Sari datang membawa rancangan festival tahunan yang menghubungkan taman Hanna, Ruang Baca Kota, dan Pusat Ruang Bersama. Nama sementara di halaman depan membuat Karin hampir menumpahkan teh: FESTIVAL ALTARIN.
'Tidak,' kata Karin dan Altar hampir bersamaan, satu dengan suara, satu dengan tangan.
Sari mengangkat kedua telapak. 'Itu bukan usulku. Tim pemasaran bilang gabungan nama kalian mudah diingat.'
'Justru itu masalahnya,' isyarat Altar.
Festival dirancang untuk mempertemukan seni, akses, bacaan, dan teknologi warga. Tidak masuk akal jika puluhan komunitas ditempatkan di bawah nama dua pendiri yang bahkan sudah pensiun. Karin mengerti daya tarik cerita cinta mereka, tetapi cerita yang mudah dijual sering menyempitkan pekerjaan orang lain.
Mereka bersedia hadir dalam rapat penamaan dengan satu syarat: suara mereka tidak menjadi keputusan final. Sari mengundang perwakilan komunitas, pekerja, pengunjung taman, serta warga sekitar.
Usulan bermunculan. Ada yang memilih Festival Ruang Kita, Pekan Tanpa Batas, dan Kota Saling Baca. Seorang anak mengusulkan Hari Semua Boleh Masuk. Nama terakhir mendapat tepuk tangan paling lama, tetapi penerjemah mengingatkan kata semua dapat menjadi janji yang terlalu besar.
Akhirnya mereka memilih Ruang Bertemu. Nama itu tidak menjamin setiap hambatan sudah hilang. Ia menyatakan tindakan yang harus terus dilakukan.
Tim pemasaran menerima setelah melihat hasil pemungutan suara. Mereka masih meminta izin membuat satu sesi tentang perjalanan Karin serta Altar. Pasangan itu setuju jika sesi juga menghadirkan orang-orang yang pernah mengkritik mereka.
Pada hari festival, taman dipenuhi jalur bertekstur sementara, meja buku, panggung rendah, ruang tenang, serta layar teks. Tidak semua berjalan mulus. Hujan membuat sebagian penanda lantai terlepas. Jadwal juru bahasa bentrok. Gerai makanan menaruh kotak di jalur kursi roda.
Relawan mencatat masalah dan memperbaikinya tanpa menunggu Altar. Ia datang sebagai pengunjung dengan gelang kain berwarna hijau. Karin mengenakan kaus BTS lama yang ukurannya kini terlalu longgar.
Sesi tentang mereka diberi judul Dua Orang, Banyak Koreksi. Moderatornya Raka. Ia membuka dengan kisah kegagalan sistem transkripsi, lalu bertanya mengapa publik harus mempercayai pendiri yang pernah salah.
'Tidak harus,' jawab Altar melalui juru bahasa. 'Percayai proses yang memungkinkan kesalahan ditemukan dan keputusan dibatalkan.'
Karin bercerita tentang masa ketika ia mengira mencintai berarti terus mendekat, membantu, dan berbicara bagi orang lain. Ia belajar bahwa kasih tanpa pertanyaan dapat berubah menjadi kuasa.
Seorang penonton bertanya apakah nama Altarin pernah benar-benar ada. Karin menjelaskan itu hanya gabungan nama yang dibuat teman-teman sebagai lelucon pada masa muda. Setelah mereka menikah, media memakainya untuk menjual kisah pasangan unik.
'Kami tidak membenci nama itu,' kata Karin. 'Ia menyimpan masa ketika kami belajar menjadi kami. Tapi nama itu bukan milik semua pekerjaan yang tumbuh di sekitar kami.'
Altar menambahkan, 'Dan Karin bukan akhiran namaku.'
Karin menoleh. 'Kamu juga bukan awal namaku.'
Penonton tertawa. Potongan video percakapan itu tersebar, tetapi akun festival mengunggah rekaman lengkap dengan teks dan penjelasan konteks. Mereka tidak mengubahnya menjadi slogan produk.
Di sudut lain, Sari memimpin lokakarya desain bersama anak-anak. Ia tidak diperkenalkan sebagai bekas anak asuh pasangan terkenal. Keterangan namanya hanya menyebut jabatan serta keahliannya. Bu Wulan duduk di belakang, bangga tanpa mengambil alih ruangan.
Dimas datang seusai giliran kerja. Ia dan Sari telah memutuskan tinggal bersama, belum memutuskan menikah, dan tidak meminta restu formal. Karin memberi mereka dua mug sebagai hadiah rumah. Ia tidak membeli perabot lengkap atau menawarkan uang muka tanpa diminta.
'Mug-nya beda bentuk,' kata Sari.
'Supaya gak tertukar.'
'Kami bisa berbagi.'
'Kalau begitu kembalikan satu.'
Sari memeluknya sambil tertawa.
Menjelang sore, listrik panggung terputus. Pertunjukan musik tidak dapat dilanjutkan dengan sistem teks. Daripada memaksa, panitia memindahkan acara ke aula kecil setelah teknisi memastikan aman. Waktu tunggu diisi kelompok penyair dengan penampilan visual tanpa suara.
Karin serta Altar membantu mengarahkan orang hanya ketika seorang relawan meminta. Setelah aliran kembali, panitia mengumumkan perubahan jadwal dalam suara, teks, dan isyarat. Tidak ada pidato tentang berhasil mengatasi keterbatasan. Mereka hanya mengerjakan masalah.
Di pintu keluar terdapat papan tempat pengunjung menulis kritik. Beberapa memuji, banyak mengeluhkan antrean toilet, harga makanan, dan kurangnya kursi. Anak yang mengusulkan nama tadi menulis bahwa ruang tenang terlalu jauh dari permainan.
Altar membaca seluruh catatan. Kebiasaannya hendak memotret dan mengirim analisis kepada Bima. Ia berhenti, melihat alamat evaluasi sudah tercetak jelas, lalu memasukkan komentarnya sebagai pengunjung biasa.
Karin menyaksikan dan tersenyum. 'Sulit?'
'Sangat.'
Mereka duduk di rumput pada penutupan. Di panggung, nama Ruang Bertemu diproyeksikan di antara daftar panjang organisasi. Nama Karin dan Altar muncul kecil pada kredit sesi, setara pembicara lain.
Karin tidak merasa dihapus. Justru ada kelegaan melihat sesuatu yang mereka bantu mulai tumbuh tanpa perlu membawa wajah mereka di pintu.
Saat pulang, ia menggenggam tangan Altar. Nama gabungan itu tetap menjadi milik cerita pribadi, dipakai sahabat untuk menggoda dan tersimpan dalam kotak lama. Mereka tidak menyerahkannya kepada gedung, festival, atau generasi berikutnya sebagai beban.
Altarin bukan kerajaan. Ia hanya dua orang yang terus belajar kapan harus berdiri bersama dan kapan memberi ruang.
Malam sesudah festival, akun tidak resmi tetap memakai tagar nama mereka. Karin hampir membalas satu per satu, tetapi Sari menyarankan membiarkan penjelasan resmi tersedia tanpa mengawasi seluruh internet. Nama tidak dapat sepenuhnya dikendalikan setelah masuk ingatan orang.
Mereka hanya dapat menolak ketika nama itu dipakai untuk mengambil dana, kuasa, atau kerja orang lain. Untuk lelucon, foto lama, dan sebutan penuh kasih dari sahabat, mereka tidak menyusun peraturan.
Karin menulis nama Altarin pada secarik kertas lalu memasukkannya ke kotak tiket konser. Di bawahnya ia menambahkan tanggal dan kalimat: milik kisah, bukan milik lembaga.
Altar membaca catatan itu. Ia menambahkan satu kata: sementara.
'Kenapa sementara?'
'Karena suatu hari orang bisa melupakan.'
Karin memikirkan hal itu, kemudian tersenyum. Dilupakan tidak selalu berarti gagal. Kadang itu tanda ruang telah cukup kuat untuk berdiri tanpa terus menyebut siapa yang pertama membukakan pintu.