Langit sore semakin gelap, hujan deras mengguyur, membuat suasana di dalam kantor tim operasional semakin terasa berat. Tumpukan laporan yang harus selesai esok pagi menekan mental semua orang.
"Ini nggak mungkin selesai tepat waktu, bahkan kalau kita semua ngelembur sampai pagi," keluh Siska, salah satu anggota tim, sambil menatap tumpukan laporan di mejanya.
"Padahal udah musim hujan, ya. Kalau kemaleman, jalanan banjir lagi," celetuk Agus, yang duduk di ujung ruangan. Ia menggaruk kepala, bingung harus mulai dari mana.
Olif, meski terlihat pucat dan kelelahan, berusaha tetap tegas. "Kita harus bagi tugas. Jangan ada yang lembur sendirian. Fokus pada bagian masing-masing, nanti aku koordinasi..." Ia berhenti sejenak, menahan batuk yang tiba-tiba datang.
Siska melirik Olif dengan cemas. "Kak Olif, kamu nggak apa-apa? Kayaknya lebih baik kamu pulang deh..."
Olif menggeleng lemah. "Aku masih bisa, ini tanggung jawabku."
Namun tiba-tiba suara Dafa memecah suasana. "Biar aku saja, Kak, yang mengerjakan sebagian besar laporannya."
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu ngomong apa sih, Da?" Agus memecah keheningan dengan nada tak percaya. "Lu nggak bisa ngerjain semua sendiri!"
Dafa tetap serius. "Aku bisa, Kak Agus. Tim yang lain kan banyak yang sudah berkeluarga. Kalau kemalaman, keluarganya pasti khawatir. Biar aku saja."
Ruangan kembali sunyi. Tatapan Siska melembut, sementara Agus hanya mengangguk pelan. Bahkan Olif tampak ragu untuk menolak usul Dafa.
"Baiklah," ucap Olif akhirnya, meski suaranya lemah. "Tapi aku tetap akan mengawasi kamu..." Belum selesai berbicara, Olif tiba-tiba terbatuk-batuk, membuat semua orang cemas.
Tanpa pikir panjang, Dafa berdiri dari kursinya, mendekati Olif, dan meletakkan punggung tangannya di kening Olif.
"Kakak demam," kata Dafa spontan.
"Hah?" Siska hampir menjatuhkan pulpen yang dipegangnya.
"Anak ini, kok berani banget..." Agus berbisik pelan, menatap Dafa dengan mata membelalak.
Olif sendiri terpaku. Wajahnya langsung merah, bukan hanya karena demam, tapi juga malu. "Kamu... ngapain, Da?" tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Dafa, yang baru sadar apa yang ia lakukan, langsung menarik tangannya. Wajahnya memerah, terlihat gugup. "Ma... maksudku... Kak Olif kan kurang sehat. Mungkin sebaiknya Kakak pulang saja. Aku bisa selesaikan laporan, nanti aku kirim lewat email buat Kakak cek," ucapnya terbata-bata, mencoba menjelaskan sambil menunduk.
"Pipinya... gemesin banget ya?" bisik Siska sambil melirik ke arah Dafa.
Agus mengangguk setuju. "Iya, beneran kayak Labubu."
Olif berusaha mempertahankan wibawanya, meski wajahnya tetap merah. "Baiklah... kalau kamu insist. Tapi aku nggak mau dengar ada laporan yang salah. Ngerti?"
Dafa mengangguk cepat. "Siap, Kak!" jawabnya tegas, meski suaranya tetap gugup.
Saat Olif akhirnya pergi, suasana di ruangan berubah lebih ringan. Siska mendekati Dafa sambil meletakkan sebungkus biskuit di mejanya. "Makasih ya, Dafa. Kamu baik banget."
"Iya, Da, salut gue sama lu," tambah Agus dari kejauhan. "Kita tim operasional harus traktir lu kopi kapan-kapan nih."
Dafa hanya tersenyum malu, menggaruk kepalanya. "Ah, nggak usah, Kak. Ini kan kerjaan kita bareng-bareng."
Namun dalam hati, ia tak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. "Aduh, kenapa tadi aku harus sok-sokan gitu? Pasti Kak Olif bakal ngira aku aneh banget..." Pikirannya melayang-layang sambil berusaha kembali fokus ke laporan.
Siska melirik ke arah Dafa yang masih tersipu-sipu. "Anak ini, beneran bikin gemes deh. Pantas Olif sering cubit pipinya," gumamnya pelan, lalu kembali ke tempat duduknya dengan senyum tipis.