Ujian akhir semester dimulai dua minggu kemudian. Karin belajar lebih rajin daripada sepanjang hidupnya, sebagian karena ancaman pembatalan liburan tidak lagi terasa penting. Ia ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa memahami sesuatu bukan hak khusus orang pintar.
Altar membantunya sepulang sekolah. Kevin mengajar saat malam, sementara Dion dan Hany membentuk kelompok belajar yang lebih sering berubah menjadi sesi makan. Meski begitu, nilai latihan Karin perlahan naik.
'Tujuh puluh dua!' serunya ketika guru membagikan hasil matematika.
Dion memeriksa kertas itu dari segala arah. 'Ini nama kamu, kan? Bukan kertas orang lain nyasar?'
Karin mengejarnya keliling kelas sambil membawa penggaris. Tawa mereka membuat guru menegur, tetapi untuk sekali ini Karin tidak peduli. Nilai tersebut bukan yang tertinggi, namun diperoleh tanpa menyontek dan tanpa bantuan nama keluarganya.
Ia berlari ke kelas Altar saat istirahat. Altar sedang berbicara dengan Selvi ketika Karin muncul membawa kertas.
'Al, lihat!'
Altar membaca angka merah dan tersenyum lebar. 'Aku tahu kamu bisa.'
Karin spontan memeluknya. Satu kelas langsung bersorak. Altar membeku, lalu menepuk punggung Karin satu kali sebelum melepaskan diri karena wajahnya memerah.
'Kami cuma teman!' seru Karin kepada siswa yang menggoda.
'Teman dekat,' koreksi Selvi sambil tertawa.
Karin kembali ke kelas dengan jantung berdebar. Ia sadar alasan dirinya memeluk Altar bukan semata-mata nilai. Perasaan yang selama ini disebut suka sebagai teman mulai terlalu besar untuk bersembunyi di balik istilah tersebut.
Sepulang sekolah, Altar mengajaknya ke perpustakaan. Dika sengaja pergi mengurus inventaris setelah mengedipkan mata berlebihan kepada mereka.
'Kamu tadi membuat satu kelas salah paham,' kata Altar.
'Maaf. Aku terlalu senang.'
'Aku tidak marah.'
'Terus kenapa ngajak bicara serius?'
Altar memutar pulpen di jarinya. 'Karena aku juga mulai salah paham.'
Karin duduk di hadapannya. Untuk pertama kali, ia berharap Altar bicara cepat meski tahu cowok itu membutuhkan waktu.
'Dulu aku minta kamu menjauh karena takut,' lanjut Altar. 'Aku terbiasa mengatur hidup supaya tidak ada yang terlalu dekat dan tidak ada suara yang tidak bisa kukendalikan. Kamu datang dengan cara paling berisik.'
'Itu pujian atau hinaan?'
'Belum selesai.'
Karin menutup mulut dengan kedua tangan.
'Sekarang saat kamu tidak datang, aku mencarimu. Saat kamu sedih, aku ingin tahu kamu aman. Dan ketika kamu cemburu pada Selvi, ada bagian diriku yang senang meskipun seharusnya tidak.'
Karin menurunkan tangannya. 'Berarti kamu suka aku?'
'Aku sedang mencoba mengatakan itu.'
'Kenapa gak langsung bilang dari tadi?'
Altar menghela napas, lalu tersenyum. 'Iya, Karin. Aku suka kamu.'
Karin ingin berteriak, tetapi teringat mereka berada di perpustakaan dan Altar masih memulihkan telinganya. Ia menekan kedua pipinya sendiri untuk menahan suara.
'Aku juga suka kamu,' bisiknya. 'Bukan cuma karena kamu baik atau ganteng. Aku suka karena kamu berani bilang tidak, karena kamu gak selalu kasih jawaban enak, dan karena dekat kamu aku belajar gak harus jadi paling ramai supaya dilihat.'
Altar menatapnya tanpa berkedip. 'Jadi kita pacaran?'
Karin yang biasanya cepat mengambil keputusan justru terdiam. Hidupnya sedang dipenuhi konflik keluarga, sedangkan Altar masih belajar menetapkan batas kesehatan. Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi pelarian.
'Aku mau,' katanya, 'tapi pelan-pelan. Kita bikin aturan.'
'Aturan apa?'
'Kalau kamu butuh ruang, bilang. Kalau aku kelewatan, tegur. Gak boleh menghilang buat menghukum. Dan kita tetap belajar karena sebentar lagi ujian kelulusan.'
'Kedengarannya masuk akal.'
'Kamu juga boleh tambah.'
'Jangan membuat keputusan kesehatan untukku. Temani kalau aku minta, tapi jangan menganggap aku selalu rapuh.'
Karin mengangguk. Mereka berjabat tangan seperti menyepakati kontrak. Dika yang mengintip dari balik rak mengeluh pelan.
'Anak muda zaman sekarang menyatakan cinta kayak rapat organisasi.'
Karin langsung menoleh. 'Kak Dika nguping!'
'Ini perpustakaanku. Suara kalian memantul.'
Altar tertawa sambil menutup wajah. Pengakuan yang seharusnya romantis berubah kacau, tetapi justru terasa cocok bagi mereka.
Mereka belum berciuman. Altar hanya mengantar Karin ke gerbang dan menggenggam tangannya untuk pertama kali. Karin memandangi jari mereka yang bertaut, seolah takut pemandangan itu hilang jika berkedip.
'Kalau salah satu dari kita berubah pikiran, harus bilang juga,' kata Altar.
Karin mengangguk meski kalimat itu sedikit menakutkan. Ia ingin janji selamanya, tetapi mulai memahami hubungan yang aman bukan hubungan tanpa kemungkinan berakhir. Hubungan yang aman memberi keduanya kebebasan untuk jujur tanpa ancaman atau hukuman.
'Aku boleh cerita ke Hany dan Dion?' tanyanya.
'Boleh. Tapi jangan umumkan lewat pengeras suara.'
'Aku gak janji soal grup pesan.'
Berita itu menyebar bahkan sebelum Karin sampai rumah karena Hany mengirim stiker perayaan ke grup kelas yang salah. Kevin mengetahuinya dari teman sekelas dan menunggu Karin di ruang tengah dengan wajah seorang kakak yang siap menginterogasi.
'Kamu dan Altar pacaran?'
'Baru mulai hari ini.'
'Kenapa Kakak tahu dari grup kelas?'
'Karena teknologi bergerak lebih cepat dari adikmu.'
Kevin hendak memberikan ceramah, lalu berhenti. Ia mengingat janjinya untuk tidak lagi mengambil keputusan atas nama Karin.
'Kakak cuma minta kalian saling menghormati dan gak mengganggu sekolah.'
'Itu juga aturan kami.'
Kevin mengangguk meski masih terlihat berat menerima adiknya berpacaran. Sandra justru memeluk Karin dan berpesan agar ia tidak menjadikan hubungan sebagai obat untuk semua luka.
Malam itu, Karin dan Altar melakukan panggilan video seperti biasa. Tidak ada perubahan dramatis. Mereka tetap belajar, saling mengingatkan makan, dan sesekali tersenyum tanpa alasan.
Hubungan mereka akhirnya memiliki nama, tetapi nama itu bukan akhir perjalanan. Di luar layar, pemeriksaan terhadap Adrian terus berjalan, kelulusan semakin dekat, dan masa depan Altar mungkin membawanya kuliah ke luar negeri.
Karin melihat kalender, lalu bertanya, 'Kalau nanti kita harus berjauhan, kamu bakal gimana?'
Altar terdiam. Pertanyaan itu belum memiliki jawaban. Untuk malam tersebut, mereka sepakat tidak memaksanya. Mereka masih memiliki waktu untuk belajar.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.