Suara hujan deras mengguyur atap kantor malam itu. Dafa menggeliat di kursinya, mencoba mengusir kantuk yang melanda. Sebenarnya ia hanya ingin pipis, tapi suasana kantor yang sepi dan gemuruh hujan membuat bulu kuduknya sedikit merinding.
“Ah, kenapa harus sekarang sih?” gumam Dafa pelan sambil beranjak ke toilet.
Lorong menuju toilet remang-remang, lampu di ujung berkedip-kedip seperti dalam film horor. Dafa menelan ludah, mencoba berpikir positif. Ia bergegas membuka pintu toilet pria, tapi mendadak suara rintihan samar terdengar dari toilet sebelah. Langkah Dafa terhenti seketika.
“Itu suara apa?” pikirnya. Dadanya berdegup kencang. Entah karena rasa takut atau penasaran.
Suara itu semakin jelas—bukan rintihan biasa. Ada nada yang… ganjil. Seperti suara orang menahan sesuatu, bercampur dengan desahan lirih. Napas Dafa tercekat. Dalam ketakutan campur penasaran, ia berjongkok dan mengintip dari celah kecil antara pintu toilet.
Matanya membelalak.
“Ya ampun... Bu Reni?!” gumamnya dalam hati. Wajahnya langsung pucat pasi.
Di balik pintu itu, samar terlihat Reni, asisten Bu Monika—bersama seorang pria. Gerakan mereka intens, cepat, dan... berani. Pria itu menghujani Reni dengan cumbuan panas, dan bagian bawah tubuh mereka sedang beradu, bergerak berlawanan.
"aaaaah Reni... punya kamu selalu nikmat,, sssshhh aaaaah... Kamu suka punyaku kan?!, sssshhh aaaah rasain ini" Ucap Pria itu lalu mempercepat gerakannya.
"Sssssshhh Aaaaaaah... Sssssshhhh Aaaaah.. Hendraaa... Sssssshhhh.... Aku mau keluaaar.. sssshhhhh Aaaaah.."
Reni, dengan wajah yang memerah, tampak menahan sesuatu. Rambutnya berantakan, tubuh bagian bawahnya sudah terbuka, memperlihatkan organ intim Reni dengan bulu tipis, sedang diserang oleh organ intim pria itu dengan cepat.
Pikiran Dafa kacau. Rasa syok menancap kuat. Bagian itu seharusnya tidak dilihat olehnya. Namun, tubuhnya tak bisa beranjak. Sekilas, ia kembali melirik. Ekspresi Reni… penuh kenikmatan, tapi ada semburat cemas.
Gerakan itu semakin intens, Samar-samar terlihat semburat cairan meluncur dari organ itu, diiriingi lenguhan panjang dari keduanya..
"Sssshhh Aaah Reniii Aku keluaar.." Ucap Pria itu..
"Sssshhhh Aaaaaah Hendraaa... ssshhhhh aaaah aku jugaa keluaaar.. aaaaaah" Balas Reni.
Lalu Keduanya nampak menegang dengan mata terpenjam.
Situasi itu berlangsung beberapa detik, hingga nafas mereka kembali teratur. Pria itu mengeluarkan benda miliknya dari organ intim Reni. terlihat kilatan basah cairan cinta.
"Kamu selalu mantab Reni" Puji Pria itu. Sementara Reni hanya menatapnya sambil merapikan pakaiannya, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pandanganya tertuju pada pintu yang terbuka sedikit,
Saat itu juga, mata Reni bergerak. Menatap… langsung ke celah tempat Dafa mengintip.
“Astaga!” Dafa langsung mundur terbirit-b***t, jantungnya nyaris copot.
Hening.
Pintu toilet terbuka perlahan. Reni keluar lebih dulu dengan wajah setengah panik tapi berusaha tenang. Pria di belakangnya—itu adalaj Hendra, Manajer Marketing—tampak buru-buru merapikan pakaiannya.
“Ren, gue duluan, ya. Ini… terlalu berisiko,” ucap Hendra singkat, nadanya agak waspada. Lalu dia menatap Dafa tajam, dengan penuh intimidasi.
Reni hanya mengangguk, kemudian membalas dengan senyum tipis. “Hati-hati.”
Setelah Hendra pergi, Reni memutar tubuhnya perlahan. Di hadapannya berdiri Dafa, masih membeku di tempat dengan wajah pucat dan bibir sedikit terbuka.
“Kamu…”
“B-bu… Reni…” Dafa tergagap. Matanya menatap lantai, tak berani menatap wajah Reni.
Reni tersenyum kecil, langkahnya mendekat. “Dafa, Dafa… Kamu sudah lihat apa?” tanyanya dengan nada lembut, namun mengandung tekanan.
“Ti-tidak… saya tidak sengaja. Saya cuma… cuma mau pipis…” ucap Dafa cepat, kedua tangannya mengepal gugup di sisi tubuhnya. Wajahnya semakin memerah.
Reni mendekat, berhenti tepat di depan Dafa. “Kamu tahu, ya? Melihat sesuatu yang seharusnya nggak dilihat itu… bahaya,” ucapnya pelan dengan suara menggoda. Senyumnya tipis, matanya tajam mengawasi Dafa.
“Bahaya?” Dafa tercekat. “S-saya janji nggak bakal bilang siapa-siapa, Bu. Saya sumpah… saya nggak tahu apa-apa!”
Reni menyilangkan tangannya di d**a, menyeringai kecil. “Janji itu mahal, Da. Kamu yakin bisa menyimpannya?”
“Y-ya! Saya janji!” Wajah Dafa semakin pucat, kepalanya menunduk dalam. Dalam hati ia memohon agar hujan cepat berhenti, agar ia bisa segera kabur dari situasi ini.
Reni menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Bagus. Kamu anak pintar, Dafa. Jangan kecewakan saya, ya.”
Sebelum pergi, Reni berbalik dan melirik ke arah Dafa. Langkahnya santai namun mantap. “Oh, satu lagi,” ucapnya sambil menoleh sedikit. Bibirnya menyunggingkan senyum nakal. “Mau Pipis, kan?”
Lalu dia melenggang pergi, dalam benaknya dipenuhi banyak kecemasan. Meski begitu dia memiliki firasat, kalau Dafa memang bisa dipercaya, bukan hanya karena intimidasi Reni, tapi memang karakter Dafa. Reni menghela napas, berusaha tersenyum kecil meski hatinya masih kacau. Dalam pikirannya, ia mulai memikirkan langkah berikutnya. “Dafa ini bocah polos, tapi… sepertinya bisa dipercaya.”
-------------
“Aduh…” Dafa nyaris pingsan. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Setelah Reni menghilang di ujung lorong, Dafa berjalan lunglai ke toilet. Saat ia mencuci muka, pantulan wajahnya di cermin tampak lusuh dan kebingungan.
“Apa-apaan tadi itu? Kenapa harus saya? Astaga, Dafa… ini mimpi buruk apa gimana, sih?” gumamnya dengan wajah kacau.
Sekilas, bayangan tubuh Reni yang setengah telanjang—wajahnya yang memerah, suara samar rintihan—kembali muncul di benaknya. Dafa buru-buru menyiram wajahnya sekali lagi.
“Focus, Dafa. Focus!” ucapnya pada diri sendiri sambil menghela napas panjang. Namun, ia tahu. Apa yang ia lihat malam ini tidak akan mudah dilupakan.
Di sisi lain, Laki-laki yang bersama Reni tadi adalah Hendra, dia adalah Manajer Marketing. Dia keluar dari kantor dengan langkah cepat. Wajahnya penuh keresahan. Hendra adalah cinta pertama Reni sejak kuliah. Mereka memiliki hubungan yang penuh gejolak dan ketergantungan emosional. Meskipun Reni tahu Hendra bukan pria yang baik untuknya, dia tetap sulit melepaskan diri dari pesona masa lalu itu. Dalam momen-momen tertentu, seperti ketika sedang stres atau lelah, Reni sering jatuh kembali ke pelukan Hendra—seolah-olah ada ikatan yang belum terselesaikan.
“Semoga Reni bisa mengatasi bocah itu, bisa berbahaya, aku harus bicara dengan Reni setelah ini” gumamnya pelan. Ada apa sebenarnya hubungan Reni dan Hendra, hal itu masih menjadi misteri.