Delapan minggu berlalu dengan cepat. Altar mengurus visa, pemeriksaan kesehatan, asrama, dan kelas bahasa. Karin membantu membuat daftar barang, tetapi dilarang memasukkan sekoper makanan instan karena batas bagasi.
'Di Prancis ada makanan,' kata Altar.
'Tapi belum tentu ada sambal yang punya harga diri.'
Mama Hanna menambahkan beberapa bungkus sambal, lalu mengeluarkan separuh barang tidak penting yang dimasukkan Karin. Mereka bekerja di kamar Altar sambil bercanda, seolah keberangkatan hanya perjalanan singkat.
Beberapa hari sebelumnya, Karin mengikuti orientasi kampus desain yang dipilihnya. Ia diterima melalui tes mandiri setelah menyerahkan portofolio penanda festival, poster sekolah, dan desain baru bersama Hany. Sandra menawarkan membayar seluruh biaya, tetapi Karin meminta rincian anggaran.
'Mandiri bukan berarti menolak semua dukungan,' kata Sandra.
'Aku tahu. Aku cuma mau tahu apa yang sedang dibayar.'
Karin juga membatasi uang jajannya. Ia tidak berhenti mengoleksi album, tetapi menjual barang ganda dan membuat tabungan untuk mengunjungi Altar setelah semester pertama. Dion mengejeknya karena baru mengenal anggaran, sementara Kevin membantu membuat tabel.
Altar meminta Karin tidak menjanjikan tanggal kunjungan sebelum paspor, kuliah, dan uangnya siap. Mereka belajar membedakan mampu membeli dengan siap melakukan perjalanan. Bagi Karin yang dahulu menganggap uang dapat menyelesaikan semua jarak, perubahan itu terasa besar.
Di tengah persiapan, perkara Adrian memasuki tahap penuntutan. Melalui pengacaranya, Adrian menawarkan pengembalian penuh kewenangan aset dan pengakuan kesalahan jika keluarga mencabut laporan. Ratna menjelaskan pemalsuan merupakan perkara yang tidak selalu berhenti hanya karena korban berdamai.
Karin bersedia bertemu dalam mediasi resmi. Adrian hadir tanpa kesombongan biasanya. Perusahaannya kehilangan kepercayaan investor dan ia mengundurkan diri dari jabatan sementara.
'Papa minta maaf,' katanya. 'Papa takut bisnis yang dibangun bertahun-tahun runtuh.'
'Jadi Papa menjadikan aset kami penyangga tanpa izin,' jawab Kevin.
Adrian mengangguk. Ia tidak lagi menyalahkan staf. 'Papa pikir bisa mengembalikannya sebelum kalian tahu.'
Karin menatapnya. 'Itu bukan minta izin. Itu berharap korban gak sadar.'
Adrian menerima kalimat tersebut. Ia menandatangani pelepasan seluruh surat kuasa dan setuju pada audit independen. Karin tidak mencabut keterangannya, tetapi menyatakan kepada penyidik bahwa Adrian akhirnya kooperatif. Hasil hukum diserahkan kepada proses, bukan dijadikan alat balas dendam.
'Apa kamu masih menganggap Papa ayahmu?' tanya Adrian sebelum mereka berpisah.
'Iya. Itu sebabnya pengkhianatan Papa sakit. Tapi menjadi ayahku tidak membuat Papa bebas dari akibat.'
Adrian menangis. Karin tidak memeluknya. Ia hanya mengatakan hubungan mereka mungkin dibangun kembali setelah Adrian berhenti meminta pengampunan sebagai jalan keluar dari tanggung jawab.
Malam sebelum keberangkatan, Altar makan bersama Karin, Kevin, Sandra, Mama Hanna, Dion, dan Hany. Nadine turut hadir bersama Maya setelah semua pihak menyetujui. Suasana awalnya canggung, lalu Nadine memecahnya dengan meminta Altar membawa boneka kelincinya ke Prancis.
'Kalau bonekanya ikut, Nadine tidur sama siapa?' tanya Altar.
Nadine memeluk boneka itu. 'Kalau begitu fotonya aja.'
Mereka mengambil foto bersama. Karin melihat Sandra dan Maya duduk di meja yang sama tanpa berpura-pura akrab. Kedua perempuan itu tidak perlu menjadi teman untuk bersikap dewasa demi anak-anak.
Setelah tamu pulang, Karin membantu Altar memeriksa dokumen sekali lagi. Ia menyelipkan surat baru di dalam tas.
'Bukanya kapan?'
'Di pesawat setelah lepas landas.'
'Isinya apa?'
'Kalau kubilang sekarang namanya bukan surat.'
Pagi berikutnya, bandara dipenuhi pelukan dan pesan terakhir. Altar memakai pelindung telinga karena pengumuman serta suara koper membuat ruangan bising. Karin berdiri di depannya, berusaha tidak menangis terlalu keras.
'Paspor?'
'Ada.'
'Obat?'
'Ada.'
'Alamat asrama?'
'Sudah kamu tanyakan lima kali.'
'Aku memastikan.'
Mama Hanna memeluk putranya paling lama. Ia tidak ikut pindah, tetapi berencana berkunjung setelah semester pertama. Kevin berpesan agar Altar fokus belajar. Dion meminta oleh-oleh, dan Hany menyuruhnya mengirim foto cowok Prancis.
Mama Hanna menyerahkan map berisi catatan medis berbahasa Prancis, kontak dokter, dan salinan asuransi. Altar memeriksanya sendiri lalu menyimpan map di tas kabin. Ia tidak lagi menyerahkan seluruh pengelolaan kesehatannya kepada ibunya.
'Telepon kalau butuh, bukan hanya kalau sudah gawat,' pesan Mama Hanna.
'Iya, Mah.'
'Dan makan sayur.'
'Di sana ada sayur.'
Karin tertawa karena kalimat itu sama dengan pembelaan Altar soal makanan. Mama Hanna memeluk Karin setelahnya dan berterima kasih karena mendukung keberangkatan, bukan meminta putranya tinggal.
Ketika panggilan masuk terdengar, Altar dan Karin tinggal memiliki beberapa menit. Karin menggenggam kedua tangannya.
'Aku gak akan bilang jangan lupa aku,' katanya. 'Kalau suatu hari perasaanmu berubah, bilang jujur.'
'Kamu juga.'
'Tapi sekarang aku sayang kamu.'
Altar terdiam sesaat. Mereka belum pernah menggunakan kata itu. Ia menyentuh pipi Karin.
'Aku juga sayang kamu.'
Mereka berpelukan, lalu berciuman singkat. Karin melepaskan lebih dulu meski seluruh tubuhnya ingin menahan.
'Pergi sana sebelum pesawatnya marah.'
Altar berjalan menuju pemeriksaan. Beberapa kali ia menoleh dan melambaikan tangan. Karin membalas sampai sosoknya hilang di balik gerbang.
Di pesawat, Altar membuka surat. Karin menulis bahwa jarak bukan ujian untuk membuktikan cinta paling kuat. Jika mereka berhasil, itu karena keduanya terus memilih berkomunikasi; jika tidak, kenangan mereka tetap nyata dan tidak menjadi kegagalan.
Altar membaca bagian terakhir dua kali: pergilah bukan untuk meninggalkanku, tetapi untuk menemukan lebih banyak bagian dari dirimu yang nanti bisa kamu ceritakan.
Di bandara, Karin menangis di bahu Kevin. Setelah cukup lama, ia mengusap wajah dan mengajak semua pulang. Ia tidak mengejar pesawat atau membuat adegan dramatis. Ada kuliah yang harus dipilih, hubungan dengan Nadine yang harus dipelihara, dan persidangan Adrian yang belum selesai.
Beberapa jam kemudian, pesan Altar masuk dari bandara transit.
Altar: 'Aku sudah membaca suratnya. Aku akan punya banyak cerita.'
Karin membalas foto dirinya bersama keluarga di mobil.
Karin: 'Aku juga.'
Jarak telah dimulai, tetapi hidup mereka tidak berhenti pada dua sisi gerbang. Keduanya bergerak ke arah berbeda sambil membawa keyakinan bahwa cinta tidak selalu meminta orang tinggal. Kadang cinta justru membuka pintu dan percaya orang yang pergi masih tahu cara pulang.