Las Vegas,
Metropolitan Hotel & Casino Royale
Hampir tengah malam ...
"Kami mendapatkannya."
Caesar Rinna mengangguk kecil kepada Elias Contessa. Elias membungkuk sesaat kemudian pergi dari Caesar.
Caesar berjalan-jalan di kasino, melihat dari satu meja ke meja yang lainnya. Ia dapat mendengar suara kartu dikocok, dadu yang saling bertubrukan dan sampanye yang dituangkan oleh para pelayan. Kereta-kereta makanan kecil berlalu lalang dan ditawarkan oleh para pelayan. Para bandar memimpin permainan dengan ahli dan cekatan. Pria-pria yang bermain ditemani oleh perempuan-perempuan cantik yang elegan dan seorang teman yang menyenangkan. Para pengawas berlalu lalang dan memantau keadaan dan waspada terhadap potensi gerombolan penjudi curang.
Saat Caesar memasuki kasino VVIP, ia mendapati tiga pemain. Ia mengenal mereka semua. Roger Huston--seorang penjual obat bius yang bertubuh besar dan berwajah kemerahan di kepala meja. Gary Daniels--seorang tuan muda bergaya flamboyan yang menjadi pewaris bagi kerajaan bisnis otomotif yang menempati sebuah urutan di Fortune 500 serta Livia Wang--anak kedua pasangan terkaya di Asia yang berasal dari Singapura.
Caesar mendekati Livia dan menyentuh bahunya. Livia mendongak pada Caesar dan Caesar memberikan senyum kecil padanya. Caesar kemudian menurunkan pandangannya kepada Piece of Heaven yang melingkar di leher Livia. Itu adalah batu termahal di dunia yang pernah dijual dan berwarna hitam berbentuk segi enam. Livia mendapatkan batu itu dari sebuah lelang di Moskow beberapa bulan yang lalu dan menempatkan batu itu di kalung berhiaskan permata. Wanita ini memakai perhiasan paling mahal di dunia. Caesar suatu saat akan memiliki Piece of Heaven sialan ini dan akan memajangnya di Metropolitan. Sesuatu termahal di dunia pantas menjadi milik Metropolitan dan membuat semua orang terkesan.
Caesar akan mendapatkan batu itu. Ia akan melakukan sebuah penawaran pada Livia. Perawan tua ini pasti akan menerima tawarannya. Tapi itu nanti. Sekarang, Caesar punya satu urusan yang sudah ia lama nantikan.
Pelacur kecil itu.
Siapa namanya? Caesar hanya mengingatnya sebagai Felix. Ia memang Felix Arsen, kata Elias suatu waktu. Dia asalnya berada dibawah naungan Madame Croix--g***o terkenal asal Perancis yang tahun lalu menyediakan p*****r bagi Gubernur California dan berita itu menjadi kehebohan berskala nasional-- untuk kemudian kabur. Tapi, Madame Croix tak menyangka bahwa gadis pembangkang yang satu itu masih berkeliaran di Las Vegas. Dan tololnya, gadis itu telah merampok Caesar.
Caesar Rinna.
Jika gadis itu tidak t***l, dia pasti ingin mati. Ia lebih mirip kriminal daripada seorang p*****r. Tapi tetap saja, Madame Croix menganggapnya p*****r. p*****r tak tahu terima kasih. Jadi, mungkin selama ini Felix berkeliaran di Las Vegas, merayu para p****************g dengan kecantikannya untuk kemudian merampok mereka. Itu cerdas, tapi berbahaya. Dan di suatu malam Felix tertimpa sial.
Ia merampok lelaki yang salah. Ia tak seharusnya melakukan itu. Jika saja ia melayani Caesar, Caesar akan memberikan lebih daripada seribu dolar yang Felix ambil dari dompetnya. Tapi saat itu, Felix menodongkan pistol padanya. Perempuan sialan itu pasti tahu cara menggunakan senjata karena ia mengokang tanpa keberatan.
Sayang, Caesar terlalu terangsang untuk bisa melawan.
"Nyawamu atau uangmu?" Felix tersenyum.
"Uangku." Caesar melempar dompetnya ke lantai dan Felix tetap menodongkan Revolver itu padanya ketika ia mengambil dompet Caesar. Ia mengambil uang di dompet itu dan melemparkan dompet Caesar ke ranjang.
"Maaf dan terima kasih." kata Felix tersenyum.
Begitu saja dan Felix pergi. Caesar tersenyum kecil dan mengukir ingatan wajah perempuan itu di kepalanya.
Caesar membuka pintu suite yang berada di lantai dua puluh dan menyeringai saat menemukan Felix duduk di kursi dengan kedua tangan dan kakinya diikat. Ruang tengah suite itu tampak luas, mewah dan bernuansa kemerahan mempesona. Caesar pergi ke belakang meja bar dan menuangkan anggur untuknya. Ia berdecak dan menghampiri Felix yang memandang malas padanya.
"Aku masih mengingatmu." kata Felix berdecak. "Kau pasti dendam padaku karena aku merampokmu."
"Tentu saja," jawab Caesar tertawa kecil. Ia berdiri di hadapan Felix dengan menjulang. "Aku sangat ingin meniduri seseorang malam itu. Tapi, aku malah ditimpa kesialan. Seorang p*****r merampokku. Apakah malam ini kau akan melakukan hal yang sama pada lelaki lainnya?"
"Tidak." jawab Felix terdengar tersinggung. "Aku berhenti. Aku sedang makan malam di rumah saat anak buahmu menculikku."
"Mereka berlaku lembut padamu," kata Caesar. "Biasanya mereka menghajar dulu lalu bertanya kemudian."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Felix menghela napas. "Kau tampaknya cukup kaya karena bisa menginap disini dan kau dendam padaku karena seribu dolar yang kuambil dari dompetmu?"
"Kau mengambil uangku." kata Caesar muram. "Itu bukan masalah. Tapi dalam aturanku, seseorang mendapat uang dariku saat mereka telah melakukan sesuatu untukku."
"Sekarang kau ingin meniduriku?"
Caesar menurunkan pandangannya dan menimbang-nimbang. Felix memang sangat cantik, kecil dan berkulit cerah. Ia masih menggairahkan, bahkan ketika ia hanya memakai celana denim selutut dan kaus hitam yang kasual. Ia bertelanjang kaki dan rambut kemerahannya diikat dengan gaya malas. Tuhan, saat ini Felix terlihat seperti wanita dewasa muda pada umumnya. Ia memang begitu memikat. Tapi, berapa usianya sebenarnya? Wajahnya yang kecil dan lucu akan membuat semua orang salah paham.
Tapi di malam perampokan t***l itu terjadi, Felix adalah setengah dewi. Ia memakai gaun satin pendek berwarna hijau tanpa mengenakan apapun lagi. Payudaranya kecil dan kedua kakinya langsing. Rambutnya digerai dan bergelombang. Ia memakai riasan tipis dan pewarna bibir berwarna nude yang mempesona.
"Hm, mungkin." kata Caesar. Ia memang mulai terangsang saat ini. "Tapi, pertama-tama, apa kau pandai dengan mulutmu?"
"Apa?" tanya Felix bingung.
"Jangan berlagak bingung, dasar kriminal," kata Caesar sinis. Ia membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah menegang. p***s itu panjang dan besar dan Felix merasa kasihan pada v****a siapa saja yang sudah dimasuki oleh p***s besar milik Caesar. Apa bahkan ada perusahaan yang menciptakan kondom untuk p***s sebesar ini? Felix terkejut dan memalingkan wajahnya yang bersemburat merah. "Kenapa kau malu? Bukankah seharusnya kau pandai dalam hal ini?"
"Aku tak pernah melakukan ini." kata Felix. Ia malu dan geram serta anehnya, merasa terhina.
"Oh, aku lupa, kau kan perampok yang menyamar menjadi pelacur." kata Caesar dengan nada menyindir. "Bukan p*****r sungguhan."
"Kau dendam sekali padaku, ya?" Felix berdecak.
Caesar menuangkan anggur ke penisnya. "Ayo, tidakah menurutmu anggur ini akan membantu?"
"Tidak!" Felix menolak. "Aku tidak mau."
"Ayolah, jangan membuatku memaksamu. Buka mulutmu, dasar kau tidak tahu malu."
"Aku tidak bisa melakukannya!" teriak Felix.
Caesar berdecak dan berhasrat sekali untuk menampar Felix, namun ia luluh oleh gairahnya yang menggebu-gebu.
"Jangan khawatir, buka saja mulutmu."
"Tapi setelah ini lepaskan aku!"
"Apa? Kau i***t? Menjilati penisku bahkan tak seharusnya berharga seribu dolar. Tolol."
"Baiklah, aku akan membayar semuanya." kata Felix. Ia menghela napas. "Tapi, lepaskan aku."
"Hm."
"Lepaskan aku!"
"Ya, ya, dasar cerewet."
Felix membuka mulutnya dengan ragu kemudian Caesar mendorong kepala Felix hingga penisnya masuk seluruhnya ke mulutnya yang kecil. Caesar tertawa dan menyesap anggurnya.
"Ya ampun, jangan gunakan mulutmu, bodoh." kata Caesar dengan tak percaya saat Felix mulai bekerja. "Gunakan lidahmu. Ya, begitu. Jika sampai mengenai gigimu, awas saja."
Felix sungguh geram, namun ia sadar bahwa ini satu-satunya jalan agar b******k ini melepaskannya. Ia dengan perasaan terhina menjilat ujung p***s Caesar dengan lidahnya. Ia tak pernah melakukan ini dan tak pernah membayangkan akan melakukannya. Ia hanya melakukan sesuai apa yang Caesar katakan padanya. Diam-diam, Felix ingin menggigit keras p***s Caesar hingga putus. Tapi, ketika ia mendongak, kedua mata mereka bertemu dan Caesar tersenyum kecil padanya. Felix menurunkan pandangannya dan merasakan rambutnya diremas dengan lembut.
"Ya, begitu ..." kata Caesar. "Wah, ternyata kau tak sulit diajari, ya? Oh sial ..."
Penis itu menyemburkan sesuatu dan membuat Felix terkejut. Caesar tertawa dan menarik penisnya kemudian memakai kembali celananya.
"Telan." kata Caesar.
Felix menggeleng, namun menyemburkan cairan Caesar ke karpet indah dibawahnya juga seperti bukan ide bagus. Malahan, ia ingin menyemburkan cairan itu ke wajah Caesar, sekalian meludahinya.
"Telan." kata Caesar, kali ini dengan dingin.
Felix memuntahkan cairan itu ke karpet dengan menyesal kemudian terbatuk-batuk.
Caesar berdecak melihat kelakuan amatir itu, "Padahal itu sehat untukmu."
"Lepaskan aku." kata Felix. Ia bergerak-gerak, "Aku sudah menurutimu."
"Apa? Itu bukan perjanjiannya." kata Caesar marah.
"Kalau begitu cepat lakukan apa yang kau inginkan. Ini mulai menyakitkan."
"Persetan denganmu, aku tak akan menerima perintah darimu." kata Caesar kesal. "Aku akan menyetubuhimu kapanpun aku mau."
"Apa? Tidak! Itu bukan perjanjiannya."
Namun, Caesar telah keluar dari kamar, meninggalkan Felix yang berteriak-teriak. Malam itu Felix tahu, ia berurusan dengan orang yang salah.