimana pemuda itu, dengan santainya, memungut sampah kertas yang berserakan di lantai. Bahkan, ia meluruskan kursi-kursi yang tidak pada tempatnya. Hal kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain, tapi sangat menonjol di mata Monika.
“Saat inspeksi ke divisi administrasi, aku merasa pernah melihat anak baru itu,” gumam Monika.
Reni memiringkan kepala. “Maksud ibu, yang kemarin menjatuhkan dokumen di depan ibu?”
Monika mengangguk pelan. “Ya. Dia mengingatkanku pada seorang pelamar kerja yang kulihat di lobby waktu itu. Aku yakin itu dia.”
Reni tersenyum kecil. “Dia memang terlihat unik, Bu. Sepertinya dia tipe yang pekerja keras.”
Monika tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum tipis. Ada sesuatu yang hangat di hatinya setiap kali ia memikirkan pemuda itu. Namun, ia segera menyembunyikan perasaan itu di balik sikapnya yang dingin dan tegas.