Hari Minggu datang terlalu cepat. Sejak pagi Karin mondar-mandir di depan lemari, berganti pakaian berkali-kali meskipun pertemuannya bukan acara menyenangkan. Sandra tidak ikut. Ia mengatakan keputusan bertemu Adrian sepenuhnya milik Karin, sedangkan Kevin bersedia mendampingi.
'Kalau aku kabur sebelum masuk restoran, Kakak jangan cegah,' kata Karin di mobil.
'Aku tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu masuk, Kakak tetap di dekatmu.'
Karin memainkan ujung bajunya. Ia sengaja memilih restoran dengan ruang privat agar tidak menjadi tontonan. Pesan Altar pagi itu masih terbuka di ponselnya: kamu boleh pulang kapan saja.
Adrian sudah menunggu bersama seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun. Di sampingnya duduk anak kecil dengan rambut dikuncir dua, sibuk menyusun balok warna. Anak itu mendongak ketika Karin masuk.
'Ini Tante Karin?' tanyanya.
Karin tercekat mendengar sebutan tersebut. Adrian berdiri hendak menyambut, tetapi Karin memilih duduk di seberang.
'Namanya Nadine,' kata Adrian. 'Dan ini Maya.'
Maya mengangguk sopan. 'Terima kasih sudah mau datang.'
'Aku datang buat tanya Papa, bukan untuk pura-pura jadi keluarga bahagia,' jawab Karin.
Kevin menarik kursi di sampingnya. Adrian tampak tidak nyaman, tetapi tidak menegur.
Karin mengeluarkan buku catatan. Ia menanyakan kapan hubungan Adrian dan Maya dimulai, apakah perceraian terjadi karena perselingkuhan, dan mengapa dirinya tidak pernah diberi tahu. Adrian beberapa kali mencoba memperhalus jawaban, namun Karin menghentikannya.
'Aku minta kenyataan, bukan kalimat yang dibikin cantik.'
Akhirnya Adrian mengakui hubungannya dengan Maya bermula sebelum perceraian selesai. Maya menunduk, sedangkan Kevin mengepalkan tangan di bawah meja.
'Jadi Papa menyakiti Mama, lalu semua orang menyuruh Mama diam supaya aku tetap sayang Papa?'
'Papa melakukan kesalahan,' jawab Adrian. 'Tapi hubungan Papa dan Mama memang sudah buruk.'
'Hubungan buruk bukan izin untuk bohong.'
Nadine berhenti menyusun balok karena suara Karin mulai meninggi. Anak itu terlihat takut. Karin menarik napas dan menurunkan volume. Ia mengingat bahwa Nadine tidak memilih dilahirkan di tengah masalah orang dewasa.
'Aku gak marah sama Nadine,' katanya. 'Dia gak salah.'
Maya mengusap punggung putrinya. 'Saya tidak meminta kamu menerima kami sekarang.'
'Memang bukan Tante yang berhak menentukan waktunya.'
Maya menerima kalimat tajam itu tanpa membalas. Adrian kemudian menjelaskan alasan administratif yang membuatnya datang. Ia hendak memindahkan sebagian saham perusahaan tambang ke perusahaan baru dan membutuhkan persetujuan karena beberapa saham tercatat sebagai aset keluarga untuk Karin serta Kevin.
Kevin mendorong map kembali. 'Kami tidak akan tanda tangan sebelum pengacara memeriksa.'
'Papa tidak akan mengambil hak kalian.'
'Papa sudah menyembunyikan keluarga selama dua tahun. Kepercayaan gak bisa diminta lewat satu kalimat,' kata Karin.
Adrian tampak tersinggung. 'Kamu masih anak sekolah. Jangan bicara seolah mengerti bisnis.'
Karin berdiri. Air matanya hampir jatuh, tetapi suaranya tetap terkendali. 'Aku mungkin gak mengerti bisnis. Makanya aku akan belajar sebelum tanda tangan. Papa sendiri yang bilang ini hakku.'
Kevin ikut berdiri. 'Pertemuan selesai.'
Nadine memanggil Karin sebelum ia mencapai pintu. Anak kecil itu memberikan satu balok berwarna ungu.
'Buat Tante.'
Karin memandang balok tersebut. Ia ingin menolak segala sesuatu yang berasal dari keluarga baru papanya, tetapi wajah Nadine terlalu polos untuk dijadikan sasaran kemarahan.
'Namaku Karin,' katanya sambil berjongkok. 'Kamu boleh panggil Kak Karin.'
'Kak Karin nanti datang lagi?'
Karin tidak memberikan janji palsu. 'Aku belum tahu.'
Ia menerima balok ungu itu lalu pergi bersama Kevin. Di dalam mobil, tangis yang ditahannya pecah. Kevin tidak menyuruhnya berhenti dan tidak mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia hanya memberikan tisu dan menunggu.
'Aku benci Papa,' ucap Karin.
'Kamu boleh marah.'
'Tapi aku kasihan sama Nadine. Apa itu berarti aku mengkhianati Mama?'
'Tidak. Nadine juga anak yang hidup dalam keputusan orang dewasa.'
Karin menatap balok di tangannya. 'Aku gak mau dia dibohongi seperti aku.'
Mereka tidak langsung pulang. Karin meminta Kevin mengantarnya ke taman dekat rumah Altar. Ia mengirim pesan, dan lima belas menit kemudian Altar datang dengan sepeda.
Kevin memberi mereka ruang, tetapi tetap menunggu di mobil. Karin duduk di bangku taman sambil memegang balok ungu. Ia menceritakan seluruh pertemuan, termasuk dokumen saham yang tidak dipahaminya.
'Kamu hebat karena tidak langsung menandatangani,' kata Altar.
'Aku cuma mengikuti Kak Kevin.'
'Tetap saja kamu memilih berdiri dan pergi.'
Karin menunjukkan balok pemberian Nadine. 'Aku punya adik. Dia lucu, dan aku gak tahu harus merasa apa.'
'Kamu tidak harus memilih satu perasaan.'
'Marah, sedih, dan sayang sedikit boleh barengan?'
'Boleh.'
Angin sore bertiup pelan. Karin menyandarkan kepala ke bahu Altar, kemudian cepat-cepat tegak kembali.
'Boleh pinjam bahumu?'
Altar mengangguk. 'Boleh.'
Karin kembali bersandar. Altar kaku selama beberapa detik sebelum membiarkan bahunya rileks. Mereka tidak berbicara. Untuk Karin yang biasanya mengisi setiap keheningan, diam bersama seseorang ternyata tidak semenakutkan yang ia kira.
Dari mobil, Kevin melihat mereka tanpa berniat mengganggu. Ia menerima pesan dari nomor ayahnya berisi permintaan agar dokumen segera ditandatangani sebelum akhir bulan. Kevin meneruskan pesan tersebut kepada pengacara keluarga, lalu mematikan layar.
Di taman, Karin akhirnya mengangkat kepala. 'Al, terima kasih karena gak bohong bilang semuanya akan langsung baik-baik saja.'
'Aku memang tidak tahu kapan akan baik.'
'Tapi kamu tetap di sini.'
'Iya.'
Altar tidak mengucapkan janji besar tentang selalu tinggal. Ia hanya hadir pada sore itu, dan bagi Karin kejujuran kecil tersebut terasa lebih aman daripada kepastian palsu.
Karin tersenyum kecil. Di tangannya, balok ungu itu bukan tanda bahwa ia sudah menerima keluarga baru ayahnya. Benda tersebut hanya menjadi pengingat bahwa kebenaran rumit tidak harus dibagi menjadi orang baik dan orang jahat.
Sementara itu, di restoran yang telah sepi, Adrian menerima telepon dari rekan bisnisnya. Ia menatap map yang gagal ditandatangani Karin.
'Anak-anak mulai curiga,' katanya. 'Kita harus cari cara lain sebelum pemeriksaan perusahaan dimulai.'
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.