Hubungan Karin dan Altar berjalan hampir sama seperti sebelum mereka berpacaran. Mereka masih belajar di perpustakaan, saling mengingatkan makan, dan berdebat tentang kebiasaan Karin menaruh barang sembarangan. Perbedaannya hanya tangan mereka lebih sering bertaut di bawah meja dan Karin memiliki alasan resmi untuk tersenyum setiap melihat nama Altar di layar ponsel.
Dion menganggap hubungan itu mengecewakan.
'Kalian pacaran kok kerjaannya belajar?' tanyanya.
'Memangnya harus jungkir balik di lapangan?' balas Karin.
'Minimal ada drama romantis.'
Hany menyikut Dion. 'Hubungan sehat memang kelihatan membosankan buat orang yang kebanyakan nonton sinetron.'
Karin setuju, meskipun diam-diam ia juga menunggu sesuatu yang romantis. Altar belum pernah memberikan bunga atau mengajaknya makan malam. Sebaliknya, cowok itu membuatkan kartu rumus matematika dengan warna berbeda. Anehnya, Karin menyimpan kartu tersebut di kotak yang sama dengan koleksi barang berharganya.
Satu bulan menjelang kelulusan, wali kelas memanggil Altar. Di meja guru terdapat amplop putih dengan lambang universitas di Prancis. Program beasiswa yang pernah ditawarkan sekolah akhirnya menerima berkas Altar. Ia mendapat kesempatan mengikuti tahap wawancara terakhir untuk jurusan teknik akustik.
'Ini belum penerimaan final,' kata wali kelas, 'tetapi nilaimu sangat kuat. Kalau wawancara berjalan baik, seluruh biaya kuliah dan tempat tinggal ditanggung.'
Altar membaca surat itu berulang kali. Teknik akustik bukan pilihan acak. Ia ingin memahami suara, merancang ruang yang aman, dan suatu hari membuat teknologi yang membantu orang dengan kondisi seperti dirinya.
'Saya harus berangkat kapan kalau diterima?'
'Program persiapan bahasa mulai dua bulan setelah kelulusan.'
Kegembiraan Altar langsung bercampur takut. Dua bulan terlalu dekat. Ia memikirkan Mama Hanna, rumah dengan pohon anggur, dan Karin yang baru saja menjadi bagian penting hidupnya.
Di luar ruang guru, Karin menunggu sambil memakan roti. Ia melambaikan tangan, lalu melihat amplop di tangan Altar.
'Surat apa? Jangan bilang surat cinta dari Selvi.'
Altar memberikannya. Karin membaca dengan cepat, kemudian memekik senang sebelum mengingat kondisi telinga Altar dan menutup mulut.
'Kamu hampir diterima! Al, ini keren banget!'
'Baru wawancara.'
'Tetap saja. Kamu harus ikut.'
Jawaban Karin begitu cepat sampai Altar terkejut. Ia mengira Karin akan memikirkan jarak.
'Kalau diterima, aku pergi dua bulan setelah lulus.'
Senyum Karin sedikit turun, tetapi tidak hilang. 'Aku tahu Prancis jauh.'
'Kita baru mulai pacaran.'
'Terus kamu mau nolak kesempatan sebesar ini gara-gara aku? Jangan coba-coba.'
Altar menatapnya. 'Kamu tidak takut?'
'Takut. Tapi rasa takutku bukan alasan untuk mengatur masa depanmu.'
Karin mengucapkan kalimat itu dengan mantap, meski jari yang memegang surat bergetar. Ia mengembalikan amplop dan memeluk Altar pelan.
'Kita pikirkan jaraknya setelah kamu lolos. Sekarang persiapkan wawancara.'
Malamnya, Karin menangis di kamar. Ia tidak menyesali dukungannya, hanya sedih membayangkan Altar berada ribuan kilometer darinya. Hany mendengarkan melalui panggilan video.
'Kamu boleh bilang sedih ke Altar,' kata Hany.
'Nanti dia merasa bersalah.'
'Menyembunyikan perasaan juga bohong, Rin.'
Karin teringat semua pelajaran beberapa bulan terakhir. Keesokan harinya ia meminta bertemu di taman.
'Kemarin aku sok kuat,' katanya. 'Aku tetap mau kamu ikut wawancara, tapi aku juga takut kita gak sanggup jarak jauh.'
Altar mengangguk. 'Aku juga takut. Aku bahkan sempat berpikir tidak memberi tahu surat itu.'
'Kalau kamu sembunyikan, aku bakal marah besar.'
'Makanya aku tidak melakukannya.'
Mereka membuat daftar ketakutan: perbedaan waktu, biaya komunikasi, kesibukan kuliah, kecemburuan, dan kesehatan Altar di negara asing. Setelah itu mereka menulis hal-hal yang dapat dipersiapkan: jadwal bicara yang fleksibel, kontak darurat, fasilitas kampus, serta kesepakatan untuk jujur jika hubungan mulai terasa berat.
Karin mengusulkan panggilan video setiap malam, tetapi Altar mengingatkan perbedaan waktu dan tugas kuliah mungkin membuat janji itu sulit dipenuhi. Mereka menggantinya dengan target berbicara beberapa kali seminggu tanpa menghukum siapa pun yang harus membatalkan. Pesan yang belum dibalas tidak boleh langsung dianggap tanda kehilangan cinta.
'Kalau aku kangen berat?'
'Bilang kangen. Jangan bikin tes rahasia untuk melihat aku peka atau tidak.'
Karin mencoret rencana pura-pura menghilang yang belum sempat ia akui. 'Baiklah. Tidak ada tes kepekaan.'
Mereka juga sepakat tetap punya kehidupan masing-masing. Karin boleh pergi bersama teman tanpa harus melapor setiap menit, dan Altar tidak perlu meminta izin ketika bergabung dengan kegiatan kampus. Kepercayaan, kata Altar, tidak dibangun dengan mengawasi layar ponsel.
'Kita kayak rapat lagi,' kata Karin.
'Hubungan kita memang banyak dokumen tidak resmi.'
'Yang penting gak ada tanda tangan palsu.'
Candaan itu terdengar pahit, tetapi Karin sudah mampu menyebut masalah keluarganya tanpa langsung hancur.
Sementara Altar mempersiapkan wawancara, pemeriksaan terhadap Adrian berkembang. Ahli mengonfirmasi surat kuasa menggunakan salinan tanda tangan Karin. Ratna melaporkan dugaan pemalsuan dan penyalahgunaan aset. Beberapa rekening perusahaan dibekukan sementara.
Adrian mengirim pesan meminta Karin mencabut laporan demi Nadine. Karin menunjukkan pesan tersebut kepada Maya, yang kini berkomunikasi melalui Ratna.
Maya menjawab tegas bahwa kebutuhan Nadine tidak boleh dijadikan alat menekan Karin. Ia juga menyerahkan catatan pemindahan berkas dan pesan dari staf perusahaan.
'Aku gak menyangka Tante Maya mau melawan Papa,' kata Karin kepada Kevin.
'Orang bisa membuat kesalahan lalu memilih berhenti melanjutkannya.'
Hari wawancara tiba. Altar melakukannya melalui video dari ruang sekolah yang tenang. Karin menunggu di luar bersama Mama Hanna dan Kevin. Hampir satu jam kemudian pintu terbuka. Altar keluar dengan wajah yang sulit dibaca.
'Gimana?' Karin langsung berdiri.
'Aku menjawab semua pertanyaan.'
'Terus?'
'Mereka bilang hasilnya minggu depan.'
Karin memegang kedua bahunya. 'Kamu sudah melakukan bagianmu.'
Altar tersenyum, lalu menyandarkan dahi ke dahi Karin. 'Terima kasih karena menyuruhku mencoba.'
'Aku akan menagih oleh-oleh kalau kamu diterima.'
Mereka tertawa, tetapi di antara tawa itu ada kesadaran bahwa sebuah surat dapat mengubah arah hidup. Karin tidak bisa menghentikan perubahan. Ia hanya dapat memilih apakah cinta akan menjadi rantai atau tempat keduanya berani tumbuh.