Hari itu, suasana ruang administrasi terasa sibuk seperti biasa. Monika sedang melakukan inspeksi rutin, ditemani Reni. Dia berjalan perlahan menyusuri ruangan, memeriksa laporan yang ditunjukkan staf dengan ekspresi serius seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Dafa yang sedang mengatur dokumen di meja kerjanya.
Pemuda itu tampak sedikit kebingungan dengan tumpukan kertas yang hampir roboh, membuat Monika memperhatikan lebih lama. Dia hanya berdiri, tangan bersedekap, namun dalam pikirannya, ada sesuatu yang terasa aneh.
“Dia seperti anak kucing yang tersesat,” gumam Monika pelan.
Reni, yang berdiri tak jauh di belakangnya, mengerutkan dahi. “Bu, apa tadi ibu bilang sesuatu?”
Monika sedikit tersentak, tapi segera menguasai diri. “Tidak.”
Namun, momen itu tidak berlalu begitu saja. Tiba-tiba, Dafa menjatuhkan beberapa dokumen ke lantai. Ia tergesa-gesa membungkuk untuk mengambilnya, membuat salah satu bolpoinnya terjatuh ke bawah meja.
“Maaf... sebentar...” ucapnya gugup sambil mencoba menggapai bolpoin itu.
Monika hanya menatapnya tanpa ekspresi, namun ada senyum kecil yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya.
“Kalau dia terus begini, aku ingin memeliharanya,” gumam Monika tanpa sadar.
Reni yang mendengarnya langsung membelalakkan mata. “Memelihara?!” tanyanya tegas, sedikit keras.
Suara Reni cukup menarik perhatian beberapa staf. Monika menoleh ke Reni, menatapnya dengan dingin. Hening sejenak, lalu Monika mengeluarkan senyum tipisnya yang khas. “Lupakan,” ucapnya singkat sebelum melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
Reni berdiri terpaku, berusaha mencerna maksud perkataan bosnya. “Lupakan katanya… lupakan apa? Aku makin hari makin nggak habis pikir sama ibu ini,” gumamnya pelan sambil mengejar Monika.
Di luar ruang administrasi, Reni tidak bisa menahan rasa penasaran. “Bu Monika, serius. Memelihara maksudnya apa?” tanyanya sambil mencoba menahan senyum.
Monika berhenti sejenak, menoleh ke Reni. “Aku suka melihat dia bekerja,” jawab Monika datar.
“Bekerja seperti apa, Bu?” desak Reni.
“Seperti anak kucing yang berusaha mengejar bola,” Monika menjawab dengan ekspresi tanpa emosi, seolah-olah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Reni hampir tersedak mendengar itu. “Ibu ini benar-benar… sejak kapan jadi perhatian ke staf baru?”
Monika tidak menjawab, hanya berjalan kembali menuju ruangannya. Tapi di dalam hati, dia merasa ada sesuatu yang berbeda sejak kehadiran Dafa di kantor ini.
Keesokan harinya, Reni memperhatikan tingkah Monika yang tampak lebih sering mondar-mandir di divisi administrasi. Alasannya selalu inspeksi, padahal biasanya Monika hanya mengirim laporan untuk dievaluasi.
“Bu, lagi-lagi ke divisi administrasi?” tanya Reni sambil menahan senyum.
“Kerjamu mengawasi aku sekarang?” balas Monika dengan nada datar.
“Bukan begitu, Bu. Saya cuma heran, ibu jadi sering senyum sejak ada Dafa.”
Monika berhenti, menoleh, lalu menatap Reni dengan tatapan dingin yang membuat asistennya segera diam. Namun, saat berbalik, Reni sempat menangkap senyum tipis di wajah bosnya.
“Senyum lagi,” gumam Reni pelan, lalu menggelengkan kepala. “Apa ini pertanda baik atau justru aneh?”
Di ruang administrasi, Dafa terlihat sibuk seperti biasa. Ketika Monika masuk, dia langsung berdiri gugup. “Selamat pagi, Bu Monika.”
“Duduk saja,” jawab Monika pendek.
Dafa menurut, meskipun keringat dingin sudah mulai mengalir di dahinya. Monika memperhatikan tumpukan dokumen di mejanya. “Kamu sudah selesai semua?”
“Sudah, Bu. Tinggal laporan ini saja,” jawab Dafa sambil menyerahkan sebuah map.
Monika mengambilnya tanpa komentar, tapi matanya sempat tertuju pada tulisan tangan Dafa yang rapi. “Bagus.”
Dafa menatap Monika dengan bingung. Ini mungkin pertama kalinya bos besar itu memuji langsung. “Terima kasih, Bu.”
“Terus bekerja seperti ini,” kata Monika datar sebelum berbalik meninggalkan ruangan.
Sementara itu, dari balik kaca, Reni menyaksikan interaksi itu dengan geli. Ia benar-benar tak habis pikir dengan perubahan kecil pada bosnya.