Pesawat Altar mendarat di Prancis pada pagi yang dingin. Tubuhnya lelah setelah perjalanan panjang, sementara telinganya masih berdengung ringan akibat suara mesin. Ia menunggu penumpang lain turun agar tidak terjebak dalam kerumunan, lalu mengikuti petunjuk menuju bagian kedatangan.
Seorang pendamping mahasiswa internasional bernama Luc menunggu sambil membawa papan nama. Luc berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, kemudian memperlambat setelah Altar meminta. Ia membantu membeli kartu transportasi dan mengantar ke asrama universitas.
Kamar Altar kecil, hanya berisi tempat tidur, meja, lemari, dan jendela yang menghadap atap kota. Tidak ada pohon anggur Mama Hanna atau suara Karin mengomel. Ketika pintu ditutup, keheningan yang dahulu selalu dicari justru terasa terlalu luas.
Ia mengirim pesan ke grup keluarga.
Altar: 'Sudah sampai asrama. Semua aman.'
Mama Hanna langsung menelepon. Di Indonesia sudah sore. Karin ikut bergabung melalui panggilan video dan meminta Altar memutar kamera ke seluruh kamar.
'Kecil banget,' komentarnya.
'Cukup buat satu orang.'
'Kasurnya sempit. Kalau aku datang tidur di mana?'
Mama Hanna berdehem dari layar. Karin buru-buru menjelaskan ia bisa menyewa kamar lain. Altar tertawa untuk pertama kali sejak mendarat.
Hari-hari orientasi dipenuhi formulir, pemeriksaan fasilitas, dan kelas bahasa. Kampus memenuhi sebagian besar kebutuhan yang tercantum dalam berkas medisnya. Perpustakaan memiliki ruang senyap, dosen dapat memberikan materi tertulis, dan klinik kampus menghubungkannya dengan spesialis pendengaran.
Altar juga bertemu petugas aksesibilitas bernama Madame Roux. Perempuan itu tidak langsung membuat keputusan, melainkan bertanya situasi apa yang paling menyulitkan dan bentuk bantuan apa yang pernah berhasil. Mereka menyusun kartu penjelasan berbahasa Prancis yang dapat ditunjukkan Altar ketika kesulitan memahami percakapan di tempat bising.
'Kamu boleh mengubah penyesuaian kapan saja,' kata Madame Roux melalui Luc. 'Kebutuhan bukan kontrak yang membekukanmu.'
Kalimat itu menenangkan Altar. Ia tidak harus mengetahui semua kebutuhan pada minggu pertama. Ia hanya perlu mengamati tubuh dan berani melaporkan perubahan.
Di asrama, Farid mengundangnya makan bersama penghuni lantai. Altar menolak pesta besar, tetapi menerima makan malam berlima di dapur bersama. Ia menjelaskan sensitivitas suaranya sebelum mereka menyalakan musik. Teman-teman barunya memilih volume rendah tanpa menjadikannya peristiwa besar.
Untuk pertama kali Altar membangun pertemanan tanpa Karin mendorong dari belakang. Ia mengirim foto meja makan kepada Karin, bangga sekaligus terkejut pada dirinya sendiri.
Namun kota tidak dapat disesuaikan sepenuhnya. Kereta datang dengan rem melengking, jalan dipenuhi klakson, dan bahasa asing membuat Altar harus berkonsentrasi lebih keras. Setiap sore ia kembali ke asrama dengan kepala berat.
Karin ingin menelepon ketika bangun pagi, tetapi saat itu Altar masih tidur. Ketika Altar selesai kuliah, Karin sedang berada di kelas. Perbedaan enam jam yang terlihat kecil di atas kertas ternyata memotong hari mereka dengan rumit.
Pada minggu pertama, tiga panggilan terjadwal batal. Altar tertidur karena kelelahan pada panggilan pertama. Karin harus menyelesaikan tugas kelompok pada panggilan kedua. Panggilan ketiga terganggu jaringan.
'Kamu sibuk terus,' kata Karin melalui pesan suara.
Altar mendengar nada kecewa, lalu membalas defensif. 'Aku baru pindah negara. Aku gak bisa selalu pegang ponsel.'
Pesan Karin berikutnya baru datang empat jam kemudian.
'Aku cuma kangen. Tapi kalau kamu merasa aku menuntut, kita bicara nanti setelah tenang.'
Altar menyesal. Ia membaca kartu pemberian Karin yang berlabel buka saat komunikasi kita berantakan. Di dalamnya tertulis: jangan menebak isi kepalaku dari pesan pendek. Tanya langsung.
Mereka melakukan panggilan pada akhir pekan. Karin duduk di lantai kamarnya, sementara Altar berada di taman kampus yang sepi.
'Aku merasa ditinggalkan ketika panggilan batal terus,' kata Karin. 'Aku tahu kamu gak sengaja, tapi perasaannya tetap ada.'
'Aku merasa gagal karena belum mampu mengatur semuanya. Waktu kamu bilang aku sibuk, aku dengarnya seperti tuduhan.'
'Aku tidak minta kamu selalu tersedia.'
'Dan aku tidak ingin kamu berhenti bilang kangen hanya karena takut mengganggu.'
Mereka mengubah aturan. Tidak ada jadwal wajib yang kaku. Setiap pagi, masing-masing mengirim perkiraan waktu luang. Jika tidak bisa berbicara, mereka bertukar pesan suara yang dapat didengar kapan saja.
Karin menunjukkan tugas pertamanya: membuat poster tentang suara kota. Ia memilih tema ruang ramah sensorik, terinspirasi pengalaman Altar tetapi tidak menggunakan kisah pribadinya tanpa izin.
'Aku boleh memasukkan konsep tanda visual dari festival?' tanyanya.
'Boleh. Itu hasil kerjamu juga.'
Altar kemudian menunjukkan laboratorium akustik melalui foto. Ia bercerita tentang Elise, teman kelompok asal Belgia yang membantu menerjemahkan istilah Prancis, dan Farid, mahasiswa Maroko yang tinggal di lantai yang sama.
Karin berhenti pada nama Elise. 'Cewek?'
'Iya.'
'Cantik?'
'Kita pernah membahas pertanyaan jebakan ini.'
Karin tertawa malu. 'Aku cuma memastikan kamu masih ingat.'
'Aku punya teman perempuan. Kamu juga pasti punya teman laki-laki di kampus. Kita tidak perlu pura-pura mereka tidak ada.'
Karin mengangguk, meskipun kecemburuan kecil tetap muncul. Ia memilih mengakuinya daripada meminta Altar menjauh dari teman.
Setelah panggilan berakhir, Altar menemukan sebuah email baru. Pengirimnya bernama Étienne Laurent—nama ayahnya. Pesan itu singkat: aku mendengar kamu berada di kota ini. Kalau kamu bersedia, aku ingin bertemu.
Altar menatap layar lama. Ayahnya tidak pernah mengirim ucapan ketika ia diterima beasiswa atau lulus. Entah dari siapa lelaki itu mendapat kabar.
Jarinya bergerak hendak meneruskan email kepada Mama Hanna, lalu berhenti. Ia tidak ingin ibunya kembali terluka sebelum dirinya memahami apa yang diinginkan.
Altar membuka salah satu kartu Karin: buka ketika masa lalu mengetuk.
Isinya hanya dua kalimat. Kamu tidak wajib membuka pintu. Tapi kalau mau membukanya, pastikan kamu yang menentukan seberapa lebar.
Altar menutup laptop. Ia belum membalas email tersebut. Malam itu ia menuliskan semua pertanyaan yang ingin diajukan jika pertemuan benar-benar terjadi, sama seperti Karin ketika menghadapi Adrian.
Enam jam memisahkannya dari orang-orang yang biasa membantu. Namun untuk pertama kalinya, jarak juga memaksanya mendengar suara sendiri sebelum mencari jawaban dari orang lain.