Pagi itu, kantor masih sepi. Hujan semalam meninggalkan udara dingin yang menusuk, membuat suasana jadi lebih lengang dari biasanya. Monika berjalan perlahan melewati lorong kantor dengan langkah khasnya yang tegas. Dia memutuskan kembali ke kantor lebih awal karena Reni, asistennya, izin cuti mendadak sejak semalam.
Sesampainya di ruang operasional, Monika mendapati sesuatu yang tak biasa. Di salah satu meja, Dafa terlihat tertidur dengan posisi kepala bertumpu di atas tumpukan dokumen. Napasnya teratur, tetapi wajahnya terlihat lelah, dengan kantong mata yang sedikit menghitam.
Monika mendekat tanpa suara, memperhatikan Dafa dalam diam. "Bocah ini... Apa dia bekerja sampai pagi?" pikirnya. Dia menggeleng pelan, antara kagum dan sedikit merasa bersalah.
Monika menyentuh bahu Dafa dengan lembut. "Dafa."
Pemuda itu tersentak bangun. Matanya melebar seperti kelinci yang baru saja mendengar suara langkah pemburu. "Ah, Bu Monika... Saya... maaf, saya ketiduran!" ucapnya terbata-bata, tangannya panik merapikan dokumen yang berserakan di meja. Ia bahkan sempat mengucek mata pelan, berusaha mengembalikan fokus.
Monika memperhatikan itu dengan senyum kecil yang tak sengaja terukir di bibirnya. Gemash! pikirnya dalam hati. Tangannya hampir saja terulur untuk mengacak rambut Dafa, tapi ia menahan diri. Tidak pantas seorang bos bertindak seperti itu, kan?
Ia menyilangkan tangan di dadanya, mencoba kembali ke sikap profesional. "Kamu begadang menyelesaikan laporan?" tanyanya dengan nada datar yang justru terasa lembut.
Dafa menunduk sedikit, mengangguk. "Iya, Bu. Laporannya harus selesai sebelum deadline hari ini. Tapi tadi malam saya nggak sempat pulang."
Monika menghela napas panjang. "Kamu tahu, Dafa, kantor ini bukan tempat tidur. Kalau kamu terlalu lelah, kenapa nggak pulang saja?"
Dafa tersenyum kikuk, tampak sedikit malu. "Saya takut nggak bangun tepat waktu, Bu. Jadi saya pikir lebih baik tidur sebentar di sini."
Monika memindai sekeliling ruangan. Kantor sudah sepi, dan Dafa benar-benar sendirian. Selama ini, ia tak pernah terlalu memedulikan cara anak buahnya menyelesaikan tugas—selama pekerjaan selesai dengan baik dan tidak melanggar aturan. Itulah alasan mengapa ia dijuluki Ratu Salju oleh para karyawan. Namun kali ini, hatinya terasa sedikit lunak melihat Dafa yang tampak kelelahan.
Ia menatap Dafa yang masih berdiri canggung. Ada sesuatu dalam wajah pemuda itu yang membuatnya tidak tega. Namun, ia juga tahu harus menjaga citra sebagai pemimpin.
"Bersihkan wajahmu, gosok gigi, lalu ikut saya," katanya tiba-tiba.
Dafa mengerutkan kening. "Ke mana, Bu?"
Monika melangkah menuju pintu tanpa menoleh. "Cepat, sebelum aku berubah pikiran."
Setelah mencuci muka dan gosok gigi, Dafa berjalan dengan ragu mengikuti Monika. Mereka keluar dari kantor menuju sebuah bistro mewah di sudut jalan, tempat sarapan favorit para eksekutif kota. Aroma roti panggang dan kopi yang harum memenuhi udara, memancing perut Dafa yang langsung berbunyi pelan.
Monika duduk di salah satu meja, lalu memesan tanpa ragu. "Nasi goreng dan jus jeruk 1, Capuccino Latte 1," katanya pada pelayan, tanpa bertanya kepada Dafa ingin makan apa.
Dia tidak bertanya karena sudah tau tentang apa saja yang biasa di makan Dafa, terlihat dari penampilan dan cerita hidupnya, selain itu, Monika adalah Alphawomen yang mendominasi dan pengendali. Sementara dia sendiri memesan cappucino latte untuk dirinya.
Sekilas mata Dafa berbinar bahagia, dan Monika menangkap itu. Lagi-lagi hati Monika menghangat. Dafa tulus menerima pilihan Monika.
"Kenapa masih berdiri? Duduk," kata Monika sambil menunjuk kursi di depannya.
Dafa menurut, duduk dengan sikap kaku. "Bu Monika nggak perlu repot-repot—"
"Sarapan itu penting," potong Monika dengan nada datar. "Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengerjakan laporan?"
Dafa tersenyum malu, lalu mulai menyantap makanannya. Setiap suapan terasa seperti surga baginya. Ia menatap Monika dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Bu. Ini benar-benar enak."
Monika hanya mengangguk kecil sambil mengaduk Cappucino Latte nya.
Di tengah sarapan, Dafa tiba-tiba merasa hatinya hangat. Dia tidak tahu kenapa, tapi duduk bersama Monika seperti ini membuatnya sangat bahagia. "Kenapa rasanya seperti ini? Bu Monika terlihat galak, tapi sebenarnya baik hati."
Setelah selesai makan, Monika menatap Dafa. "Bajumu basah dan kusut. Kamu nggak akan bisa kerja dengan kondisi seperti itu."
Dafa mengusap bajunya yang memang sudah lusuh. "Ah, nggak apa-apa, Bu. Ini masih nyaman dipakai."
Monika mendesah, lalu berdiri. "Ikut saya ke ruanganku."
***
Di ruang kerja Monika, dia membuka sebuah lemari kecil. Dari dalamnya, dia mengeluarkan baju laki-laki yang rapi, tapi terlihat sudah lama tersimpan. Dia menyerahkannya pada Dafa.
"Pakai ini," katanya singkat.
Dafa memandang baju itu ragu. "Ini... baju siapa, Bu?"
Monika tidak menjawab, hanya kembali duduk di kursinya sambil memeriksa dokumen.
Dafa ingin bertanya lebih lanjut, tapi melihat ekspresi Monika yang datar, dia memilih diam. Dia masuk ke kamar kecil di ruangan itu untuk berganti baju.
Saat keluar, Dafa memerhatikan dirinya di cermin. Baju itu pas di tubuhnya, meski terasa sedikit asing. "Baju ini... kenapa rasanya seperti punya kenangan?" pikirnya.
Monika melirik sekilas. "Bagus. Sekarang kamu terlihat lebih layak untuk bekerja."
"Terima kasih, Bu," ucap Dafa dengan senyum lebar. "Saya nggak tahu harus bilang apa. Bu Monika benar-benar baik."
Monika hanya mengangguk tipis. Tapi di balik ekspresi dinginnya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Ada perasaan tenang melihat Dafa seperti itu—seperti melihat seseorang yang harus dia lindungi.
***
Beberapa karyawan yang datang pagi itu melihat Dafa dengan pakaian baru. Salah satu dari mereka, Rudi, langsung menggoda.
"Eh, Dafa! Pakaian baru dari mana?
Dafa tersenyum malu. "Iya, Pak Rudi. Bu Monika yang kasih. Tadi bajuku basah."
"Kasihan banget sih kamu. Tapi untung ada Bu Monika, ya?" kata Rudi sambil tertawa kecil.
Di kejauhan, Monika mendengar percakapan itu. Dia hanya tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Namun dalam hati, dia tahu bahwa dirinya mulai peduli pada Dafa. Entah kenapa, dia merasa Dafa adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa dia abaikan begitu saja. "Mungkin karena dia mengingatkanku pada sesuatu... atau seseorang," gumam Monika pelan, sebelum kembali tenggelam dalam pikirannya.