Kampus Karin jauh lebih ramai daripada sekolah. Tidak ada wali kelas yang mengejar tugas, tidak ada Kevin di gedung sebelah, dan dosen tidak peduli apakah mahasiswa kaya atau terkenal selama pekerjaan selesai. Pada bulan pertama, Karin menikmati kebebasan itu sampai ia terlambat mengumpulkan dua sketsa.
Dosen pembimbing bernama Bu Ratri mengembalikan karyanya tanpa nilai.
'Ide kamu bagus, tetapi tenggat adalah bagian dari desain,' katanya. 'Klien tidak membayar niat.'
Karin ingin menjelaskan masalah keluarga dan hubungan jarak jauh, lalu mengurungkan niat. Semua itu nyata, tetapi bukan alasan untuk tidak mengirim pesan sebelum terlambat. Ia meminta kesempatan remedial dan membuat jadwal kerja.
Dalam tugas poster suara kota, Karin satu kelompok dengan Raka, mahasiswa yang pandai ilustrasi digital, serta Mila yang mengurus riset. Karin menyumbangkan konsep jalur visual untuk orang dengan sensitivitas suara. Mereka merancang peta tempat umum yang menunjukkan area tenang, tingkat kebisingan, dan pintu keluar.
'Idenya kuat,' kata Raka. 'Kita bisa kembangkan buat lomba desain nasional.'
Karin meminta izin Altar sebelum menggunakan beberapa wawasan tentang pengalaman sensorik. Altar menyarankan mereka mewawancarai lebih dari satu orang agar desain tidak menganggap kondisinya mewakili semua orang.
Kelompok itu kemudian menghubungi komunitas disabilitas dan belajar bahwa kebutuhan setiap orang berbeda. Karin menyadari niat baik tidak cukup; desain harus dibuat bersama pengguna, bukan hanya untuk mereka.
Seorang anggota komunitas bernama Tesa mengkritik pilihan warna mereka yang sulit dibedakan pengguna buta warna. Karin sempat ingin membela desain, lalu menutup mulut dan meminta contoh. Tesa juga menunjukkan simbol telinga yang mereka gunakan dapat membuat orang mengira peta hanya ditujukan kepada pengguna alat bantu dengar.
Kelompok itu mengulang hampir separuh rancangan. Raka mengeluh karena waktu mereka sempit, tetapi Karin mengingatkan bahwa poster indah yang tidak dapat dipakai bukan desain berhasil. Mereka menguji versi baru kepada sepuluh orang dengan kebutuhan berbeda dan mencatat kebingungan yang muncul.
Proses tersebut membuat tugas menjadi lebih lambat, namun Karin menyukai cara kritik berubah menjadi perbaikan konkret. Ia tidak lagi mendengar koreksi sebagai bukti bahwa dirinya bodoh.
Seminggu sebelum presentasi, file utama hilang dari penyimpanan bersama. Raka menemukan versi serupa telah diunggah peserta lain ke akun lomba. Nama kelompok Karin tidak dicantumkan.
'Ini desain kita,' kata Mila panik. 'Bahkan warna penandanya sama.'
Mahasiswa yang mengunggah bernama Jovan, kakak tingkat yang sempat melihat presentasi awal. Ia mengaku memiliki ide serupa dan menolak tuduhan mencuri.
Karin ingin langsung membuat unggahan publik. Jarinya sudah mengetik kalimat marah ketika teringat nasihat Ratna tentang bukti dan perang media sosial.
'Kita kumpulkan riwayat file dulu,' katanya.
Raka memiliki sketsa bertanggal, Mila menyimpan rekaman wawancara, dan Karin memiliki percakapan dengan Altar sejak konsep pertama dibuat. Mereka membawa semuanya kepada Bu Ratri dan panitia lomba.
Jovan mengirim pesan pribadi menawarkan uang agar mereka diam. Karin mengambil tangkapan layar tanpa membalas. Bukti tersebut justru menguatkan laporan.
'Kamu tenang banget,' kata Raka.
'Enggak. Dalam kepala aku sudah melempar kursi.'
'Untung cuma dalam kepala.'
Bu Ratri meminta panitia menangguhkan karya Jovan. Pemeriksaan metadata menunjukkan file miliknya dibuat setelah kelompok Karin mempresentasikan rancangan. Jovan akhirnya mengaku mengambil tangkapan layar dan menggambar ulang.
Panitia mendiskualifikasinya. Kampus memberikan sanksi akademik, tetapi Karin menolak mengunggah identitas Jovan ke media sosial.
'Kenapa gak dibikin viral? Biar kapok,' tanya Hany ketika mendengar cerita.
'Karena tujuannya melindungi karya, bukan menghancurkan hidup orang.'
Dion mengangguk kagum. 'Siapa kamu dan kamu apakan Karin yang dulu?'
Karin tetap memukul lengannya.
Kelompok mereka memperbaiki poster dan mengikuti lomba dengan nama sendiri. Presentasi dilakukan di depan juri dan perwakilan komunitas. Karin mendapat bagian menjelaskan alasan visual, tetapi ia tidak menyebut Altar sebagai pacar yang sakit. Ia mengatakan konsep berawal dari pengalaman belajar bahwa ruang publik sering dibuat seolah semua orang menerima suara dengan cara sama.
Mereka meraih juara dua. Hadiahnya tidak sebesar uang jajan bulanan Karin dahulu, tetapi sertifikat itu membuatnya jauh lebih bangga. Ia memotret bersama Raka dan Mila lalu mengirimkannya kepada Altar.
Altar membalas beberapa jam kemudian.
'Selamat. Aku bangga kamu melindungi karya tanpa menjadikan masalah tontonan.'
Karin melakukan panggilan video malam itu. Altar tampak gelisah dan beberapa kali kehilangan fokus.
'Ada apa?' tanya Karin.
Altar menunjukkan email ayahnya. Ia mengaku sudah menyimpannya hampir seminggu.
'Kenapa baru bilang?'
'Aku takut kamu menyuruhku bertemu atau melarang.'
'Aku gak punya hak menentukan.'
'Aku tahu. Ketakutanku bukan selalu masuk akal.'
Karin membaca pesan Étienne. 'Kamu ingin balas?'
'Sebagian diriku ingin tahu kenapa dia pergi. Sebagian lain ingin menghukumnya dengan diam.'
'Kalau tujuanmu menghukum, kamu masih membiarkan dia mengatur pilihanmu.'
Altar terdiam. Karin melanjutkan dengan hati-hati. 'Kamu boleh gak bertemu karena ingin menjaga diri. Tapi jangan memilih cuma untuk membuat dia merasakan sakit.'
Altar mengangguk. Ia memutuskan membalas bahwa pertemuan dapat dilakukan sekali di tempat umum, dengan durasi satu jam. Ia juga menyatakan tidak ingin ayahnya datang ke kampus atau asrama tanpa izin.
Karin menunggu sampai email terkirim. 'Kabari Mama Hanna juga.'
'Aku takut Mama sedih.'
'Dia mungkin sedih. Tapi menyembunyikan pertemuan akan mengulang pola yang sama.'
Altar menelepon ibunya setelah panggilan dengan Karin. Mama Hanna memang terdiam lama, namun tidak melarang. Ia hanya meminta Altar membawa kontak darurat dan meninggalkan tempat jika merasa tidak aman.
Pada hari yang sama di Indonesia, Ratna memberi kabar sidang pertama Adrian dijadwalkan bulan berikutnya. Karin akan dipanggil sebagai saksi. Ia menatap sertifikat lomba di meja dan surat panggilan di sebelahnya.
Ratna menawarkan sesi persiapan agar Karin memahami tata ruang sidang dan jenis pertanyaan yang mungkin muncul. Ia menegaskan persiapan bukan latihan menghafal jawaban; Karin harus mengatakan apa yang benar-benar diketahui dan berani menjawab tidak tahu.
Karin meminta Kevin ikut sesi pertama. Mereka menyusun dokumen berdasarkan tanggal, memisahkan hal yang Karin alami sendiri dari cerita orang lain. Kebiasaan membedakan fakta dan dugaan yang dipelajarinya saat desain dicuri kini membantunya menghadapi perkara keluarga.
Hidup tidak menunggu satu masalah selesai sebelum memberikan yang lain. Namun Karin yang sekarang tidak lagi menutup laptop dan bersembunyi dalam drama. Ia membuka kalender, mencatat tanggal sidang, lalu menyelesaikan tugas berikutnya sebelum tenggat.