Olif masih memandangi Dafa yang duduk di meja pantry, serius dengan ponselnya. Dia tidak menyangka, di balik sikap ceroboh dan canggungnya, Dafa ternyata menyimpan beban yang cukup berat untuk anak seusianya.
“Kamu kirim uang ke ibumu tiap bulan?” tanya Olif, memecah keheningan.
Dafa mendongak, sedikit tersenyum. “Iya, Kak. Ibu lagi butuh banyak untuk bangun toko kue.”
“Toko kue?”
“Iya, Kak. Ibu dulu jualan keliling kampung. Kadang saya ikut bantuin kalau libur sekolah, bawa dagangan sambil keliling. Tapi sekarang Alhamdulillah udah banyak pesanan, jadi ibu mau bikin toko kecil di depan rumah.”
Olif terdiam, hatinya tersentuh. Ia memandang Dafa yang tetap tersenyum meski hidupnya penuh perjuangan.
“Kamu hebat,” ujar Olif akhirnya.
Dafa tertawa kecil, menggaruk kepala. “Enggak juga, Kak. Ini juga buat Ibu, biar nggak capek-capek lagi.”
Olif mengangguk, rasa hormatnya pada Dafa semakin bertambah. Namun, tanpa ia sadari, cerita Dafa ini sampai ke telinga Monika lewat Reni.
---
“Bu Monika, saya baru dapat info,” ujar Reni sambil berdiri di samping meja kerja Monika.
Monika mengangkat alis, tetap sibuk memeriksa dokumen di tangannya. “Info apa?” tanyanya datar.
“Soal Dafa. Ternyata dia kirim sebagian besar gajinya ke ibunya di kampung. Katanya untuk bangun toko kue.”
Monika berhenti membaca, menatap Reni dengan ekspresi tak terbaca.
“Ibunya janda, jualan kue keliling kampung. Dafa dulu sering bantuin jualan juga,” lanjut Reni, merasa perlu menambahkan detail.
“Lalu?” tanya Monika singkat, kembali menatap dokumennya.
“Ya, menurut saya, itu mengagumkan, Bu. Jarang ada anak muda yang mau hidup sehemat itu untuk keluarganya,” ujar Reni, mencoba memahami sikap Monika yang tampak dingin.
Monika tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, namun pikirannya mulai memikirkan hal lain.
---
Monika mengamati interaksi antara Dafa dan Olif dari ruangannya yang menghadap lantai kerja. Dari jauh, ia melihat Dafa yang terlihat begitu santai berbicara dengan Olif. Sekali waktu, Olif mencubit pipi Dafa sambil tertawa kecil, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukan oleh Olif yang biasanya kaku.
“Dia membuat Olif berubah,” gumam Monika pelan, senyum tipis tersungging di wajahnya.
“Apa, Bu?” tanya Reni yang kebetulan masuk ruangan.
“Tidak apa-apa,” jawab Monika singkat, kembali memeriksa dokumen.
Namun di dalam hatinya, Monika merasa aneh. Ada perasaan yang mendorongnya untuk mendekati Dafa. Seolah ia tak ingin hanya menjadi pengamat di kejauhan.
---
Malam itu, di rumahnya, Monika termenung di ruang kerjanya. Tumpukan dokumen di mejanya tak juga disentuh. Pikirannya terus teringat pada Dafa dan cerita hidupnya.
“Aku ingin memeliharanya,” gumam Monika tanpa sadar.
“Memelihara?” suara Reni tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Monika tersentak, langsung menatap Reni dingin.
“Lupakan,” ucap Monika singkat, sebelum kembali pada dokumennya.
Reni mengerjapkan mata, bingung sekaligus geli. Ia melangkah keluar, namun pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang perubahan sikap bosnya yang semakin hari semakin aneh.
---
Sementara itu, Dafa mulai merasa lebih nyaman di kantor. Meski pekerjaannya tak jarang membuatnya gugup, dukungan dari Olif memberinya semangat. Namun, di balik semua itu, ia tak menyadari bahwa ada sepasang mata dingin namun hangat yang terus mengawasinya. Monika, yang biasanya fokus pada pekerjaan, kini merasa ada sesuatu yang lebih menarik dari sekadar laporan atau rapat direksi.
Dan entah kenapa, ia merasa harus bergerak untuk lebih dekat dengan pemuda itu.