Hari Karin bersaksi tiba bersamaan dengan tenggat proyek besar kampus. Ia meminta kelompok menyelesaikan bagiannya dua hari lebih awal dan memberi tahu dosen tentang panggilan pengadilan. Bu Ratri mengizinkan absen setelah memeriksa surat resmi.
Ratna menemani Karin masuk melalui pintu samping agar tidak berhadapan dengan wartawan. Perkara perusahaan Adrian menarik perhatian karena nilai asetnya besar. Karin diminta tidak membaca komentar media sosial sebelum sidang.
'Jawab yang kamu tahu,' pesan Ratna. 'Kalau tidak ingat, bilang tidak ingat. Jangan mencoba membantu jaksa dengan menebak.'
Karin mengangguk. Kevin telah bersaksi sehari sebelumnya. Sandra menunggu di luar ruang sidang, sedangkan Altar mengikuti kabar dari Prancis melalui pesan.
Di kursi saksi, Karin mengucapkan sumpah dengan suara bergetar. Jaksa menunjukkan surat kuasa dan bertanya apakah tanda tangan itu miliknya. Karin menjelaskan ia tidak pernah melihat dokumen tersebut sebelum Ratna menemukannya. Ia juga menceritakan pertemuan ketika Adrian meminta tanda tangan atas dokumen lain tanpa menjelaskan risiko utang.
Pengacara Adrian mencoba menggambarkan Karin sebagai anak ceroboh yang sering menandatangani barang tanpa membaca.
'Saudari mengaku nilai sekolah dulu buruk dan sering melupakan tugas, benar?'
'Benar.'
'Jadi mungkin saja Saudari lupa pernah menandatangani surat kuasa?'
Karin menarik napas. 'Mungkin saya lupa banyak hal. Tapi ahli sudah memeriksa tanda tangan itu bukan dibuat langsung di dokumen. Saya juga tidak pernah diberi penjelasan soal kewenangan saham.'
Hakim meminta Karin hanya menjawab sesuai pertanyaan. Ia mengangguk dan tidak terpancing lagi.
Pengacara kemudian menyinggung uang jajan serta perjalanan ke Korea yang dibiayai Adrian, seolah bantuan finansial membuktikan tidak ada niat merugikan.
'Papa memberi saya banyak uang,' jawab Karin. 'Tapi hadiah bukan izin memakai nama saya tanpa persetujuan.'
Adrian menunduk di kursi terdakwa. Karin melihatnya hanya sekali. Ia tidak merasa menang. Ia hanya menyampaikan fakta yang selama ini disembunyikan.
Kesaksian berlangsung dua jam. Setelah keluar, kakinya lemas. Sandra memeluk setelah meminta izin. Karin menyalakan ponsel dan menemukan pesan suara Altar yang dikirim sebelum tidur.
Ratna membawa Karin ke ruang tunggu tertutup dan memberinya air. Ia menjelaskan pertanyaan tentang nilai sekolah memang bertujuan menggoyahkan keyakinan saksi, bukan membuktikan Karin pantas kehilangan hak.
'Aku hampir marah dan ngomel panjang,' kata Karin.
'Tapi kamu kembali ke fakta. Itu yang penting.'
Kevin datang setelah sidang kuliahnya selesai. Ia tidak bertanya apakah Karin menang, karena kesaksian bukan perlombaan. Mereka makan di warung sederhana dekat pengadilan sambil menunggu kerumunan wartawan bubar.
Sandra meminta maaf lagi karena kebohongan keluarga membuat Karin harus duduk sendirian di kursi saksi. Karin menjawab ia belum selesai memproses semuanya, tetapi menghargai ibunya yang hadir tanpa mencoba mengatur jawaban.
Malam itu Karin mengalami mimpi buruk tentang tanda tangan yang terus muncul di kertas kosong. Ia bangun, menyalakan lampu, dan menggunakan latihan pernapasan dari konselor yang direkomendasikan Ratna. Alih-alih langsung menelepon Altar yang sedang kuliah, ia mengirim pesan bahwa dirinya sedang cemas tetapi aman.
'Aku mungkin sedang kuliah saat kamu selesai. Apa pun yang ditanyakan mereka, nilai sekolahmu tidak menentukan apakah hakmu layak dihormati.'
Karin menangis mendengarnya. Ia membalas bahwa kesaksian selesai dan dirinya aman.
Masalah muncul malam itu. Raka mengantar Karin pulang karena hujan dan sulit mendapatkan kendaraan. Pak Yadi sedang membawa Sandra ke kantor Ratna. Karin mengirim foto singkat dari mobil Raka ke grup teman, tetapi lupa memberi tahu Altar secara pribadi.
Ketika Altar bangun, ia melihat unggahan Hany yang bercanda menyebut Raka sebagai sopir siaga Karin. Rasa cemburu muncul bersamaan dengan kelelahan setelah kelas. Ia menelepon, tetapi Karin sedang mandi. Dua panggilan tidak terjawab membuat pikirannya berkembang ke arah buruk.
'Kamu dekat sekali sama Raka sekarang,' tulis Altar.
Karin membaca pesan itu setelah keluar kamar mandi. 'Dia teman kelompok dan tadi mengantar karena hujan.'
'Kamu gak pernah cerita dia sering mengantar.'
'Karena baru sekali.'
'Hany menulis sopir siaga.'
'Itu bercanda.'
Percakapan teks menjadi semakin tajam. Karin menyebut Elise yang sering belajar bersama Altar. Altar membalas bahwa Karin pernah setuju mereka boleh punya teman lawan jenis. Karin berkata aturan itu seharusnya berlaku dua arah.
Mereka berhenti setelah menyadari tidak lagi membahas fakta, melainkan saling mencari alasan menang. Karin mengirim pesan terakhir: kita bicara lewat video besok, bukan lanjut berantem lewat teks.
Keesokan hari, keduanya duduk di depan layar dengan wajah lelah.
'Aku cemburu dan langsung membuat dugaan,' kata Altar. 'Itu salah.'
'Aku balas menyerang soal Elise meski gak ada hubungannya. Itu juga salah.'
Karin menjelaskan Raka hanya teman dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan romantis. Altar mengaku masalah sebenarnya bukan Raka, melainkan takut kehilangan tempat dalam hidup Karin ketika dirinya jauh.
'Aku juga takut,' kata Karin. 'Tapi kita gak bisa mengurangi teman masing-masing supaya merasa aman.'
Mereka sepakat tidak wajib melaporkan setiap perjalanan, tetapi tidak menjadikan unggahan orang lain sebagai sumber utama tentang hidup pasangan. Jika cemburu muncul, mereka harus bertanya sebelum menuduh.
'Apa kamu percaya aku?' tanya Karin.
'Aku memilih percaya. Perasaanku mungkin masih takut, tapi aku gak akan menjadikan takut sebagai bukti.'
Karin mengangguk. Ia tidak meminta kata sandi ponsel atau bukti percakapan dengan Elise. Altar juga tidak meminta riwayat pesan Raka.
Sidang dan pertengkaran membuat Karin kelelahan. Ia tidur lebih awal, sementara Altar mengikuti praktikum. Keesokan paginya mereka bertukar pesan biasa tentang sarapan.
Konflik pertama hubungan jarak jauh tidak berakhir dengan janji tidak akan cemburu lagi. Mereka tahu perasaan itu mungkin kembali. Yang berubah adalah cara menghadapinya: bukan dengan larangan, tes kesetiaan, atau diam berkepanjangan, melainkan percakapan yang tidak selalu nyaman.
Karin juga berbicara kepada Hany tentang unggahan yang memicu salah paham. Hany meminta maaf karena menjadikan perjalanan bersama Raka bahan candaan publik. Mereka sepakat foto teman tidak diberi keterangan romantis tanpa izin.
Raka mengetahui masalah itu dari Karin, bukan gosip. Ia menegaskan tidak memiliki niat mendekati Karin sebagai pasangan dan bersedia menjaga batas. Percakapan tersebut canggung, tetapi membuat kerja kelompok mereka kembali jelas.