Selama seminggu berikutnya, Karin menjalankan misinya menjadi manusia bersuara normal. Hasilnya tidak selalu berhasil. Ia sempat menjerit ketika Hany menunjukkan foto terbaru idolanya, lalu langsung menutup mulut dan memandang sekeliling untuk memastikan Altar tidak berada di dekat sana.
'Kamu kenapa sekarang setiap habis teriak kayak maling lihat polisi?' tanya Hany.
'Aku sedang belajar mengontrol pita suara.'
Dion tertawa. 'Pita suaramu harusnya disita negara dari dulu.'
Karin hendak memukulnya, tetapi bel masuk berbunyi. Ia membawa tas kembali ke kelas sambil mendengus. Perubahan kecilnya membuat Dion dan Hany curiga, tetapi Karin belum menceritakan kondisi Altar. Rahasia itu bukan miliknya untuk disebarkan.
Saat istirahat, Karin pergi ke perpustakaan dengan langkah pelan. Dika yang berjaga menatapnya seolah melihat makhluk berbeda.
'Kamu tidak teriak hari ini?'
'Aku punya sopan santun, Kak.'
'Sejak kapan?'
Karin mengabaikannya dan menghampiri Altar. Cowok itu sedang membaca buku persiapan ujian. Di meja terdapat dua roti, salah satunya didorong ke arah kursi kosong begitu Karin datang.
'Itu buat aku?' tanya Karin.
'Kevin bilang kamu sering lupa makan kalau sedang sibuk.'
Karin duduk dengan senyum lebar. 'Kamu perhatian banget.'
'Aku cuma tidak mau kamu pingsan lagi.'
'Tetap saja perhatian.'
Altar memilih kembali membaca agar Karin tidak melihat ujung telinganya yang memerah. Mereka menghabiskan waktu istirahat dengan belajar. Karin bertanya soal matematika dan Altar menjelaskan tanpa mengejek. Anehnya, penjelasan Altar lebih mudah ia pahami dibandingkan omelan Kevin.
'Kalau nilai ulanganku naik, aku traktir kamu,' janji Karin.
'Bukankah kamu masih punya daftar utang traktiran sebelumnya?'
'Makanya sekalian dibayar banyak.'
Sepulang sekolah, Karin mendapatkan pesan dari mamanya agar segera pulang. Ia mengira Sandra hendak membicarakan rencana liburan ke Korea. Dengan gembira Karin meminta Pak Yadi mempercepat mobil, lalu berlari masuk begitu sampai rumah.
Namun ruang tengah tidak berisi koper atau brosur perjalanan. Sandra duduk di sofa dengan wajah tegang. Kevin berdiri dekat jendela, sementara seorang lelaki yang sangat dikenali Karin duduk membelakangi pintu.
'Papa!'
Karin berlari memeluk ayahnya. Sudah berbulan-bulan lelaki itu tidak pulang. Ia menghujani papanya dengan pertanyaan tentang pekerjaan, hadiah, dan rencana pergi bersama. Ayahnya membalas pelukan, tetapi tidak sehangat yang Karin harapkan.
'Duduk dulu, Karin,' kata Sandra.
Karin baru menyadari tidak ada seorang pun tersenyum. Kevin bahkan tidak mau menatap papanya. Ia perlahan duduk di kursi tunggal.
'Ada apa? Karin boleh pergi ke Korea, kan?'
Ayahnya, Adrian, menarik napas. 'Bukan soal liburan.'
Sandra menggenggam tangannya sendiri. 'Mama dan Papa harus mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kamu ketahui sejak lama.'
Kevin berbalik. 'Aku sudah bilang jangan sekarang kalau Papa datang cuma untuk menyelesaikan urusan surat.'
'Dia berhak tahu,' balas Adrian.
'Dia berhak tahu dari dulu, bukan setelah Papa menikah diam-diam dan sekarang butuh tanda tangan.'
Karin menoleh cepat kepada Kevin. Kalimat itu seperti bahasa asing meskipun setiap katanya ia mengerti.
'Menikah siapa?'
Ruangan menjadi sunyi. Sandra menutup mata sesaat, lalu memandang putrinya.
'Mama dan Papa sudah berpisah sejak kamu kecil.'
Karin tertawa kecil karena menganggapnya lelucon buruk. Tidak ada yang ikut tertawa.
'Berpisah maksudnya kerja beda kota? Karin tahu Papa sering di Kalimantan.'
'Kami sudah bercerai,' ujar Sandra. 'Selama ini kami sepakat menunggu sampai kamu cukup dewasa untuk menjelaskan.'
'Aku sudah tujuh belas tahun. Kapan menurut kalian aku cukup dewasa?'
Suara Karin meninggi. Kevin mendekat, tetapi ia mengangkat tangan agar kakaknya tidak menyentuhnya.
Adrian mencoba bicara. 'Papa menikah lagi dua tahun lalu. Sekarang ada urusan perubahan data keluarga dan—'
'Dua tahun?'
Karin menatap ayahnya dengan mata membesar. Semua kiriman uang, panggilan singkat, dan alasan pekerjaan yang selama ini diterimanya mendadak memiliki arti lain.
'Jadi waktu Karin nunggu Papa pulang pas ulang tahun, Papa ada sama keluarga baru?'
'Papa tetap menganggap kamu dan Kevin anak Papa.'
'Tapi Papa bohong! Semuanya bohong!'
Sandra mendekat. 'Mama juga salah karena ikut menyembunyikannya.'
'Kenapa? Karena kalian pikir Karin bodoh? Karena nilai Karin jelek jadi Karin gak bakal ngerti perceraian?'
'Bukan begitu,' kata Kevin.
Karin menatap kakaknya. Kekecewaan paling besar justru muncul ketika menyadari Kevin sudah tahu. 'Kak Kevin juga bohong?'
Kevin tidak mampu menjawab cepat. Wajahnya sudah menjadi jawaban.
Karin mundur satu langkah. Dadanya terasa sesak. Ia ingin marah, menangis, dan menertawakan kebodohannya sendiri secara bersamaan. Selama bertahun-tahun ia membanggakan keluarga, mengira kesibukan adalah satu-satunya alasan papanya jarang pulang.
'Rin, dengarkan Kakak dulu.'
'Jangan dekat-dekat!'
Teriakannya menggema. Karin langsung teringat Altar dan janjinya untuk mengontrol suara, tetapi rasa sakit membuat semua pelajaran itu runtuh.
Ia berlari ke kamar, mengunci pintu, lalu menyandarkan tubuh di sana. Poster-poster idolanya memenuhi dinding, semuanya tersenyum dalam dunia yang tidak pernah berubah. Biasanya kamar itu menjadi tempat pelarian paling aman. Hari ini senyum-senyum tersebut terasa seperti gambar asing.
Kevin mengetuk pintu. 'Karin, buka. Kakak minta maaf.'
'Pergi!'
'Kakak tidak bermaksud menyakitimu.'
'Tapi Kakak tetap bohong!'
Karin melempar ponsel ke kasur dan menangis. Pesan masuk terdengar beberapa kali. Ia tidak ingin membaca pesan siapa pun, tetapi layar yang menyala memperlihatkan nama Altar.
Altar: 'Besok jangan lupa latihan soal yang tadi. Kalau bingung, tanya saja.'
Karin menatap kalimat sederhana itu. Jarinya bergerak mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Karin: 'Al, kalau semua orang yang kamu percaya bohong, kamu harus percaya siapa?'
Balasan datang tidak sampai satu menit.
Altar: 'Dirimu dulu. Setelah itu cari orang yang bersedia mengatakan kebenaran meskipun jawabannya tidak menyenangkan.'
Karin memeluk lutut. Ia tidak menjelaskan apa yang terjadi, dan Altar tidak memaksa bertanya. Cowok itu hanya mengirim satu pesan lagi.
Altar: 'Aku ada di sini kalau kamu perlu teman.'
Di luar kamar, ketukan Kevin berhenti. Karin mendengar perdebatan samar dari ruang tengah sebelum pintu depan ditutup keras. Mungkin papanya pergi lagi. Bedanya, kali ini Karin tahu lelaki itu tidak pulang ke lokasi tambang, melainkan kepada keluarga yang selama dua tahun disembunyikan darinya.
Ia mengambil album BTS dari rak, benda yang biasanya mampu membuatnya gembira. Namun ia tidak membukanya. Untuk pertama kalinya, Karin tidak ingin melarikan diri ke Korea atau ke wajah idolanya. Ia ingin seseorang duduk di dekatnya dan tidak berbohong.
Sayangnya, orang yang paling ingin ia temui berada di rumah lain, dan Karin tidak tahu apakah dirinya sanggup menunggu sampai esok.