Selama program pertukaran, Karin dan Altar bergantian mengunjungi kota masing-masing sebulan sekali. Pertemuan tidak selalu romantis. Kadang salah satu harus mengerjakan tugas, kadang kereta terlambat, dan pernah satu akhir pekan habis karena Karin demam.
Mereka belajar bahwa jarak empat jam tetap jarak. Tiket harus dibeli, jadwal dicocokkan, dan tubuh membutuhkan istirahat. Namun melihat wajah tanpa layar beberapa kali dalam satu semester membuat keduanya dapat mengenal perubahan yang sebelumnya hanya diceritakan.
Pada kunjungan pertama, Karin berharap mereka menghabiskan seluruh akhir pekan bersama. Altar justru membutuhkan dua jam sendirian setelah perjalanan karena kereta ramai. Karin sempat menganggapnya penolakan, lalu mengingat kebutuhan istirahat sensorik tidak hilang hanya karena mereka saling rindu.
Ia menggunakan waktu itu menyelesaikan sketsa. Setelah Altar pulih, mereka memasak dan membicarakan ekspektasi kunjungan berikutnya. Setiap orang boleh meminta waktu sendiri tanpa membuat pihak lain merasa perjalanan sia-sia.
Karin juga memperkenalkan Altar kepada teman-teman pertukarannya. Percakapan berlangsung dalam beberapa bahasa dan transkripsi sering keliru. Kelompok sepakat menuliskan nama serta istilah penting di papan kecil. Altar tidak menjadi pusat perhatian; ia ikut berdebat tentang transportasi seperti peserta lain.
Malam terakhir, Karin dan Altar tidur di kamar terpisah sesuai aturan asrama. Mereka membicarakan kedekatan fisik dan sepakat tidak menggunakan singkatnya waktu sebagai alasan mempercepat sesuatu. Cinta jarak jauh sering membuat setiap pertemuan terasa harus sempurna, padahal keduanya berhak lelah, menolak, atau sekadar tidur.
Pada kunjungan kedua Karin ke Prancis, Altar mengajaknya menguji prototipe ruang adaptif di sekolah dasar. Ruangan memiliki panel, layar transkripsi, lampu peringatan, dan sudut tenang. Guru dapat memilih tingkat gema sesuai kegiatan.
Karin bertugas mengamati informasi visual. Ia menemukan tombol kontrol terlalu tinggi bagi anak kecil dan simbolnya sulit dipahami. Altar tidak membela desain; kelompok mencatat dan memperbaikinya.
'Dulu kamu pasti kesal kalau aku kritik,' kata Karin.
'Dulu kamu mengkritik dengan bilang jelek tanpa alasan.'
'Sekarang aku bilang jelek dengan diagram.'
Mereka tertawa. Seorang murid Tuli mencoba layar transkripsi dan mengatakan teks muncul terlalu lambat. Murid lain yang mudah kewalahan suara menyukai panel, tetapi meminta lampu tidak berkedip terlalu terang. Tidak ada satu fitur yang cocok untuk semua.
Seusai pengujian, sebuah perusahaan teknologi bernama Sonance menawarkan mendanai proyek sampai tahap produksi. Nilainya jauh lebih besar daripada dana universitas. Kelompok Altar diundang ke kantor mereka.
Perwakilan Sonance memuji kisah Altar sebagai nilai pemasaran. Mereka ingin menampilkan wajahnya dalam kampanye dan mendaftarkan paten eksklusif atas sistem gabungan. Sekolah yang ingin memakai kelak harus membeli lisensi tahunan.
'Proyek ini dibuat agar ruang aksesibel lebih terjangkau,' kata Altar melalui penerjemah.
'Produksi tetap membutuhkan keuntungan,' jawab direktur. 'Tanpa modal, alat kalian hanya menjadi tugas kampus.'
Argumen itu benar sebagian. Elise tergoda oleh fasilitas penelitian, sedangkan Farid khawatir perangkat lunak mereka ditutup dari komunitas. Kelompok meminta waktu.
Karin tidak ikut mengambil keputusan, tetapi membantu membaca bahan presentasi perusahaan. Ia menemukan Sonance pernah membeli proyek mahasiswa lain lalu menghentikan versi murah agar tidak bersaing dengan produk premium.
'Ini informasi publik,' katanya. 'Kalian tetap harus memeriksa sendiri.'
Altar dan kelompok berkonsultasi dengan kantor hukum universitas. Mereka mengusulkan lisensi berjenjang: sekolah umum berpenghasilan rendah dapat memakai sistem dengan biaya minimal, sementara klien komersial membayar penuh. Sonance menolak paten terbuka, tetapi bersedia bernegosiasi setelah universitas menunjukkan ada calon pendana lain.
Perdebatan berlangsung berminggu-minggu. Altar belajar aksesibilitas dapat dijadikan slogan sekaligus barang mahal. Ia tidak menolak keuntungan, tetapi ingin pengguna yang membantu menguji mendapat suara dan kompensasi.
Di Belanda, proyek Karin juga berkembang. Peta akses stasiun dipilih kota untuk uji coba. Kelompoknya diminta menandatangani kontrak yang memberi pemerintah hak menggunakan desain, tetapi tetap mencantumkan pencipta dan menyediakan data hasil pengujian kepada publik.
Karin membaca kontrak bersama dosen. Ia mengusulkan tambahan bahwa perubahan besar harus diuji kembali kepada komunitas. Pemerintah menyetujui sebagian dan menjelaskan batas anggaran.
'Dunia nyata banyak kompromi,' kata Karin kepada Altar.
'Pertanyaannya kompromi mana yang mengubah cara, dan mana yang mengkhianati tujuan.'
Mereka membicarakannya sambil berjalan di sebuah kota yang berada di antara tempat tinggal mereka. Keduanya memilih bertemu di sana agar waktu perjalanan seimbang. Tidak ada yang menjadi tuan rumah.
Di kafe, Karin mengungkap ia mendapat tawaran magang enam bulan dari studio desain sosial setelah program pertukaran selesai. Magang itu dibayar dan dapat menjadi jalan bekerja di Eropa.
'Kamu mau ambil?' tanya Altar.
'Aku tertarik. Tapi berarti gak langsung pulang.'
'Ini baik buat bidangmu.'
'Jangan jawab seperti dosen. Sebagai pacar kamu merasa apa?'
Altar berpikir. 'Senang kamu mendapat kesempatan. Takut kita terus tinggal sementara di tempat berbeda. Sedikit lega karena kamu masih dekat.'
'Aku juga begitu.'
Karin belum memberi jawaban kepada studio. Ia ingin membandingkan tawaran dengan tanggung jawab di Indonesia dan biaya tinggal. Altar tidak menyuruh menerima atau menolak.
Ia meminta studio memberikan deskripsi tugas, jam kerja, pendamping, dan hak atas portofolio. Tawaran awal menyatakan seluruh desain selama magang menjadi milik perusahaan, termasuk proyek pribadi. Karin meminta pasal itu dibatasi hanya pada pekerjaan yang dibuat menggunakan waktu dan sumber daya studio.
Manajer terkejut seorang mahasiswa magang menegosiasikan kontrak, tetapi menyetujui perubahan setelah diskusi. Karin tidak mendapatkan semua keinginannya; ada larangan bekerja untuk pesaing selama masa magang. Ia meminta daftar kategori yang dianggap pesaing agar aturan tidak dipakai terlalu luas.
Bu Ratri membaca versi akhir dan mengatakan kontrak tersebut wajar. Karin menandatanganinya sendiri. Pengalaman dengan Adrian tidak membuatnya takut terhadap semua dokumen. Justru kini ia melihat kontrak sebagai percakapan yang dapat ditanyakan sebelum menjadi ikatan.
Hari itu mereka berjalan menyusuri sungai sampai sore. Kota asing di antara mereka menjadi lambang hubungan yang sedang dibangun: belum menjadi rumah siapa pun, tetapi menyediakan ruang bertemu tanpa menuntut salah satu menyerahkan seluruh perjalanan.