Adrian memperoleh pembebasan bersyarat setelah menjalani sebagian hukuman, membayar denda, dan mengikuti program pembinaan. Kabar itu datang ketika Karin baru dua bulan berada di Belanda. Ratna menjelaskan ada aturan ketat dan Adrian belum boleh kembali mengelola perusahaan.
Kevin menghadiri pertemuan keluarga di Indonesia. Karin mengikuti melalui video. Adrian duduk di kantor Ratna, bukan di rumah siapa pun. Rambutnya lebih pendek dan tubuhnya tampak kurus.
'Papa tidak meminta kembali tinggal bersama keluarga,' katanya. 'Papa menyewa apartemen dan akan bekerja sebagai konsultan setelah mendapat izin.'
Karin memperhatikan apakah kalimat berikutnya akan berisi permintaan maaf besar. Adrian hanya menjelaskan jadwal wajib lapor dan konseling.
'Bagaimana hubungan Papa dengan Nadine?' tanya Karin.
'Maya mengizinkan pertemuan bertahap dengan pendamping. Papa akan mengikuti aturan yang dia tetapkan.'
Maya mengangguk dari kursi lain. Ia dan Adrian sedang menjalani proses perceraian. Keputusan itu bukan akibat satu persidangan saja; Maya mengatakan kepercayaan mereka tidak dapat dibangun kembali sebagai pasangan.
Adrian tidak menyalahkannya. 'Papa akan tetap bertanggung jawab sebagai orang tua tanpa memaksa Maya mempertahankan pernikahan.'
Mencari pekerjaan ternyata lebih sulit daripada yang Adrian akui. Beberapa perusahaan menolak karena putusan pidananya, sedangkan pekerjaan yang bersedia menerima menawarkan jabatan jauh di bawah posisinya dahulu. Adrian sempat meminta mantan rekan menggunakan hubungan pribadi, lalu membatalkan permintaan setelah sesi konseling.
Ia akhirnya bekerja di lembaga pelatihan usaha kecil sebagai staf administrasi kontrak. Gajinya tidak besar dan pekerjaannya harus diperiksa atasan. Untuk pertama kali, Adrian tidak memiliki ruang kantor pribadi atau orang yang menyiapkan minuman.
Dalam surat kepada Karin, ia menulis tentang rasa malu tersebut. Karin membalas bahwa kehilangan status bukan ketidakadilan; itu bagian dari membangun kepercayaan profesional kembali. Ia tetap berharap lingkungan kerja tidak memperlakukannya tanpa martabat.
Adrian mengucapkan terima kasih tanpa meminta Karin mencarikan jabatan melalui koneksi keluarga.
Kevin bertanya tentang aset. Audit telah selesai dan kepemilikan Karin serta Kevin dipisahkan dari perusahaan Adrian. Pengelola profesional mengurus bagian yang masih produktif. Adrian tidak memiliki akses tunggal.
'Aku belum siap bertemu langsung ketika pulang nanti,' kata Karin.
'Papa mengerti.'
'Aku mungkin berubah pikiran.'
'Kamu yang menentukan waktunya.'
Percakapan berakhir tanpa pelukan virtual. Karin merasa lega, curiga, dan sedih bersamaan. Ia menelepon Altar setelah kelas.
'Papa terdengar berbeda,' katanya.
'Kamu percaya?'
'Aku percaya dia mengatakan kalimat yang benar hari ini. Aku belum tahu apakah tindakannya akan sama besok.'
'Itu cukup.'
Di Indonesia, hari pertama Adrian di luar gerbang bukan kepulangan megah. Tidak ada sopir atau rumah besar. Ia naik kendaraan bersama petugas pembimbing menuju apartemen kecil. Kevin menolak menjemput, tetapi memberikan nomor layanan yang dapat dihubungi jika terjadi keadaan darurat.
Nadine bertemu ayahnya seminggu kemudian di pusat keluarga. Maya dan psikolog anak mendampingi. Adrian membawa satu buku cerita, bukan tumpukan hadiah. Ia membaca dengan suara gemetar dan menerima ketika Nadine hanya mau duduk berjarak.
Pada pertemuan kedua, Nadine marah dan menolak masuk. Adrian menunggu selama waktu kunjungan tanpa memaksa petugas membawanya. Ia menulis pesan bahwa papanya akan datang lagi sesuai jadwal jika Nadine bersedia.
Maya memperingatkan satu kesabaran tidak langsung membuktikan perubahan. Adrian mengangguk. Ia mulai membayar kebutuhan Nadine melalui rekening resmi dan tidak menggunakan uang untuk meminta waktu tambahan.
Kevin mengawasi laporan aset bersama Ratna, tetapi berhenti memeriksa kehidupan pribadi ayahnya. Pengawasan hukum tetap diperlukan; pengawasan tanpa batas hanya akan membuat Kevin terikat pada kesalahan Adrian setiap hari.
Karin mendapat cerita itu dari Maya, bukan Adrian. Ia mengirim pesan singkat kepada ayahnya: terima kasih sudah gak memaksa Nadine memeluk.
Adrian membalas: Papa belajar kehadiran tidak boleh ditagih sebagai hadiah.
Di Belanda, Karin mulai proyek pemetaan akses stasiun bersama kelompok internasional. Seorang anggota bernama Tomas sering terlambat dan tidak menyelesaikan bagian. Karin yang menjadi koordinator harus menegur tanpa mengulang gaya memerintah masa remajanya.
'Kamu kesulitan apa?' tanyanya dalam rapat.
Tomas menjelaskan harus bekerja malam untuk membiayai tempat tinggal. Kelompok tidak menghapus tanggung jawabnya, tetapi memindahkan tugas ke waktu yang lebih fleksibel. Tomas setuju memberi kabar sebelum tenggat jika ada masalah.
Karin melihat persamaan antara kepemimpinan dan keluarga: memahami alasan tidak berarti menghilangkan akibat, sedangkan batas tidak harus diberikan dengan penghinaan.
Pada kunjungan pertama Altar ke Belanda, mereka tidak menginap bersama. Altar memilih hostel dekat asrama agar masing-masing memiliki ruang istirahat. Mereka mengunjungi stasiun proyek Karin dan menguji petunjuk visual.
Altar menunjukkan beberapa informasi suara yang tidak memiliki padanan teks. Karin mencatat, tetapi tidak langsung mengubah desain hanya berdasarkan satu pengalaman. Mereka membawa temuan kepada kelompok pengguna pada sesi berikutnya.
Malam hari, keduanya duduk di tepi kanal. Altar menggunakan alat bantu, tetapi beralih ke bahasa isyarat ketika suara wisatawan terlalu ramai. Karin mengikuti dengan gerakan lebih lancar daripada setahun lalu.
'Aku suka bisa bicara begini,' isyarat Karin.
'Dulu kamu takut diam,' balas Altar.
'Sekarang diam gak selalu kosong.'
Karin menceritakan kekhawatirannya tentang Adrian. Ia takut memberi kesempatan akan membuat semua orang mengira perkara selesai. Ia juga takut tidak memberi kesempatan berarti dirinya kejam.
'Hubungan bukan hadiah atas kelakuan baik,' kata Altar. 'Kamu boleh melihat perubahan dan tetap memilih jarak.'
'Kamu sendiri bagaimana dengan Étienne?'
'Kami bertemu sebulan sekali bersama Jules. Aku belum memanggilnya Papa.'
'Dia protes?'
'Tidak. Kalau dia protes, pertemuan berhenti.'
Karin mengangguk. Mereka tidak perlu memilih antara pengampunan total dan kebencian abadi. Ada banyak jarak di antaranya.
Sebelum kembali ke Prancis, Altar memberikan satu kartu baru untuk koleksi Karin. Tulisannya: buka ketika kamu merasa kemajuan orang lain menjadi kewajibanmu untuk memaafkan.
Karin membukanya setelah Altar pergi. Isinya: perubahan mereka milik mereka; keputusanmu tetap milikmu.
Ia menyimpan kartu di dompet. Adrian telah keluar dari gerbang penjara, tetapi perjalanan kembali ke kehidupan bukan jalan lurus menuju keluarga lama. Ia harus membangun sesuatu yang baru, dan tidak seorang pun berhak menuntut Karin menjadi tujuan akhirnya.