Nadine muncul di gerbang sekolah pada Jumat siang bersama pengasuhnya. Anak itu memegang tas berbentuk kelinci dan balok ungu yang pernah diberikannya kepada Karin. Pengasuh bernama Mbak Rosi terlihat panik ketika menjelaskan Maya sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan kecil, sedangkan Adrian tidak dapat dihubungi.
'Kenapa dibawa ke sini?' tanya Kevin waspada.
'Nadine terus minta bertemu Kak Karin. Bu Maya bilang saya boleh menghubungi, tapi nomor Mbak Karin tidak aktif.'
Karin baru ingat memblokir semua nomor yang berhubungan dengan keluarga baru Adrian. Ia berjongkok di depan Nadine.
'Mama kenapa?'
'Jatuh di tangga. Kepalanya berdarah,' jawab Nadine dengan bibir gemetar.
Kemarahan Karin kepada orang dewasa tidak sanggup membuatnya mengabaikan anak empat tahun yang ketakutan. Ia meminta Kevin menghubungi Ratna dan Sandra agar tidak ada salah paham. Setelah mendapatkan izin, mereka membawa Nadine ke rumah sakit.
Altar yang baru keluar kelas melihat mereka di gerbang. Karin menjelaskan singkat, lalu menyuruhnya pulang karena keramaian rumah sakit mungkin mengganggu.
'Kabari aku,' kata Altar.
'Iya.'
Di ruang tunggu, Nadine terus menggenggam tangan Karin. Maya mengalami luka di kepala dan pergelangan kaki terkilir, tetapi kondisinya stabil. Adrian akhirnya datang satu jam kemudian dengan wajah tergesa. Ia tampak terkejut menemukan Karin dan Kevin.
Selama menunggu, Karin mengajak Nadine menggambar agar anak itu tidak terus memandangi pintu ruang tindakan. Nadine menggambar empat orang di bawah matahari: dirinya, Maya, Adrian, dan Karin. Kevin berdiri agak jauh di sisi kertas karena Nadine belum tahu harus menaruhnya di mana.
'Kak Kevin juga kakakku?' tanyanya.
'Iya,' jawab Karin.
Nadine menambahkan satu figur lagi. Karin menahan sesak melihat betapa mudahnya anak kecil membuat tempat bagi orang baru, sementara orang dewasa menghabiskan bertahun-tahun membangun dinding dari rahasia.
Ketika Nadine bertanya mengapa Karin baru datang sekarang, Karin tidak menyalahkan siapa pun. Ia mengatakan mereka baru mendapat kesempatan berkenalan. Jawaban itu tidak lengkap, tetapi berbeda dari kebohongan: Karin berjanji akan menjelaskan lebih banyak ketika Nadine cukup besar untuk bertanya kembali.
'Kenapa Nadine bersama kalian?'
'Karena Papa gak bisa dihubungi,' jawab Karin.
Adrian hendak mengambil Nadine, tetapi anak itu bersembunyi di belakang Karin. Pemandangan tersebut membuat suasana semakin canggung.
'Papa tadi rapat,' katanya membela diri.
'Anak Papa ketakutan. Rapat bukan jawaban,' balas Kevin.
Karin tidak ingin bertengkar di depan Nadine. Ia meminta Adrian duduk dan menjelaskan bahwa Maya sudah sadar. Ketika dokter mengizinkan satu orang masuk, Nadine memilih Karin menemaninya.
Maya terlihat pucat di tempat tidur. Air matanya mengalir begitu melihat putrinya.
'Maaf merepotkanmu,' katanya kepada Karin.
'Aku bantu Nadine, bukan menyelesaikan masalah kita.'
'Saya mengerti.'
Nadine memeluk ibunya. Karin berdiri di dekat pintu, merasa seperti orang asing sekaligus kakak. Maya kemudian meminta bicara sebentar saat Nadine dibawa perawat mengambil makanan.
'Saya baru tahu soal surat kuasa setelah Adrian menerima pemberitahuan pengacara,' ucap Maya. 'Saya tidak ikut mengurus perusahaan.'
'Kenapa aku harus percaya?'
'Kamu tidak harus percaya sekarang. Tapi ada berkas di ruang kerja rumah kami. Adrian menyuruh staf memindahkannya kemarin malam.'
Karin menegang. 'Kenapa Tante kasih tahu aku?'
Maya memandang pintu tempat Nadine keluar. 'Karena saya tidak mau putri saya tumbuh dalam rumah yang seluruhnya dibangun dari rahasia.'
Ia memberikan nama staf yang diperintah Adrian. Karin tidak berjanji merahasiakan percakapan. Maya justru meminta informasi itu disampaikan kepada Ratna.
Di lorong, Adrian sedang berdebat dengan Kevin. Karin menarik kakaknya menjauh dan menceritakan ucapan Maya. Mereka langsung menghubungi Ratna, yang berjanji meminta pengamanan dokumen melalui jalur hukum.
Adrian mendekat dengan wajah curiga. 'Maya bilang apa?'
'Tanya langsung sama istri Papa,' jawab Karin.
'Jangan campuri rumah tangga Papa.'
Karin hampir tertawa karena ironi kalimat tersebut. 'Papa yang membawa tanda tanganku ke urusan perusahaan.'
Nadine kembali membawa puding. Ia menawarkan setengah kepada Karin. Perdebatan pun berhenti. Karin duduk di lantai dekat kursi anak itu dan menerima satu sendok kecil.
'Kak Karin nanti datang ke rumah?' tanya Nadine.
'Belum tahu.'
'Kak Karin marah sama Nadine?'
Pertanyaan itu membuat Karin kehilangan kata-kata. Ia menyentuh kepala Nadine pelan. 'Enggak. Kakak marah sama masalah orang dewasa. Bukan sama Nadine.'
'Berarti Karin benar kakakku?'
Karin menoleh kepada Kevin. Kakaknya mengangguk kecil, menyerahkan keputusan kepadanya.
'Iya,' jawab Karin. 'Tapi kita kenalan pelan-pelan, ya.'
Nadine tersenyum dan memeluknya. Karin kaku sesaat sebelum membalas. Ia tidak merasa mengkhianati Sandra. Menyayangi anak kecil tidak menghapus kesalahan Adrian maupun Maya.
Sebelum berpisah, Karin memberikan nomor telepon khusus kepada Mbak Rosi dan meminta nomor itu digunakan hanya untuk keadaan Nadine. Ia juga menjelaskan kepada Maya bahwa pertemuan berikutnya harus diketahui Sandra atau Kevin. Batas itu mungkin terdengar kaku, tetapi Karin tidak mau kedekatan dengan adiknya dimanfaatkan untuk melewati proses hukum.
Maya menerima syarat tersebut. 'Kamu lebih berhati-hati daripada saya pada usiamu.'
'Aku belajar setelah terlalu lama gak diberi pilihan.'
Malam hari, setelah Maya diperbolehkan pulang, Karin bertemu Altar di taman dekat rumah. Ia menceritakan peristiwa itu sambil menunjukkan foto balok ungu di tas Nadine.
'Hari ini aku resmi jadi kakak,' katanya.
'Kamu sudah lama jadi adik yang merepotkan. Sekarang waktunya merasakan posisi Kevin.'
Karin memukul lengannya pelan. 'Aku serius.'
'Aku juga. Menjadi kakak tidak berarti kamu harus langsung tahu semuanya.'
Karin tersenyum. 'Aku bilang ke Nadine kami kenalan pelan-pelan.'
'Itu jawaban yang baik.'
Ponsel Karin berbunyi. Ratna memberi kabar bahwa pengadilan mengabulkan permintaan sementara untuk mengamankan berkas perusahaan. Staf yang disebut Maya bersedia menyerahkan salinan komunikasi dengan Adrian.
Masalah belum selesai, tetapi kini kebohongan Adrian tidak lagi berdiri tanpa saksi. Karin menatap Altar dan sadar satu hal lain: kebenaran sering datang bukan dari orang yang sempurna, melainkan dari orang yang akhirnya memilih berhenti diam.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.