Senin pagi, Kevin membawa salinan dokumen Adrian ke kantor pengacara keluarga sebelum berangkat sekolah. Ia tidak memberi tahu Karin semua istilah rumit di dalamnya karena belum memahami sendiri, tetapi berjanji akan menjelaskan hasil pemeriksaan tanpa menyembunyikan apa pun.
'Termasuk kalau hasilnya buruk?' tanya Karin.
'Termasuk kalau hasilnya buruk.'
Karin mengangguk. Janji itu tidak langsung mengembalikan kepercayaannya, namun setidaknya Kevin mulai memperlakukannya sebagai orang yang berhak mengetahui hidup sendiri.
Di sekolah, persiapan festival semakin sibuk. Karin resmi masuk tim dekorasi dan mendapat tanggung jawab membuat penanda jalur keluar. Kevin sempat khawatir ia hanya akan bermain-main, tetapi Karin datang membawa desain yang sudah diperbaiki tiga kali.
'Ini benar buatanmu?' tanya Dion.
'Kalau mau mengejek, bantu gunting.'
'Aku cuma terharu akhirnya tanganmu menghasilkan sesuatu selain nilai remedial.'
Karin melempar gulungan kertas ke arahnya. Suara benda itu jatuh tidak terlalu keras, tetapi ia spontan menoleh memastikan Altar baik-baik saja. Altar sedang mencatat daftar kabel dan mengangkat ibu jari.
Selvi menghampiri mereka dengan lembar anggaran. 'Altar, ada selisih jumlah lampu. Bisa ikut aku ke gudang?'
Altar berdiri. Karin ingin menawarkan diri, lalu menahan ucapan. Ia tidak boleh menempel pada Altar setiap saat hanya karena cemburu. Sebagai gantinya, ia kembali mengecat tanda panah.
'Kamu menatap punggung mereka seperti mau menembakkan laser,' bisik Hany.
'Aku sedang memastikan mereka gak tersesat.'
'Gudangnya lurus di ujung lorong.'
Karin mencelupkan kuas terlalu dalam sampai cat menetes. Hany tertawa, tetapi tidak melanjutkan godaan setelah melihat sahabatnya benar-benar gelisah.
Setengah jam kemudian Altar kembali sendirian. Ia meletakkan sebungkus permen di dekat Karin.
'Dari mana?'
'Tadi lewat koperasi.'
'Kenapa dikasih ke aku?'
'Wajahmu seperti sedang ingin menggigit orang.'
Karin membuka bungkus permen. 'Aku gak cemburu.'
'Aku tidak bilang kamu cemburu.'
'Tapi kamu pasti mikir begitu.'
Altar duduk di seberangnya. 'Kalau kamu cemburu, bilang saja. Aku tidak akan menertawakan.'
Kejujuran Altar membuat Karin kehilangan alasan untuk berkelit. Ia menurunkan kuas. 'Iya, sedikit. Padahal kita cuma teman dan aku gak punya hak ngatur kamu.'
'Perasaan tidak harus memberikan hak untuk mengatur.'
'Terus aku harus gimana?'
'Percaya aku bisa memilih siapa yang dekat denganku.'
Karin memikirkan kalimat itu. 'Dan kalau pilihanmu bukan aku?'
Altar tidak menjawab cepat. 'Saat ini aku memilih duduk di sini.'
Jawaban tersebut bukan pengakuan cinta, namun cukup membuat cat di tangan Karin kembali bergerak lebih rapi.
Siang menjelang sore ketika telepon Kevin berdering. Ia keluar ruangan untuk menjawab, lalu kembali dengan wajah tegang. Karin langsung mengetahui panggilan itu berkaitan dengan dokumen ayah mereka.
'Pengacara minta kita datang sepulang sekolah,' kata Kevin.
'Kenapa?'
'Ada beberapa pasal yang berbahaya.'
Karin ingin bertanya lebih banyak, tetapi Kevin sendiri belum mendapatkan penjelasan. Ia meminta izin pulang lebih dulu dari kegiatan festival. Altar menawarkan menemani mereka sampai gerbang.
'Kabari kalau kamu butuh teman,' katanya kepada Karin.
'Aku pasti mengabari, bahkan kalau kamu gak minta.'
Di kantor pengacara, seorang perempuan bernama Ratna menunjukkan diagram kepemilikan saham. Adrian meminta persetujuan memindahkan aset ke perusahaan baru yang ternyata menanggung utang besar. Jika mereka menandatangani, sebagian saham milik Karin dan Kevin akan menjadi jaminan pinjaman.
'Papa bilang cuma perubahan data keluarga,' ujar Karin.
'Kalimat itu tidak sepenuhnya salah, tetapi menyembunyikan akibat terpenting,' jawab Ratna.
Kevin mengepalkan rahang. 'Apakah dia bisa melakukannya tanpa tanda tangan kami?'
'Tidak secara sah. Namun kalian harus waspada pada dokumen lain atau surat kuasa yang mungkin pernah ditandatangani saat masih di bawah umur.'
Ratna menyarankan audit menyeluruh terhadap aset yang dicatat atas nama mereka. Sandra bergabung melalui panggilan video dan langsung menyetujui pemeriksaan. Karin mendengarkan setiap istilah, meminta penjelasan ketika tidak paham, dan mencatatnya. Ia tidak mau lagi dianggap anak yang dapat dialihkan perhatiannya dengan uang jajan.
Setelah pertemuan, Adrian menelepon. Kevin hendak menolak panggilan, tetapi Karin meminta menyalakan pengeras suara.
'Kenapa kalian membawa urusan keluarga ke pengacara?' tanya Adrian.
'Karena dokumen yang Papa kasih bukan urusan keluarga biasa,' jawab Karin.
'Papa sudah mengatakan tidak akan merugikan kalian.'
'Kalau begitu kenapa gak jelaskan soal utangnya?'
Adrian terdiam sesaat. Ia lalu mengatakan perusahaan baru membutuhkan modal sementara dan aset mereka tidak akan benar-benar diambil. Ratna menggeleng dari seberang meja.
'Aku gak akan tanda tangan,' kata Karin.
'Kamu tidak mengerti konsekuensinya. Perusahaan itu membiayai kehidupan kalian.'
'Aku mungkin belum mengerti semuanya. Tapi aku mengerti kalau Papa minta kami mengambil risiko tanpa mengatakan kebenaran.'
Suara Adrian mengeras. 'Jangan kurang ajar kepada orang tua.'
Karin hampir membalas dengan teriakan. Ia melihat catatan di tangannya dan menarik napas.
'Menghormati Papa bukan berarti menyerahkan hakku. Kalau Papa mau bicara lagi, bicara lewat Bu Ratna.'
Ia memutus sambungan. Tangannya gemetar hebat setelahnya. Kevin meraih tangannya, tetapi menunggu sampai Karin membalas genggaman.
'Aku takut,' aku Karin.
'Aku juga.'
Untuk pertama kalinya, Kevin tidak berpura-pura menjadi kakak yang selalu tahu jalan keluar. Mereka duduk sebagai dua anak yang sama-sama dikecewakan ayahnya, namun kini memiliki kebenaran dan bantuan untuk melindungi diri.
Malamnya, Karin menceritakan hasil pemeriksaan kepada Altar. Cowok itu tidak memuji keberaniannya secara berlebihan. Ia justru bertanya apakah Karin sudah makan setelah melalui hari panjang.
'Belum.'
'Makan dulu. Masalah perusahaan tidak akan selesai kalau kamu pingsan.'
'Kamu kok mirip Kak Kevin sekarang?'
'Berarti nasihat kami masuk akal.'
Karin membawa ponsel ke meja makan. Sambil menyuap nasi, ia tetap terhubung dengan Altar melalui panggilan video. Mereka tidak banyak bicara. Altar belajar, Karin membaca ulang catatan dari Ratna.
Keheningan itu tidak kosong. Di tengah keluarga yang sedang retak dan dokumen yang mengancam masa depan, Karin menemukan satu ruang kecil tempat ia tidak perlu berpura-pura mengerti atau terlihat ceria.
Untuk malam itu, ruang kecil tersebut sudah cukup membuatnya bertahan.