Surat dari Jules datang dalam bentuk pesan video berbahasa isyarat Prancis. Étienne telah meninggal setelah serangan jantung singkat. Ia berada di rumah, dan bantuan medis datang sesuai petunjuk yang telah disiapkan. Jules tidak meminta Altar terbang segera.
Altar menonton video dua kali. Hubungannya dengan Étienne tidak pernah menjadi hubungan ayah dan anak yang utuh. Mereka bertemu terlambat, belajar berbicara melalui bahasa yang berbeda, dan hanya sempat membangun sejumlah kebiasaan kecil.
Ia memberi tahu Karin, lalu duduk di tepi tempat tidur. Kesedihan datang sebagai tekanan tanpa suara di dada.
'Kamu mau ke Prancis?' tanya Karin dengan isyarat.
'Aku tidak tahu.'
'Kita gak harus putuskan malam ini.'
Jules mengadakan pemakaman kecil. Altar menghadirinya melalui sambungan video karena dokter menyarankan tidak terbang saat infeksi pernapasannya belum pulih. Ketiadaan fisiknya tidak dianggap kegagalan terakhir. Ia mengirim rekaman tentang pertemuan pertama mereka dan satu foto tangan Étienne yang sedang memperbaiki radio.
Beberapa bulan kemudian, ketika kesehatannya stabil, Altar dan Karin pergi ke kota tempat ia pernah belajar. Perjalanan itu bukan ziarah tergesa. Mereka tinggal dua minggu, menyewa apartemen aksesibel, dan memasukkan hari istirahat di antara kunjungan.
Jules menjemput mereka di stasiun. Rambutnya lebih panjang, tangannya bergerak lebih lancar dalam bahasa isyarat internasional, dan pelukannya tidak ragu. Ia membawa mereka ke rumah Étienne yang belum sepenuhnya dikosongkan.
Di ruang kerja terdapat radio, alat pertukangan, dan kotak surat. Étienne meninggalkan instruksi agar Jules serta Altar memilih benda tanpa membagi berdasarkan nilai uang. Rumah akan dijual, hasilnya mengikuti wasiat Prancis yang sudah diperiksa notaris.
Altar memilih obeng kecil dan buku catatan berisi sketsa perbaikan. Jules mengambil radio. Mereka menemukan map berisi salinan artikel tentang karya Altar, sebagian diberi tanggal dan catatan terjemahan.
'Ia mengikuti hidupmu,' isyarat Jules.
Altar membalik halaman. 'Dari jauh.'
'Itu tidak cukup.'
'Tidak.'
Jules tidak membela ayah mereka. Ia juga tidak meminta Altar menolak bukti kasih yang terlambat. Mereka duduk di lantai, memilah kertas sebagai dua anak yang memiliki kehilangan berbeda.
Ada surat yang ditujukan kepada Altar. Berbeda dari Adrian, Étienne menulis singkat. Ia mengakui ketakutan dan rasa malu membuatnya membiarkan tahun-tahun berlalu. Ia berterima kasih karena Altar memberi kesempatan mengenal, tetapi tidak menyebut kesempatan itu pengampunan.
Altar membaca surat bersama Karin. Setelahnya ia menyimpan lembar asli dan memberikan salinan digital kepada Jules. Ia tidak merasa harus memilih antara marah atau tersentuh.
Keesokan hari mereka mengunjungi universitas lama Altar. Gedung akustik telah direnovasi. Pintu berat yang dulu sulit dibuka kini otomatis, tetapi layar informasi baru tidak menyediakan bahasa isyarat. Seorang dosen muda mengenali nama Altar dan mengundang mereka melihat laboratorium.
Altar menerima sebagai pengunjung. Ia bertanya kepada mahasiswa tentang proyek mereka dan menolak memberi kuliah spontan. Ketika dosen memperkenalkannya sebagai ilmuwan yang mengalahkan ketulian, Altar segera mengoreksi melalui penerjemah.
'Saya tidak mengalahkan diri saya sendiri. Saya mengubah pekerjaan agar lebih banyak tubuh dapat ikut.'
Dosen itu meminta maaf dan memperbaiki kalimatnya di depan kelas. Momen tersebut canggung, tetapi tidak dibiarkan menjadi rahasia sopan.
Di luar kampus, Karin menemukan kafe kecil yang pernah dikunjungi Altar saat mereka menjalani hubungan jarak jauh. Meja telah berganti, pemiliknya berbeda, dan menu lama tidak ada. Karin kecewa seolah kota melanggar perjanjian pribadi.
'Aku membayangkan tempatnya tetap seperti fotomu,' katanya.
'Aku juga tidak tetap seperti foto.'
Mereka memesan makanan baru. Karin menunjukkan pesan lama yang masih tersimpan di telepon cadangan. Altar membaca kalimat-kalimat kaku dari dirinya yang lebih muda dan menutup wajah.
'Kamu sangat buruk merayu,' isyarat Karin.
'Tetapi berhasil.'
'Karena aku pekerja keras.'
Hari terakhir, Jules mengajak mereka ke tepi sungai. Ia bertanya apakah mereka bersedia menjadikannya kontak keluarga dalam dokumen medis lintas negara. Altar setuju, tetapi menambahkan bahwa tanggung jawab utama tetap pada jaringan lokal dan tenaga profesional.
Jules tertawa. 'Kamu membuat persaudaraan seperti tata kelola.'
'Pengalaman keluarga kami tidak menyarankan improvisasi.'
Mereka bertiga mengambil foto. Bukan untuk membuktikan keluarga telah utuh, melainkan mencatat bahwa pada hari itu mereka hadir.
Sebelum berpisah, Jules memberikan kunci kecil dari meja kerja Étienne. Tidak ada kotak rahasia yang cocok dengannya. Mungkin kunci itu milik laci yang sudah lama hilang.
'Buang kalau mau,' kata Jules.
Altar memasukkannya ke saku bersama obeng. Di apartemen, ia menunjukkan kunci tersebut kepada Karin.
'Kita punya terlalu banyak benda tanpa kegunaan,' kata Karin.
'Kamu menyimpan tiket konser.'
'Itu artefak budaya.'
Mereka pulang membawa satu koper lebih ringan daripada ketika datang karena Karin menyumbangkan pakaian yang tidak terpakai. Kota di seberang laut tetap hidup tanpa Étienne dan tanpa versi muda mereka. Altar tidak meninggalkan kesedihan di sana. Ia membawa bagian yang dapat ditanggung, bersama hubungan dengan Jules yang tidak lagi bergantung pada ayah mereka.
Setelah tiba di rumah, Altar memindai buku catatan Étienne. Bagian teknis ditawarkan kepada arsip universitas, sedangkan catatan keluarga tetap tertutup. Jules ikut menentukan batas akses melalui panggilan video. Mereka menemukan beberapa halaman yang berisi alamat lama Hanna. Tidak ada bukti surat pernah dikirim.
Altar sempat ingin meneliti setiap tanggal untuk mengetahui kapan ayahnya hampir kembali. Karin bertanya apa yang akan berubah jika jawabannya ditemukan. Ia tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa arsip dapat menjelaskan tindakan tetapi tidak mengembalikan waktu.
Altar memilih membaca satu kali. Ia mencatat pertanyaan yang masih ada, kemudian menutup map. Kunci kecil tanpa laci diletakkan di kotak pribadi, bukan karena menyimpan jawaban rahasia, melainkan karena benda yang tidak berguna pun kadang menjadi saksi bahwa seseorang pernah mencoba terlalu terlambat.
Di pesawat, Karin tidur dengan kepala di bahunya. Altar melihat peta perjalanan di layar. Garis kecil bergerak menuju rumah, tidak menghapus tempat asalnya dan tidak terikat selamanya pada sana.
Ia tahu arah yang dipilihnya.