Dafa tengah duduk di mejanya, serius menatap layar komputer. Wajahnya tampak tegang, sesekali ia menghela napas panjang. Di sebelahnya, Olif memperhatikan tanpa suara. Sebagai supervisornya, Olif selalu memastikan pekerjaan Dafa selesai tepat waktu.
"Dafa, laporanmu sudah benar?" tanya Olif dengan nada tegas.
Dafa tersentak, menoleh cepat. "Eh, sudah, Kak. Maksud saya… ya, hampir selesai."
Olif menghela napas panjang. “Aku kan sudah bilang, jangan panggil aku ‘Kak’. Ini kantor, Dafa.”
“Tapi Kak… eh, Mbak… eh, maksud saya, Bu… ah, sulit, Kak,” jawab Dafa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Olif mendengus, mencoba menahan senyum. “Ya sudah, terserah. Yang penting laporannya benar.”
Dafa mengangguk dengan gugup, kembali menatap layar komputer. Beberapa menit kemudian, Olif mendekat untuk memeriksa pekerjaannya.
“Hmm…” Olif membolak-balik laporan di tangannya. “Ini bagus, Dafa. Kau ternyata cukup rapi dalam menyusun data.”
“Terima kasih, Kak.”
“Lagi-lagi ‘Kak’,” gerutu Olif pelan. Tapi kali ini, dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
---
Hari berikutnya, saat makan siang di pantry kantor, Olif melihat Dafa hanya membawa sebungkus makanan sederhana. Ia duduk di pojok ruangan, tampak malu dengan bekal sederhananya.
“Kamu cuma makan itu?” tanya Olif, mendekat sambil membawa piringnya yang penuh dengan lauk.
Dafa tersenyum canggung. “Iya, Kak. Lagi hemat, soalnya.”
“Hemat kenapa? Gajimu kan cukup,” tanya Olif penasaran.
Dafa menunduk sedikit, seolah enggan menjawab. “Buat bayar kos, Kak. Saya tinggal di kos murah, tapi kan tetap harus bayar tiap bulan.”
Olif terdiam, memperhatikan Dafa yang terus mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa makan. Hatinya sedikit terenyuh.
“Kamu mau lauk?” tawarnya, mendorong piringnya sedikit ke arah Dafa.
“Ah, nggak usah, Kak. Saya sudah cukup kok,” jawab Dafa sambil tersenyum sopan.
Olif mendengus pelan, merasa kesal sekaligus kasihan. “Kamu ini ya…” ucapnya sambil mencubit pipi Dafa gemas.
Dafa terkejut, nyaris menjatuhkan sendoknya. “Kak! Sakit…”
Olif tertawa kecil. “Itu biar kamu sadar. Kalau kesusahan, bilang. Jangan diem aja.”
Dafa mengusap pipinya yang memerah, tapi senyum kecil mulai muncul di wajahnya. “Makasih, Kak.”
---
Sejak saat itu, hubungan mereka mulai terasa lebih hangat. Dafa tetap sering membuat Olif kesal karena tingkah canggung dan cerobohnya, seperti menumpahkan kopi di meja kerja atau salah menata dokumen. Tapi Olif kini melihatnya sebagai bagian dari karakter Dafa yang polos.
Satu sore, saat mereka sedang lembur, Olif memperhatikan Dafa yang terlihat mengantuk sambil mengetik laporan.
“Kamu kos di mana, Dafa?” tanya Olif tiba-tiba.
“Di belakang pasar, Kak. Tempatnya kecil, tapi murah,” jawab Dafa dengan suara serak karena kelelahan.
“Kamu nggak capek jalan jauh tiap hari?”
“Capek sih, Kak. Tapi saya biasa aja.”
Olif menghela napas panjang. “Kamu ini…”
Dafa menoleh, bingung. “Kenapa, Kak?”
“Nggak apa-apa. Cuma heran aja, kok ada orang kayak kamu,” jawab Olif sambil tersenyum tipis.
“Kayak gimana maksudnya, Kak?”
“Kayak… anak kecil yang salah masuk dunia orang dewasa,” jawab Olif, mencubit lagi pipi Dafa.
“Kak! Jangan cubit-cubit terus!” protes Dafa, meskipun kali ini ia tertawa kecil.
Olif hanya menggeleng sambil tersenyum. Baginya, Dafa bukan hanya seorang rekan kerja. Dia kini mulai melihat Dafa seperti seorang adik laki-laki yang perlu dijaga. Seseorang yang mungkin polos dan ceroboh, tapi punya hati tulus yang selalu mengundang rasa hangat di sekitarnya.