Persidangan Adrian berlangsung hampir empat bulan. Staf perusahaan, ahli dokumen, Ratna, Maya, Kevin, dan Karin memberikan kesaksian. Audit menemukan upaya pengalihan aset belum sempat selesai, tetapi surat kuasa palsu telah digunakan dalam pembicaraan dengan bank.
Pada hari putusan, Karin memilih hadir. Ia duduk bersama Kevin dan Sandra, sementara Maya berada di sisi lain bersama Nadine yang menunggu di ruang khusus anak. Adrian berdiri mendengarkan hakim menyatakan dirinya bersalah melakukan pemalsuan dan percobaan penyalahgunaan kewenangan.
Hukuman yang dijatuhkan berupa dua tahun penjara, denda, dan kewajiban memulihkan biaya audit. Karena Adrian kooperatif, mengakui perbuatan, dan kerugian berhasil dicegah, sebagian hukuman dapat ditinjau melalui mekanisme hukum setelah masa tertentu. Ratna menjelaskan detailnya nanti; bagi Karin, kalimat paling penting adalah pengadilan mengakui tanda tangannya digunakan tanpa izin.
Adrian meminta waktu berbicara sebelum dibawa pergi. Pertemuan berlangsung di ruang kecil dengan pengawasan petugas.
'Papa menerima putusannya,' katanya. 'Papa gak akan minta kalian mengubah keterangan.'
Kevin tetap berdiri dekat pintu. Karin duduk di seberang.
'Bagaimana Nadine?' tanya Adrian.
'Dia bersama Maya. Kami akan tetap menemuinya,' jawab Karin.
'Terima kasih.'
'Aku melakukan itu karena dia adikku, bukan sebagai imbalan buat Papa.'
Adrian mengangguk. Ia meminta maaf tanpa menambahkan alasan bisnis atau kehormatan keluarga. Karin mendengarkan, tetapi tidak menjanjikan pengampunan.
'Kalau Papa ingin hubungan kita berubah, gunakan waktu ini untuk jujur kepada diri sendiri. Jangan kirim hadiah atau minta orang membujuk kami.'
'Bolehkah Papa menulis surat?'
'Boleh satu bulan sekali. Aku berhak memilih kapan membalas.'
Batas itu mirip dengan yang dibuat Altar kepada Étienne. Karin baru menyadari betapa banyak kehidupan mereka berjalan paralel di tempat berbeda.
Setelah putusan, media menunggu di luar. Ratna membacakan pernyataan singkat bahwa keluarga menghormati proses hukum dan meminta privasi anak-anak. Karin menolak wawancara. Ia tidak ingin rasa sakitnya berubah menjadi hiburan.
Tantangan terberat adalah menjelaskan putusan kepada Nadine. Maya meminta bantuan psikolog anak agar kalimat mereka sesuai usia. Mereka tidak mengatakan Adrian pergi bekerja, juga tidak menjelaskan detail pemalsuan.
'Papa melakukan sesuatu yang melanggar aturan dan sekarang harus menjalani akibatnya,' kata Maya.
Nadine bertanya apakah ayahnya jahat. Karin duduk di sampingnya. 'Orang yang kita sayang bisa melakukan hal buruk. Kita boleh tetap sayang dan tetap bilang perbuatannya salah.'
'Papa pulang kapan?'
'Kami belum tahu pasti. Tapi Nadine boleh menulis dan bertemu sesuai aturan tempatnya.'
Nadine menangis lalu marah karena orang dewasa selalu memberi jawaban rumit. Karin membiarkannya merobek satu lembar kertas, kemudian mengajak menggambar perasaan. Ia tidak menjanjikan semuanya akan cepat baik.
Pada kunjungan pertama, Karin menemani Nadine sampai ruang tunggu tetapi tidak masuk. Pertemuan dengan Adrian adalah milik anak itu dan Maya. Sesudahnya, Nadine memeluk Karin sambil mengatakan papanya memakai baju yang tidak disukai. Mereka membeli es krim dan membicarakan hal lain.
Di kampus, beberapa mahasiswa mengenal nama keluarganya dari berita. Ada yang bersikap terlalu ramah, ada pula yang berbisik. Karin tidak menjelaskan kepada semua orang. Ia memberi tahu dosen dan kelompok dekat secukupnya, lalu kembali mengerjakan proyek.
Raka menawarkan mengambil sebagian tugas. Karin menerima bantuan untuk presentasi, tetapi tetap menyelesaikan desain utama.
'Kamu gak harus membuktikan kuat dengan kerja sendirian,' kata Raka.
'Altar juga sering bilang begitu.'
'Pacarmu terdengar masuk akal.'
Karin tertawa. Kali ini ia menceritakan percakapan tersebut kepada Altar tanpa takut memicu kecemburuan. Altar bahkan berterima kasih kepada Raka lewat pesan karena membantu.
Hubungan mereka membaik, tetapi tantangan baru muncul. Jadwal praktikum Altar semakin padat. Ia sering bekerja bersama Elise di laboratorium sampai malam. Karin juga terlibat proyek komunitas dan kadang hanya sempat mengirim emoji.
Mereka melewatkan hari jadi tiga bulan tanpa sadar. Karin baru mengingat dua hari kemudian setelah melihat catatan kalender.
'Kita pasangan buruk,' katanya melalui video.
'Atau kita sedang punya kehidupan.'
'Tapi orang pacaran biasanya merayakan tanggal.'
'Kita bisa merayakan terlambat kalau tanggalnya penting buatmu.'
Mereka makan malam melalui layar pada akhir pekan. Altar membeli roti Prancis, Karin memesan mi goreng. Tidak ada hadiah. Mereka hanya menceritakan satu hal baik dan satu hal sulit dari bulan tersebut.
Altar mengaku Étienne mematuhi batas komunikasi. Email keduanya berisi permintaan bertemu bersama Jules, bukan datang tiba-tiba. Altar belum menjawab karena jadwal ujian.
'Kamu ingin mengenal Jules?' tanya Karin.
'Iya. Tapi aku takut ayah memakai dia supaya aku cepat memaafkan.'
'Kamu bisa bertemu Jules di tempat umum dan tetap menjaga batas dengan ayahmu.'
Altar mempertimbangkan saran itu.
Karin sendiri bercerita tentang surat pertama Adrian dari penjara. Isinya tidak meminta pengampunan, hanya menjelaskan rutinitas dan mengatakan sedang mengikuti konseling. Karin belum membalas.
'Aku senang dia berhenti membela diri,' katanya. 'Tapi aku masih marah.'
'Marah gak membatalkan kemungkinan hubungan berubah nanti.'
'Dan hubungan berubah gak menghapus apa yang dia lakukan.'
Mereka saling mengangguk melalui layar.
Setelah panggilan, Karin membuka surat Adrian sekali lagi. Ia akhirnya menulis balasan tiga paragraf: kuliahnya berjalan baik, Nadine sehat, dan dirinya belum siap membicarakan masa lalu lebih jauh. Tidak ada kata rindu atau maaf.
Di Prancis, Altar membalas Étienne bahwa ia bersedia bertemu Jules selama satu jam di taman, tanpa pembicaraan tentang pengampunan.
Dua keputusan kecil dikirim pada malam yang sama. Baik Karin maupun Altar tidak sedang membuka pintu selebar-lebarnya. Mereka hanya memilih agar masa lalu tidak memegang kunci sendirian.
Karin memasukkan salinan putusan ke lemari bersama dokumen kepemilikan yang sudah dipulihkan. Ia tidak memajangnya sebagai piala. Pengakuan hukum penting, tetapi hidupnya tidak boleh selamanya berpusat pada kesalahan Adrian.
Di meja lain, poster pemenang lomba menunggu revisi untuk diuji di halte sungguhan. Karin membuka berkas itu dan mulai bekerja. Masa depan terasa lebih menarik ketika dibangun melalui pilihan kecil yang dapat disentuh.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.